Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Oesing Craft Langsung Dapat Buyer Belanda

Ali Sodiqin • Selasa, 17 Oktober 2017 | 13:05 WIB
oesing-craft-langsung-dapat-buyer-belanda
oesing-craft-langsung-dapat-buyer-belanda

PAMERAN dagang terbesar di Indonesia Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Banten pada 11 hingga 15 Oktober 2017 menjadi tempat pengusaha lokal Banyuwangi menunjukkan kualitas produk UKM-nya. Pameran ini dibuka langsung oleh Presiden RI Joko Widodo.

Salah satu peserta UKM yang hadir di acara TEI tersebut adalah owner Oesing Craft Bambang Haryono. Dia menceritakan, TEI adalah ajang pameran berorientasi pasar ekspor.  Produk-produk potensial dalam negeri yang memiliki nilai jual dan memiliki keunikan akan mendapatkan langsung buyer dari internasional. ”Dan ini saya buktikan langsung melalui olahan usaha kerajinan tangan (handicraft), kayu pohon asam olahannya langsung mendapatkan buyer dari Belanda,” kata pemilik Pelangi Sari grup itu.

Haryono menjelaskan, ajang TEI 2017 ini menampilkan lebih dari 300 produk dan jasa Indonesia yang dipamerkan dan dibagi dalam 7 zona produk potensial dan unggulan nasional. Zona-zona tersebut adalah Furniture and Furnishing; Fashion, Craft and Creative Products; Premium Products; Strategic Industries; Manufacturing Products and Services; Food and Beverages; dan Province Premium Products.

”Pohon asam selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi tinggi, alias cuma untuk arang. Namun siapa sangka, kayu pohon asam bisa disulap menjadi barang yang berguna dan menghasilkan uang,” ujar pemilik rest area Istana Gandrung ini.

Bambang menambahkan, saat ini hasil handicraft-nya banyak diekspor di pasar Eropa, Amerika, Swiss, Belanda, Jerman, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Bahkan, Oesing Craft sudah pernah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk membuat kerajinan kayu.

”Berapa pun yang kita produksi, mereka siap menerima. Bahkan untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minimum jumlah,” kata Bambang yang pernah meraih penghargaan dari Unesco Award of Excellence for Handicraft pada 2012 lalu wilayah Asia Tenggara.

Editor : Ali Sodiqin