Mitos Es Batu Bening: Benarkah Jaminan Air Matang?

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:57 WIB
Seorang perempuan memeriksa tampilan fisik es batu bening di sebuah kedai minuman. (Ilustrasi Gemini AI)
Seorang perempuan memeriksa tampilan fisik es batu bening di sebuah kedai minuman. (Ilustrasi Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Banyak masyarakat masih meyakini bahwa es batu yang jernih berasal dari air matang, sementara es berwarna keruh dianggap berasal dari air mentah.

Anggapan ini ternyata tidak sepenuhnya benar karena tingkat kejernihan es batu lebih dipengaruhi oleh proses fisika pembekuan.

Secara ilmiah, air yang direbus hingga mendidih memang melepaskan gas terlarut seperti oksigen dan nitrogen.

Ketika dibekukan secara perlahan, kristal es akan terbentuk padat tanpa gelembung udara, sehingga menghasilkan tampilan bening.

Namun, proses ini berbeda dengan skala industri.

"Sering banget dibilangin kalo beli es usahain cari yg bening, padahal kalo kataku sih yg penting ga merubah rasa aja lah," ujar Cinta, seorang warga.

Teknologi mesin es modern menggunakan metode pembekuan searah.

Air dialirkan secara konstan di atas cetakan dingin sehingga mineral dan gelembung udara terbuang otomatis.

Inilah alasan mengapa pabrik bisa menghasilkan es kristal yang sangat jernih meski tanpa proses perebusan air baku.

BPOM menegaskan bahwa tampilan fisik tidak bisa menjadi satu-satunya indikator keamanan pangan.

Es batu yang tampak sangat bening bisa saja mengandung bakteri patogen berbahaya seperti E. coli atau Salmonella jika proses penyimpanan dan wadah cetakannya tidak higienis.

Para ahli menekankan agar konsumen tidak hanya mengandalkan warna fisik es saat membeli jajanan.

Pastikan selalu memperhatikan kebersihan tempat makan dan wadah penyimpanan es demi menjaga kesehatan sistem pencernaan Anda.

Editor : Lugas Rumpakaadi
tips kesehatan mitos kesehatan keamanan pangan es batu bpom