JawaPos.com - PT. Bumi Suksesindo (BSI) selaku pengelola tambang emas di Gunung Tumpang Pitu (tambang tujuh bukit) Kecamatan Pesanggaran, mengajak sejumlah wartawan untuk melihat proses penambangan secara langsung dilokas, Sabtu (14/4/2018).
Menurut Teuku Mufizar Mahmud, Corporate Communications Manager, PT. BSI, wartawan diajak melihat dari dekat proses penambangan untuk tujuan agar melihat langsung proses penambangan, bukan sekedar mendengarkan paparan dan melihat visual saja.
"Jadi wartawan itu biar tahu, bagaimana proses penambangannya, apakah limbahnya itu merusak atau tidak, apakah limbah itu masuk ke laut apa tidak, apa fungsi 5 waduk itu, sampai proses reklamasi lokasi bekas penambangan tersebut,"papar Muvi Mufizar Mahmud.
Selain itu, Kata James Francis, General Manager Operations, PT. BSI itu, perusahaan tambang mineral Indonesia berkelas dunia, Merdeka Copper Gold dimiliki oleh pemegang saham besar yang bereputasi baik (prominent shareholders), yaitu PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, PT Provident Capital Indonesia dan Bapak Garibaldi Thohir.
"Tiga pemegang saham utama Merdeka memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam berhasil mengidentifikasi, membangun dan mengoperasikan beberapa perusahaan publik di Indonesia Produksi Tambang Tujuh Bukit. Kegiatan penambangan dimulai pada Desember 2016 setelah pekerjaan prapenambangan diselesaikan, termasuk pembangunan akses jalan kemulut tambang," papar James Francis yang di dampingi Mufizar Mahmud sebagai juru alih bahasa.
Bijih ore, kata James Francis, akan ditambang dari lima mulut tambang, semala masa usia tambang 9 tahun pertama dengan perkiraan menghasilkan 100.000 oz emas dan 300.000 oz perak per tahun.
"BSI melakukan produksi emas pertama pada Maret 2017 dan berhasil mencapai kapasitas produksi penuh pada Kuartal III 2017. Selama tahun 2017, BSI berhasil memproduksi emas sebanyak 142.468 oz," jelas General Manager Operation ini.
Lebih lanjut Ia mengatakan, Pada tahun 2018 produksi emas Tambang Tumpang Pitu diperkirakan sebesar 155.000 -170.000 oz emas dengan biaya operasional berkisar US$ 550- US$ 650/oz.
Tambang BSI memiliki rencana usia tambang (life of mine/ LOM) selama 9 tahun dengan total produksi 1,0 juta oz emas dan 2,8 juta oz perak, termasuk logam yang dihasilkan sejak tahun 2017. Sedangkan Cadangan Mineral Tujuh Bukit Porfiri diestimasikan diperkirakan sebesar 1,9 milliar ton pada 0,45% tembaga dan 0,45g/t emas mengandung kira-kira 8,7 juta ton logam tembaga dan 28 juta oz emas.
"Proses Tambang PT BSI berhasil mengelola tambang dan memproduksi emas di Tambang Tujuh Bukit secara efisien melalui penggunaan teknologi heap leach (pelindihan) yang sangat memperhatikan aspek lingkungan," katanya.
Sedangkan, Agus Purwanto, Chief Geologist menjelaskan dalam sistem heap leach batuan yang mengandung mineral ditumpuk di suatu tempat khusus. Disebut khusus karena tempat ini dibangun dengan alas plastik HDPE. Yang menyerupai sebuah wadah (containment). Tempat ini dibangun dengan lapisan clay dan HDPE Liner serta dipasang alat monitor untuk menjaga dan memastikan agar cairan tersebut tidak mencemari lingkungan.
"Sistem penambangan dengan teknologi heap leach menggunakan sianida untuk melarutkan mineral tambang. Setelah dicampur dengan air, sianida ini ditempatkan di areal khusus dan akan digunakan secara terus menerus dengan sistem pengawasan secara ketat," papar Agus Purwanto.
Lebih lanjut, Agus Purwanto mengatakan, dengan sistem heap leach, PT BSI tidak menghasilkan tailings sebagaimana yang dilakukan di beberapa tambang emas lain di Indonesia. Perlu dipahami bahwa Tailings dihasilkan oleh pengolahan yang menggunakan sistim SAG (Semi Autogenous Grinding) Mill. Melalui pemanfaatan teknologi yang tepat dan kontrol kinerja yang baik, produksi emas di Tambang Tumpang Pitu sangat efisien. Selama 2017 biaya produksi sebesar US$ 425/oz.
"PT BSI juga mampu melakukan efisiensi produksi berkat jarak pengangkutan bahan baku emas yang lebih dekat, serta konsumsi sianida dan konsumsi listrik yang lebih rendah dari perkiraan," pungkasnya.