BANYUWANGI – Kafe dengan konsep industrial marak di Banyuwangi. Salah satu kafe yang kini sedang digandrungi para milenial adalah Honffle Cafe di Jalan Kepiting, Kelurahan Tukangkayu atau sebelah utara lampu merah MIN Sobo.
Kafe yang berada persis di tepi jalan itu tampak bersih dan sedap dipandang mata. Juga tampak asri dan hijau dengan berbagai jenis tanaman.
Sepintas tak ubahnya ruang terbuka hijau (RTH) yang juga dilengkapi dengan tempat duduk dan meja. ”Memang 70 persen kami buat outdoor sementara sisanya 30 persen indoor,” ungkap owner Honffle Cafe Hilmi Nasri.
Pada tanah berukuran 22 meter x 9 meter itu, dia sengaja memberikan ruang yang cukup dominan di luar ruangan ketimbang di dalam ruangan. Itu sejalan dengan kondisi di saat pandemi Covid-19 yang sebagian besar memilih nongkrong di luar ruangan ketimbang di dalam ruangan. Jika di luar ruangan, kondisi sirkulasi udara bebas dan bisa langsung terpapar sinar matahari langsung.
Pemuda berusia 23 tahun ini mengaku, ide awal membuat kafe industrial tropis tersebut terinspirasi dari tempat nongkrong di sejumlah kota seperti di Malang, Bandung, dan Jakarta yang sudah banyak mengembangkan kafe dengan konsep industrial.
Konsep kafe industrial tropis itu merupakan ide pribadinya dari hasil berpetualang di berbagai kota. Yakni cukup dengan amati, tiru modifikasi, dan aplikasikan hingga akhirnya terwujud kafe industrial yang kekinian dengan tak meninggalkan kesan hijau atau tanaman yang dapat memberikan nuansa sejuk, dingin, dan asri. ”Selepas lulus kuliah, kemudian izin sama orang tua dan akhirnya di-support juga oleh kakak dan keluarga akhirnya jadi seperti ini,” ujar alumnus Fakultas Manajemen Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang itu.
Karena sasaran kafe adalah generasi milenial, lanjut Hilmi, sajian menu yang ditawarkan juga sangat berbeda dengan kafe-kafe dan tongkrongan lainnya di Banyuwangi. Untuk menunya yakni croffle, gabungan dari nama croissant dan waffle. Croffle ini sudah populer di street food Korea Selatan pada pertengahan tahun 2020 lalu.
Croffle merupakan semacam camilan atau kudapan berbahan dasar adonan croissant yang dimasak dengan menggunakan cetakan waffle. ”Khusus adonan croffle ini yang olah saya sendiri,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Meski kelihatan sederhana, dalam prosesnya adonan croissant ini perlu disimpan ke dalam lemari es karena sensitif terhadap temperatur. Hal ini agar adonan ragi tidak cepat aktif, serta butter tidak cepat leleh. Cita rasa croffle yang gurih, manis, dan renyah turut digemari masyarakat Indonesia bisa ditemukan di Banyuwangi.
Boleh jadi, dia adalah perintis kali pertama croffle di Kabupaten Ujung Timur Pulau Jawa ini. Tidak heran, meski baru soft opening, Honffle Cafe ini sudah mulai dipadati kaum milenial yang rela antre panjang untuk mendapatkan croffle. ”Sementara ini masih soft opening, kami buka sore hari mulai pukul 15.00,” pungkas adik kandung Ketua HIPMI Banyuwangi Dede Abdul Ghany itu.
Editor : Ali Sodiqin