Asal Usul Permen Karet, Ternyata Berawal dari Getah Pohon Sawo

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:15 WIB
Aneka permen karet modern hadir dalam beragam warna dan rasa. Camilan tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan pemanfaatan getah pohon sawo. (Engin Akyurt/Pexels)
Aneka permen karet modern hadir dalam beragam warna dan rasa. Camilan tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan pemanfaatan getah pohon sawo. (Engin Akyurt/Pexels)

RADAR BANYUWANGI – Siapa sangka permen karet yang kini mudah ditemukan di warung hingga minimarket memiliki sejarah panjang? Jauh sebelum hadir dengan berbagai rasa dan warna, camilan kenyal tersebut dibuat dari getah pohon yang dimanfaatkan masyarakat kuno.

Jejak permen karet modern berkaitan erat dengan masyarakat Maya di Mesoamerika, wilayah yang kini mencakup sebagian Meksiko dan Amerika Tengah. Mereka memanfaatkan getah pohon sawo atau Manilkara zapota yang dikenal sebagai chicle.

Namun, masyarakat Maya bukanlah kelompok pertama yang mengunyah bahan menyerupai permen karet. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia di Eropa Utara telah mengunyah bahan dari kulit pohon birch sekitar 9.000 tahun lalu.

Lantas, bagaimana getah pohon bisa berubah menjadi permen karet yang dikenal sekarang?

Dari Getah Pohon Sawo

Masyarakat Maya menyadap getah pohon sawo dengan membuat sayatan pada kulit batangnya. Getah yang terkumpul kemudian dimasak dan dikeringkan hingga menghasilkan bahan kenyal yang bisa dikunyah.

Arkeolog Jennifer P. Mathews, penulis buku Chicle: The Chewing Gum of the Americas, menjelaskan bahwa masyarakat Maya memanfaatkan bahan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

"Menghilangkan rasa haus dan menahan lapar," ungkap Mathews mengenai kegunaan bahan itu, sebagaimana dikutip Smithsonian Magazine dalam artikel yang terbit pada 16 Juni 2009.

Masyarakat Aztek juga memanfaatkan chicle. Selain dikunyah untuk menyegarkan napas, penggunaannya bahkan diatur berdasarkan kebiasaan sosial pada masa itu.

Meski demikian, permen karet yang dikenal saat ini baru berkembang setelah getah tersebut memasuki industri komersial.

Thomas Adams dan Lahirnya Permen Karet Modern

Industri permen karet di Amerika Serikat mulai berkembang pada abad ke-19.

Pada akhir 1840-an, John Curtis memproduksi permen karet komersial berbahan getah pohon spruce. Ia kemudian membangun pabrik permen karet di Portland, Maine, pada awal 1850-an.

Perkembangan penting berikutnya melibatkan Thomas Adams, seorang penemu asal Amerika Serikat.

Adams memperoleh chicle melalui hubungan dengan Antonio López de Santa Anna, mantan presiden Meksiko. Awalnya, bahan tersebut hendak dikembangkan sebagai pengganti karet.

Percobaan itu tidak membuahkan hasil. Namun, Adams menemukan peluang lain dengan mengolah chicle menjadi permen karet.

Usahanya berkembang hingga produknya dipasarkan secara luas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Strategi Wrigley Membuat Permen Karet Mendunia

Popularitas permen karet semakin meningkat berkat William Wrigley Jr.

Pengusaha tersebut semula menjual sabun sebelum beralih mengembangkan bisnis permen karet. Pada 1893, Wrigley memperkenalkan merek Juicy Fruit dan Spearmint.

Wrigley memahami pentingnya promosi untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

"Sampaikan dengan cepat dan sesering mungkin," demikian prinsip periklanan Wrigley yang didokumentasikan University of Chicago Library.

Strategi pemasaran dan distribusi membuat permen karet semakin dikenal luas. Produk tersebut tidak lagi sebatas bahan alami yang dikunyah, tetapi berkembang menjadi komoditas industri makanan.

Permen Karet Gelembung Ditemukan pada 1928

Inovasi besar berikutnya muncul pada 1928.

Walter Diemer, seorang akuntan perusahaan permen karet Fleer di Amerika Serikat, berhasil mengembangkan formula yang lebih elastis dan tidak terlalu lengket.

Formula itu memungkinkan permen karet ditiup menjadi gelembung.

Produk tersebut kemudian dipasarkan dengan nama Dubble Bubble dan menjadi salah satu pelopor permen karet gelembung komersial.

Menariknya, warna merah muda yang identik dengan permen karet gelembung ternyata bukan hasil perencanaan khusus.

"Pewarna makanan merah muda adalah satu-satunya yang saya miliki saat itu," kata Diemer, sebagaimana dikutip Los Angeles Times dalam laporan pada 13 Januari 1998.

Sejak saat itu, permen karet gelembung berkembang dengan beragam rasa, bentuk, dan warna.

Getah Alami Masih Bertahan hingga Sekarang

Memasuki pertengahan abad ke-20, banyak produsen mulai mengganti chicle dengan bahan dasar sintetis. Perubahan tersebut memengaruhi cara industri memproduksi permen karet secara massal.

Meski begitu, penggunaan getah alami belum sepenuhnya ditinggalkan.

Pada 24 Oktober 2024, pemerintah Meksiko memberikan perlindungan indikasi geografis kepada Chicle Maya de Quintana Roo y Campeche.

Pengakuan itu diberikan kepada produk getah pohon sawo yang berasal dari kawasan hutan kedua wilayah tersebut dan diproses menggunakan metode tertentu.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi pemanfaatan getah pohon masih mempunyai nilai ekonomi dan budaya.

Di sisi lain, permen karet modern juga berkembang menjadi produk bebas gula.

American Dental Association (ADA) menjelaskan bahwa mengunyah permen karet bebas gula dapat membantu meningkatkan produksi air liur dan berpotensi mengurangi risiko gigi berlubang. Namun, kebiasaan tersebut tidak menggantikan menyikat gigi dan membersihkan sela-sela gigi.

Dari getah pohon di hutan Mesoamerika hingga menjadi camilan dengan berbagai inovasi, permen karet telah melewati perjalanan panjang. Di balik teksturnya yang kenyal, tersimpan cerita tentang kebudayaan kuno, penemuan, dan perkembangan industri makanan dunia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
asal usul permen karet sejarah permen karet penemu permen karet permen karet gelembung getah chicle