RADAR BANYUWANGI - Seporsi sego tempong dengan sambal cabai rawit memang menggugah selera. Namun, baru beberapa suapan, keringat mulai bercucuran. Wajah memerah, hidung berair, dan lidah terasa seperti terbakar.
Reaksi tersebut mungkin sudah tidak asing bagi pencinta kuliner pedas di Banyuwangi. Apalagi, daerah berjuluk Bumi Blambangan itu memiliki beragam makanan berbumbu kuat, mulai sego tempong hingga pecel pitik.
Lantas, mengapa tubuh menunjukkan reaksi begitu kuat hanya karena makan cabai? Ternyata, jawabannya berkaitan dengan cara sistem saraf mendeteksi panas dan nyeri.
Kapsaisin, Senyawa yang Mengaktifkan Sensor Panas
Sensasi pedas pada cabai berasal dari senyawa bernama kapsaisin atau capsaicin. Senyawa tersebut mengaktifkan reseptor saraf TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1).
Reseptor ini berperan mendeteksi suhu panas yang berpotensi menimbulkan nyeri. Ketika kapsaisin menyentuh jaringan mulut, TRPV1 teraktivasi dan mengirimkan sinyal melalui sistem saraf menuju otak.
Akibatnya, muncul sensasi panas dan terbakar meskipun makanan yang dikonsumsi tidak memiliki suhu cukup tinggi untuk menyebabkan luka bakar.
Mekanisme tersebut telah diteliti Michael J. Caterina, David Julius, dan rekan-rekannya. Penelitian mereka yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 1997 berhasil mengidentifikasi reseptor kapsaisin yang juga merespons suhu panas.
Temuan itu turut membuka jalan bagi penelitian mengenai cara manusia merasakan suhu. David Julius kemudian menerima Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2021 bersama Ardem Patapoutian atas penemuan reseptor suhu dan sentuhan.
Mengapa Wajah Memerah dan Hidung Berair?
Ketika sistem saraf menerima rangsangan kapsaisin, tubuh dapat menunjukkan berbagai respons.
Pembuluh darah di wajah dapat melebar sehingga kulit tampak kemerahan. Keringat juga bisa muncul sebagai bagian dari respons tubuh terhadap sensasi panas.
Sementara itu, hidung berair setelah makan pedas dikenal sebagai rinitis gustatori. Kondisi tersebut termasuk rinitis nonalergi yang dipicu makanan tertentu, termasuk cabai.
Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorok dari Cleveland Clinic, Raj Sindwani, menjelaskan bahwa makanan dapat merangsang saraf trigeminal yang berhubungan dengan respons pada hidung.
“Saraf trigeminal juga dapat dirangsang oleh makanan tertentu, yang kemudian membuat hidung berair,” jelasnya dalam artikel kesehatan Cleveland Clinic.
Karena itu, hidung meler saat menikmati sambal tidak selalu menandakan pilek atau alergi. Pada rinitis gustatori, keluhan biasanya mereda setelah selesai makan.
Mengapa Ada Orang yang Lebih Tahan Pedas?
Tidak semua orang menunjukkan reaksi serupa. Ada yang langsung berkeringat setelah mencicipi sambal, tetapi ada pula yang tetap santai meskipun makan banyak cabai.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa toleransi terhadap makanan pedas dipengaruhi faktor genetik, pengalaman, dan kondisi psikologis.
“Setiap individu memiliki tingkat toleransi reseptor yang berbeda,” jelas Karina, sebagaimana dikutip dari laman resmi IPB University pada 28 Juni 2025.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physiology & Behavior pada 2024 turut menunjukkan bahwa paparan kapsaisin secara berulang dapat menurunkan sensasi terbakar di mulut.
Dalam salah satu penelitian, sebanyak 51 orang dewasa mengikuti protokol selama 17 hari. Kelompok yang mendapat paparan kapsaisin berulang menunjukkan penurunan intensitas sensasi terbakar dibandingkan kelompok kontrol.
Fenomena tersebut disebut desensitisasi. Meski demikian, penelitian itu tidak menemukan bukti bahwa adaptasi terjadi karena jumlah ekspresi gen TRPV1 berkurang.
Apakah Terlalu Banyak Makan Pedas Berbahaya?
Meskipun tubuh bisa beradaptasi, bukan berarti makanan pedas aman dikonsumsi tanpa batas.
Pada sebagian orang, makanan sangat pedas dapat memicu rasa tidak nyaman di saluran pencernaan. Keluhan juga bisa lebih terasa pada penderita penyakit refluks gastroesofagus (GERD).
“Konsumsi berlebihan dapat mengiritasi saluran cerna dan meningkatkan refluks asam lambung,” terang Karina dalam penjelasan yang diterbitkan IPB University.
Jika sensasi pedas di mulut terlalu kuat, susu dapat membantu meredakannya. Penelitian terhadap 72 peserta pada 2019 menemukan bahwa susu tanpa lemak dan susu penuh lemak lebih efektif meredakan sensasi terbakar dibandingkan air putih.
Kapsaisin sendiri juga dimanfaatkan dalam dunia medis. Senyawa ini digunakan dalam beberapa obat oles dan plester untuk membantu mengatasi jenis nyeri tertentu.
Jadi, tubuh yang berkeringat, wajah memerah, dan hidung meler setelah makan pedas bukan sekadar bereaksi berlebihan. Itu merupakan hasil kerja sistem saraf saat merespons kapsaisin.
Bagi pencinta sego tempong Banyuwangi, sensasi tersebut memang menjadi bagian dari pengalaman menikmati sambal. Namun, tetap penting mengenali batas toleransi tubuh agar kenikmatan makan tidak berakhir dengan gangguan pencernaan.
Editor : Lugas Rumpakaadi