RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena langit langka diperkirakan akan menghiasi awal April 2026 ketika komet C/2026 A1 (MAPS) melintas sangat dekat dengan Matahari. Jika berhasil bertahan dari panas ekstrem, komet ini berpotensi menjadi pemandangan spektakuler yang dijuluki “Komet Paskah”.
Peristiwa astronomi tersebut diperkirakan berlangsung antara 2 hingga 6 April 2026, saat komet mencapai titik terdekatnya dengan Matahari atau perihelion pada 4 April. Pada fase ini, komet diperkirakan menampilkan pertunjukan dramatis bagi para pengamat langit di seluruh dunia.
Komet MAPS pertama kali ditemukan pada 13 Januari 2026 melalui teknik fotografi di observatorium AMACS1, San Pedro de Atacama, Chile. Penemuan ini dilakukan oleh empat astronom asal Prancis, yakni Alain Maury, Georges Attard, Daniel Parrott, dan Florian Signoret, yang tergabung dalam program pencarian asteroid dekat Bumi.
Nama MAPS sendiri berasal dari inisial nama belakang para penemunya. Saat pertama kali teridentifikasi, komet tersebut berada sekitar 308 juta kilometer dari Matahari dan tampak sangat redup.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, kecerlangannya meningkat drastis. Observasi menunjukkan bahwa tingkat kecerahan komet meningkat hingga sekitar 600 kali lipat, sehingga kini sudah dapat diamati menggunakan teleskop amatir.
Daya tarik utama komet ini terletak pada klasifikasinya sebagai anggota kelompok Kreutz sungrazer, yakni komet yang melintas sangat dekat dengan Matahari. Kelompok ini terkenal karena menghasilkan sejumlah komet paling terang dalam sejarah astronomi.
Pada puncak lintasannya, Komet MAPS diperkirakan akan melintas hanya sekitar 159.300 kilometer dari fotosfer Matahari, wilayah yang dikelilingi korona dengan suhu dapat mencapai sekitar 1,1 juta derajat Celsius.
Kondisi ekstrem tersebut membuat para astronom belum dapat memastikan apakah komet ini akan bertahan atau hancur.
“Jika komet mampu melaju sangat cepat, lebih dari 1,6 juta kilometer per jam, ada peluang ia dapat selamat dari pertemuan berbahaya dengan Matahari,” kata astronom Jepang Seiichi Yoshida dalam perkiraannya mengenai lintasan komet tersebut.
Apabila berhasil melewati fase kritis itu, Komet MAPS berpotensi muncul kembali di langit pagi dengan tingkat kecerahan yang bahkan dapat menyamai planet Venus, salah satu objek paling terang di langit malam.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa mengamati komet yang berada sangat dekat dengan piringan Matahari secara langsung sangat berbahaya. Paparan cahaya Matahari dapat menyebabkan kerusakan retina permanen tanpa menimbulkan rasa sakit.
Kacamata hitam, teleskop biasa, maupun binokular tidak cukup aman untuk digunakan dalam pengamatan semacam ini.
Sebagai alternatif, publik dapat menyaksikan fenomena tersebut melalui siaran citra dari wahana antariksa Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) milik NASA dan ESA. Komet MAPS diperkirakan mulai memasuki bidang pandang kamera LASCO C3 pada 2 April pukul 19.00 WIB hingga 6 April pukul 12.00 WIB.
Dalam rentang waktu itu, komet akan terlihat melintas di belakang Matahari sebelum kemudian meluncur ke depan dalam lintasan melengkung yang tajam dan spektakuler.
Editor : Lugas Rumpakaadi