RADAR BANYUWANGI – Kaus kaki sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Pelajar mengenakannya ke sekolah, pekerja memakainya saat berangkat ke kantor, sedangkan penggemar olahraga membutuhkan kaus kaki yang nyaman untuk bergerak.
Namun, siapa sangka, benda sederhana ini menyimpan sejarah panjang? Bahkan, masyarakat Mesir pada masa kekuasaan Romawi telah mengenal kaus kaki yang dirancang khusus agar bisa dipakai bersama sandal.
Bentuknya berbeda dengan kaus kaki modern. Bagian ujung dibuat terbelah untuk memisahkan ibu jari dengan empat jari kaki lainnya.
Jejak Kaus Kaki Kuno di Mesir
Salah satu bukti sejarah tersimpan di Victoria and Albert Museum, London, Inggris. Museum tersebut memiliki sepasang kaus kaki wol merah dari Mesir yang diperkirakan dibuat pada 250–420 Masehi.
Berdasarkan catatan Victoria and Albert Museum, kaus kaki itu dibuat menggunakan teknik nålbindning. Teknik tersebut memakai satu jarum untuk membentuk rangkaian simpul benang, berbeda dengan rajutan modern menggunakan dua jarum.
Peninggalan serupa juga ditemukan di Mesir dan kini menjadi koleksi National Museums Scotland. Kaus kaki wol bergaris dari wilayah Akhmim itu diperkirakan berasal dari sekitar 300–600 Masehi.
"Ciri paling menonjol dari kaus kaki Mesir itu adalah bagian ujung jari yang terbelah," tulis konservator Miriam McLeod dalam publikasi National Museums Scotland.
Menurut McLeod, bentuk tersebut kemungkinan dirancang agar pemakainya tetap nyaman saat mengenakan sandal bertali.
Temuan British Museum bahkan memperlihatkan bekas tali sandal pada salah satu kaus kaki kuno. Benda dari Antinoupolis, Mesir, itu diperkirakan berasal dari periode 100–350 Masehi.
Penelitian Mengungkap Rahasia Warna
Menariknya, kaus kaki kuno tidak selalu memiliki warna polos.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE pada 4 Oktober 2018 mengungkap penggunaan beragam warna pada kaus kaki anak dari Mesir.
Tim peneliti British Museum menggunakan pencitraan multispektral untuk mengidentifikasi pewarna alami pada tekstil berusia sekitar 1.700 tahun tersebut.
"Menarik mengetahui bahwa garis-garis warna berbeda pada kaus kaki anak itu dibuat menggunakan kombinasi hanya tiga pewarna alami," kata peneliti British Museum, Joanne Dyer, sebagaimana dikutip The Guardian pada 4 Oktober 2018.
Tiga bahan pewarna tersebut berasal dari tanaman penghasil warna merah, biru, dan kuning. Kombinasinya menghasilkan variasi warna pada tekstil.
Temuan itu menunjukkan bahwa keterampilan pembuatan kaus kaki telah berkembang jauh sebelum munculnya industri pakaian modern.
Mesin Rajut Mengubah Produksi
Perubahan besar terjadi pada 1589. William Lee, penemu asal Inggris, mengembangkan mesin rajut yang dikenal sebagai stocking frame.
Menurut Science Museum Group, mesin tersebut menjadi salah satu tonggak mekanisasi pembuatan kain rajutan, termasuk stoking.
Meski Lee tidak memperoleh paten, teknologi mesin rajut terus berkembang. Perkembangan industri tekstil pada abad-abad berikutnya membuat produksi pakaian rajutan semakin efisien.
Memasuki abad ke-20, penggunaan mesin dan pengembangan bahan tekstil membuat kaus kaki hadir dalam semakin banyak pilihan. Selain wol dan katun, produsen memanfaatkan serat sintetis untuk kebutuhan yang berbeda.
Dari Pelindung Kaki hingga Penunjang Penampilan
Fungsi kaus kaki juga terus berkembang. Bukan sekadar melindungi kulit dari gesekan sepatu, pemilihan bahan turut memengaruhi kenyamanan.
Sebuah penelitian terhadap 35 pelari jarak jauh yang tercatat di PubMed menemukan bahwa kaus kaki berbahan akrilik menghasilkan kejadian lepuh lebih sedikit dan berukuran lebih kecil dibandingkan kaus kaki katun dalam kondisi penelitian tersebut.
Kini, kaus kaki hadir dengan beragam panjang, warna, dan motif. Ada yang dirancang untuk olahraga, aktivitas formal, hingga pelengkap gaya kasual.
Di balik bentuknya yang sederhana, kaus kaki membuktikan bahwa kebutuhan manusia terhadap kenyamanan dapat mendorong inovasi selama berabad-abad.
Dari kaus kaki wol berujung terbelah di Mesir hingga produk tekstil modern, sejarahnya terus mengikuti perubahan zaman.
Editor : Lugas Rumpakaadi