KALIPURO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Penerapan tiket online di Pelabuhan ASDP Ketapang tampaknya tak serta-merta mempermudah pengguna jasa. Pasalnya, penerapan tiket tersebut menuai protes lantaran dianggap lebih mahal daripada tiket go show (pembelian langsung).
Beberapa calon penumpang yang diwawancarai Jawa Pos Radar Banyuwangi mengeluhkan harga tambahan yang harus dibayarkan ketika membeli tiket online. Rizki, 29, salah satunya. Pria asal Kelurahan Karangrejo itu mengaku harus membayar tambahan Rp 2.500 ketike memilih pembayaran online menggunakan fasilitas M-Banking. ”Jadi harganya tidak sesuai yang tertera. Untuk pejalan kaki ada tambahan mulai Rp 2.000 sampai Rp 3.000,” jelasnya.
Keluhan yang sama juga diutarakan Misgiman, 57, salah seorang sopir truk asal Mendoyo, Jembrana. Dia mengaku harus membayar Rp 4.000 lebih mahal dari harga tiket yang tertera saat menggunakan jasa tiket online di buffer zone Terminal Sritanjung. ”Saya ini tidak punya Android, jadi minta bantuan. Tapi harganya naik Rp 4.000. Padahal dari kantor jatahnya sesuai dengan tarif yang ada,” ujarnya.
Kenaikan ini pun seolah menjadi perhatian khusus. Karena sebelumnya GAPASDAP sempat mengajukan kenaikan harga tiket penyeberangan sebesar 14 persen. Angka tersebut jika dirata-rata hanya menaikan harga tiket antara Rp 900 sampai Rp 1.500.
Sementara itu, terkait keluhan tersebut, Manajer Usaha PT ASDP Ketapang Heru Wahono menjelaskan jika harga tambahan tersebut ditentukan aplikasi. Termasuk oleh pihak bank atau pihak ketiga yang menambahkan jasa admin ke dalam pembayaran tiket online. ”Kalau di luar itu sudah mekanisme pasar. Ferizy (nama aplikasi pembayaran) sendiri juga memasang tarif. Tapi kalau yang kita terima tetap sesuai SK Dirjen,” pungkasnya.(fre/afi/c1)
Editor : AF Ichsan Rasyid