MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Para petani yang sedang menanam semangka, sepertinya harus gigit jari. Saat memasuki masa panen, harga semangka malah anjlok, kemarin (3/11). Saat ini, harga di tingkat petani hanya laku Rp 2.000 per kilogram. Padahal, harga normal Rp 4.100 per kilogramnya.
Harga semangka yang terjun bebas ini, ditengarai cuaca yang akhir-akhir ini sering turun hujan. Selain itu, memasuki panen raya, stok semangka di pasaran membludak. “Harga semangka hancur, karena musim hujan, stok juga banyak, pembeli tidak ada,” ujar petani semangka Meseri, 55, asal Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.
Menurut Miseri, musim panen buah semangka kali ini berbarengan dengan masa panen semangka lain di Provinsi Lampung, dan beberapa daerah di Sumatera. Makanya, semangka Banyuwangi yang biasanya bisa dikirim ke Jakarta dan kota lain, kali ini tidak diterima. “Berbarengan dengan panen di kota lain,” terangnya.
Untuk harga semangka, Meseri menyebut masih fluktuatif. Ia tidak bisa memastikan bisa bertahan atau malah akan turun lagi. Harga semangka, itu normalnya Rp 4.100 per kilogram, dan sekarang hanya Rp 2.000 per kilogramnya. “Ini masih petik pertama, kecenderungannya turun pada petik berikutnya, harga bisa turun lagi sampai Rp 1.500 per kilogramnya,” katanya.
Harga semangka yang sudah anjlok ini, terang dia, diperparah dengan naiknya harga pupuk dan pestisida nonsubsidi. Saat ini harga pupuk menyentuh Rp 650 ribu per sak. Padahal sebelumnya hanya Rp 400 ribu per sak. “Ini bukan naik lagi, tapi ganti harga,” cetusnya.
Meseri berharap harga jual semangka segera merangkak naik. Mayoritas petani semangka di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, dalam mengelola lahannya ini menggunakan modal dari pinjaman KUR. “Kalau harga masih seperti ini, kami tidak tahu bagaimana cara mencicil KUR,” pungkasnya.
Editor : Rahman Bayu Saksono