Kemarau Bertandang

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 04:30 WIB
Puisi oleh Salman Al Farisi
Puisi oleh Salman Al Farisi

RADAR BANYUWANGI - Hampir memasuki tujuh bulan, hujan tidak juga kunjung datang. Tidak pernah agaknya kemarau bertandang selama ini. Biasanya hanya empat hingga lima bulan. Tetapi, tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Suara katrol timba yang kering berdenting nyaring, beradu dengan dasar sumur yang cuma menyisakan batu dan lumpur keras. Pak Karsa menghela napas, menarik tali nilon itu tanpa hasil. Sudah seminggu ini sumur belakang rumahnya menyerah total.

Ia berjalan ke teras, duduk di bangku kayu yang salah satu kakinya sudah diganjal batu. Di depannya, jalanan desa berdebu tebal. Setiap ada sepeda motor lewat, debu cokelat melayang cukup lama di udara kering sebelum akhirnya hinggap di daun-daun pisang yang terkulai.

"Dapat airnya, Kang?" Sumi muncul dari balik pintu, memegang panci aluminium kecil.

"Tinggal lumpur," sahut Pak Karsa singkat. Ia mengambil bungkus tembakau di meja, memilah lembaran yang paling kering, lalu mulai melintingnya. "Paling nanti sore nyoba ke sumur dekat kali mati. Siapa tahu masih ada rembesan."

Sumi tidak menjawab. Wanita itu cuma melihat ke dalam pancinya yang kosong, lalu duduk di ambang pintu. Kebiasaan mereka beberapa bulan terakhir memang begini: irit bicara, seolah menghemat tenaga agar tidak gampang haus.

Di luar, panas jam dua siang seperti menekan dada. Biasanya, bulan-bulan begini anak-anak kecil sudah sibuk main layangan di pematang sawah. Sekarang jangankan main, sawah saja sudah berubah jadi tanah retak-retak yang kalau diinjak rasanya keras seperti semen. Kebanyakan warga memilih berdiam diri di dalam rumah yang agak teduh.

Suara deru mesin truk mengalihkan perhatian Pak Karsa. Dari arah tikungan bawah, sebuah truk engkel melaju pelan. Di bak belakangnya ada dua tangki plastik biru ukuran besar. Setengah detik kemudian, beberapa tetangga sudah keluar rumah sambil membawa jeriken atau ember bekas cat.

Pak Karsa berdiri, tapi tidak langsung melangkah.

"Truk bantuan lagi?" tanya Sumi.

"Bukan. Itu punya Mas Pur. Dijual lima ribu sejeriken, paling." Pak Karsa masuk rumah, mengambil dua jeriken merah yang sudah dibersihkan.

Di pinggir jalan, orang-orang sudah berkumpul. Tidak ada antrean rapi. Mas Pur, pemuda yang biasanya narik muatan pasir, berdiri di atas bak truk sambil memegang selang. Wajahnya sama kusamnya dengan orang-orang yang mengelilinginya.

"Satu rumah maksimal dua jeriken ya!" teriak Mas Pur. "Airnya ngambil dari sumur dalam di wilayah atas, makin tipis juga di sana."

Pak Sastro, tetangga depan rumah Pak Karsa, nyeletuk kasar, "Pur, kemarin kan harganya masih tiga ribu? Kok naik terus?"

"Solar naik, Pak! Saya ngambilnya juga jauh, sampai ke batas kecamatan," balas Mas Pur tanpa melihat. Tangannya sibuk menyumpal mulut selang yang menetes. "Kalau mau ya monggo, kalau enggak ya buat yang lain. Saya rugi waktu kalau ngetem lama-lama."

Pak Sastro menggerutu, tapi tangannya tetap menyodorkan uang lembaran lusuh. Tidak ada yang benar-benar protes lebih jauh. Dalam situasi begini, jengkel cuma buang-buang energi. Pak Karsa ikut menyodorkan dua jerikennya, membayar sepuluh ribu, lalu memikulnya pulang dengan bambu penjalin.

Malamnya, udara masih terasa gerah. Di pos ronda, cuma ada tiga orang yang kumpul. Pak Karsa, Pak Sastro, dan Budi, pemuda yang baru setahun lulus sekolah tapi belum dapat pekerjaan tetap. Lampu minyak di atas meja kayu berkelip-kelip ditiup angin pelan.

"Kalau sampai bulan depan tidak ada hujan juga, aku mau ikutan Mas Pur narik air saja," kata Budi sambil memotong kayu kecil pakai pisau lipat. "Lumayan ada jalannya."

"Air di atas juga tidak bakal bertahan selamanya, Bud," sahut Pak Sastro. Ia bersandar di tiang pos. "Tadi sore aku dengar cerita dari orang pasar, mata air yang biasa disedot pakai mesin itu sudah mulai surut. Airnya agak kuning."

Pak Karsa cuma mendengarkan sambil mengembuskan asap rokok. Ia teringat sumur tua di samping rumahnya sendiri. Dulu, waktu ia masih kecil, orang tuanya bilang sumur itu tidak pernah kering sekalipun kemarau panjang tahun delapan puluhan. Tapi waktu itu, pohon-pohon bambu di belakang dusun masih tebal. Sekarang daerah itu sudah jadi deretan kandang ayam bertingkat milik Pak Wawan, orang kota yang beli tanah warga tiga tahun lalu.

"Nanti kalau air betul-betul habis, ya pindah sementara ke rumah saudara di kecamatan," kata Budi lagi, santai saja.

"Dikira saudara tidak butuh air juga," celetuk Pak Sastro.

Percakapan itu berhenti di situ. Tidak ada yang punya jawaban pasti. Mereka cuma duduk diam melamun, mendengarkan derik jangkrik yang suaranya terdengar makin langka.

Sekitar jam tiga pagi, Pak Karsa terbangun. Bukan karena mimpi buruk atau gerah, melainkan karena ada suara aneh yang mengetuk seng atap dapur.

Tek... tek...

Ia mengerutkan dahi, duduk di pinggir ranjang kayu. Suara itu terhenti sebentar, lalu terdengar lagi, kali ini lebih sering.

Pak Karsa berjalan pelan ke pintu belakang, membukanya sedikit. Udara luar terasa berbeda, agak lembap dan dingin di kulit. Di atas tanah berdebu dekat pintu, tampak bercak-bercak hitam kecil yang perlahan bertambah banyak.

Sumi terbangun, melongok dari balik kelambu. "Ada apa, Kang?"

"Hujan," jawab Pak Karsa pelan.

Ia melangkah keluar, berdiri di bawah cucuran atap. Hujan tidak langsung turun deras. Tetesannya agak jarang dan terasa berat saat kena muka. Bau tanah kering yang tersiram air langsung naik, menyengat di hidung.

Dari balik pagar bambu, terdengar pintu rumah Pak Sastro terbuka. Suara engselnya yang berdecit terdengar jelas di tengah malam yang hening. Tak lama kemudian, ada suara timba seng dihantamkan ke tanah.

Pak Karsa tidak mengambil ember atau berteriak gembira. Ia cuma berdiri di sana, mengusap air yang menempel di kumisnya, lalu menatap ke kegelapan halaman rumahnya yang perlahan-lahan basah.

 

Yogyakarta, 2026

Editor : Ali Sodiqin
kering sumur lumpur kemarau hujan