SONGGON – Memasuki musim panen durian, Likin Lumbung Duren menyiapkan kualitas durian terbaiknya. Panen kali ini berbeda dengan panen biasanya, produktivitas pohon durian menurun drastis. Cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu faktor turunnya produksi durian.
Pemilik Likin Lumbung Duren yang berlokasi di Dusun Pakis, Songgon, Solikin mengatakan, tidak hanya di Banyuwangi produksi durian menurun. Namun, di seluruh daerah mengalami kejadian yang sama. Bahkan, banyak petani durian yang mengalami gagal panen.
Beruntung, pohon durian milik Solikin masih dapat berbuah, meski jumlahnya menurun. ”Tidak bisa menyalahkan alam, tapi bagaimana cara kita merawatnya bukan hanya dieksploitasi. Saat ini jumlah produksi hanya mencapai 30 persen,” ujar pria yang akrab dipanggil Likin itu.
Selama satu hari biasanya terdapat 1.000–1.500 buah yang jatuh dari pohon durian. Gara-gara cuaca buruk, kini hanya mampu menghasilkan 200–300 buah saja. Hal itu disebabkan saat masa pemekaran bunga, cuaca dingin dan hujan turun selama beberapa hari. Sehingga bunga yang muncul menjadi rontok.
Saat ini buah durian mulai berjatuhan dari pohonnya. Namun, hanya tersedia beberapa buah lokal saja. Likin mengungkapkan, dalam waktu 1–2 minggu ke depan semua varietas durian unggulan yang dimiliki akan tersedia. Varietas durian unggulan yang dimilikinya yaitu si Merah, si Milk, durian pelangi, durian oranye, durian mentega, dan beberapa jenis durian lokal lainnya. ”Panen kali ini kemungkinan sampai akhir Oktober, setelah itu akan sulit mendapatkan buah durian. Namun, kami tetap berupaya menyediakan meskipun dalam jumlah sedikit,” terang Likin.
Si Merah merupakan durian merah khas Banyuwangi yang mempunyai keunikan daging buah berwarna merah. Tidak hanya itu, durian merah milik Likin mempunyai aroma dan rasa yang harum. Hanya terdapat 60 buah si Merah pada masa panen kali ini. Tak kalah dengan si Merah, si Milk adalah durian lokal berukuran kecil dengan daging tebal dan biji yang kecil, serta rasanya manis seperti susu.
Hampir 30 tahun Likin menggeluti dunia durian. Dia memiliki 40 pohon durian dengan usia mencapai ratusan tahun. Likin selalu mengedepankan kualitas durian yang disajikan agar pengunjung yang datang tidak kecewa. ”Mereka datang dari luar kota, jauh-jauh ke sini untuk menikmati rasa durian Banyuwangi. Jadi, kami selalu berikan kualitas terbaik,” kata pria berusia 49 tahun itu.
Likin Lumbung Duren menyediakan fasilitas kebun durian yang dapat dinikmati pengunjung. Mereka bisa menikmati durian di bawah pohonnya langsung, ditemani suasana alam yang sejuk. Tersedia kolam yang dialiri sumber mata air dari tanah dan beberapa gubuk tempat bersantai pengunjung.
Di tengah kondisi pandemi Covid-19, kebun durian yang mengusung konsep menyatu dengan alam itu dapat menampung sebanyak 30 orang. Pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun untuk memasuki kebun durian itu. ”Sengaja kami gratiskan, yang terpenting pengunjung tidak mengotori alam kami, sampah dibuang pada tempatnya,” paparnya.
Selama pandemi, kebun durian milik Likin sempat tutup, namun dia tetap melakukan pengiriman ke luar kota. Permintaan pengiriman durian datang dari hampir seluruh kota di Indonesia. Kota yang sering menjadi tujuan yakni Surabaya, Malang, Jakarta, dan Bandung. ”Kita tidak boleh pasrah dan menyerah dengan kondisi ini, bagaimanapun caranya kita harus tetap melangkah,” pungkas bapak dua anak itu. (mg2)
Editor : Ali Sodiqin