TEGALDLIMO - Ternak sapi perah yang selalu identik dengan daerah dataran tinggi atau berhawa dingin, ternyata tidak selalu benar. Buktinya, puluhan peternak di Banyuwangi mampu mengembangkan sapi perahnya di dataran rendah seperti di Dusun Ringinsari, Desa Ringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, kemarin (21/5).
Salah satu peternak yang sukses mengembangkan sapi perah di dataran rendah itu adalah Broyono, 64, warga Dusun Ringinsari, Desa Ringinpitu. Bapak tiga anak itu berhasil mengembangkan usaha sapi perah sejak tahun 2013. “Awalnya hanya punya tiga sapi perah, kini berkembang jadi 25 ekor,” katanya
Untuk bisa mengembangkan sapi perah itu, Broyono sering bertukar pengalaman dengan sesama peternak lainnya di Banyuwangi melalui wadah koperasi. Bahkan, dari 25 ekor sapi miliknya itu, 12 ekor di antaranya sudah diansuransikan. “Satu ekor sapi, setahun bayarnya hanya Rp 40 ribu,” jelasnya.
Dari 25 ekor sapi itu yang produktif dengan bisa diambil susunya hanya 12 ekor saja. Dari jumlah sapi itu, dalam sehari mampu menghasilkan sedikitnya 120 liter susu segar. “Dari 120 liter itu separonya disetor ke koperasi untuk memenuhi kiriman ke pabrik,” katanya.
Meski berada di dataran rendah, susu yang dihasilkan peternak sapi perah asal Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo masuk grade satu dan dua. Kriterianya adalah kadar lemak di atas 12 persen, dan kandungan bakterinya di bawah satu juta per mililiter. Penjualan susu segar ke Nestle sesuai dengan grade yang ditentukan oleh perusahaan, yakni grade satu sampai grade empat dan harganya mencapai Rp 5.200/ liter. “Kalau dijual langsung ke konsumen lebih mahal, bisa mencapai Rp 10 ribu per liter,” terangnya
Menurut Beroyono beternak di daerah yang berhawa relatif panas maupun di dataran tinggi tidak berbeda jauh. Karena di daerah yang bersuhu panas juga masih bisa dijalankan. “Kuncinya disiplin, ulet, dan menjaga asupan makanan maupun nutrisi yang diberikan ke sapi perah,” imbuhnya.
Untuk meningkatkan produksi susu sapi. Setiap harinya satu ekor sapi perah membutuhkan makanan sebanyak 30-40 kilogram. Dia juga tidak terlalu dipusingkan dengan pakan karena sudah disiapkan dengan menanam rumput gajah dan tanaman jagung. “Kadang kalau ada limbah rempesan batang buah naga juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak,” bebernya.
Beternak sapi perah memiliki keuntungan ekonomis yang lebih tinggi dari pada sapi potong. Harga sapi perah itu terus naik. Kini harga sapi perah bunting mencapai Rp 23 juta per ekor. Padahal beberapa tahun lalu hanya Rp 10 juta per ekor. “Jadi untung dua kali, dapat susu yang diperah dan untung sapi untuk dipotong,” tandasnya.
Editor : Rahman Bayu Saksono