RADAR BANYUWANGI - Sekilas, chia seed dan biji selasih terlihat hampir sama. Keduanya berukuran kecil dan membentuk lapisan gel bening saat direndam air. Tak heran, dua bahan yang kerap digunakan dalam makanan dan minuman ini sering dianggap identik.
Padahal, chia seed dan biji selasih berasal dari tanaman berbeda. Warna, tekstur setelah direndam, hingga penggunaannya dalam makanan juga memiliki ciri khas masing-masing.
Menariknya, perbedaan tersebut tidak berarti salah satunya selalu lebih unggul secara nutrisi. Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa kedua biji sama-sama mengandung asam lemak omega-3.
Lantas, bagaimana cara membedakannya?
Berbeda Tanaman, Warna Jadi Petunjuk
Chia seed berasal dari tanaman Salvia hispanica yang banyak dibudidayakan di kawasan Amerika Tengah, terutama Meksiko. Sementara itu, biji selasih berasal dari tanaman basil atau selasih (Ocimum basilicum).
Meski berbeda jenis, keduanya masih termasuk keluarga tanaman Lamiaceae atau keluarga mint.
Perbedaannya dapat diamati dari biji kering. Chia seed umumnya berbentuk oval dengan warna bervariasi, mulai hitam, abu-abu, hingga putih. Sebagian bijinya juga memiliki corak atau bercak.
Sebaliknya, biji selasih cenderung berwarna hitam pekat dengan bentuk bulat memanjang. Perbedaan warna ini menjadi salah satu petunjuk paling mudah untuk mengenali keduanya.
Penelitian yang dilakukan Dede Robiatul Adawiyah bersama Felia Prima Wefiani dan Kezia Patricia dari IPB University juga mengidentifikasi perbedaan fisik tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Mutu Pangan pada Maret 2022 itu menjelaskan bahwa kedua biji memiliki lapisan polisakarida yang mampu menyerap air dan membentuk gel.
"Biji selasih memiliki kemampuan mengikat dan menahan air serta kemampuan emulsi yang tidak berbeda signifikan dengan biji chia," tulis para peneliti dalam publikasi tersebut.
Namun, penampakan gel keduanya tidak sepenuhnya sama. Biji selasih umumnya lebih cepat membentuk lapisan bening yang terlihat jelas, dengan bagian tengah tetap berwarna gelap.
Sementara itu, chia seed juga menyerap cairan dan membentuk gel yang membuat campurannya semakin kental.
Sama-sama Mengandung Omega-3, Apa Bedanya?
Chia seed dikenal sebagai bahan pangan yang kaya serat, protein, mineral, dan asam lemak omega-3 nabati.
Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, sekitar dua sendok makan atau 28 gram chia seed mengandung 11 gram serat dan 4 gram protein.
Namun, biji selasih ternyata juga memiliki kandungan nutrisi yang patut diperhitungkan.
Penelitian berjudul Aktivitas Antioksidan dan Komposisi Asam Lemak Minyak Biji Chia dan Minyak Biji Selasih, yang diterbitkan dalam Jurnal Teknologi dan Industri Pangan pada 14 Maret 2026, menemukan bahwa minyak kedua biji sama-sama didominasi asam linolenat.
Dalam sampel yang diteliti, asam linolenat menyumbang 62,72 persen dari profil asam lemak minyak chia dan 54,73 persen pada minyak biji selasih.
Asam alfa-linolenat atau ALA merupakan salah satu jenis omega-3 yang berasal dari tumbuhan.
Penelitian Afrida Nurwulan, Dede Robiatul Adawiyah, dan Dias Indrasti itu juga menemukan aktivitas antioksidan pada kedua minyak biji. Dalam pengujian tersebut, aktivitas antioksidan minyak chia lebih tinggi dibandingkan minyak selasih.
Meski demikian, angka komposisi minyak tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan kandungan omega-3 dalam satu porsi biji utuh. Temuan laboratorium itu juga belum membuktikan bahwa mengonsumsi salah satunya dapat menyembuhkan penyakit.
Ahli gizi terdaftar Amy Woodman turut menyoroti kesamaan nutrisi keduanya.
"Chia dan selasih merupakan cara mudah untuk menambah asupan serat pangan," ujar Woodman, sebagaimana dikutip Good Housekeeping, 30 Desember 2025.
Woodman menjelaskan bahwa kedua bahan juga menyediakan protein, asam lemak omega-3, zat besi, kalsium, dan magnesium.
Artinya, baik chia seed maupun biji selasih dapat menjadi pelengkap makanan bergizi. Keduanya tetap perlu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.
Lebih Cocok untuk Puding atau Es Buah?
Selain kandungan gizinya, perbedaan chia seed dan biji selasih juga terlihat dalam penggunaannya.
Chia seed cocok dijadikan campuran oatmeal, smoothie, yoghurt, puding, hingga adonan roti. Ketika dicampur cairan, bijinya dapat menghasilkan tekstur lebih kental.
Sementara itu, biji selasih lebih akrab digunakan dalam es buah, es campur, es kuwut, sirup, dan berbagai minuman tradisional.
Sebagaimana diulas detikFood pada 6 Oktober 2026, kedua biji memang memiliki karakter pengolahan yang berbeda meskipun sama-sama mampu menyerap air.
Untuk minuman, biji selasih sebaiknya direndam terlebih dahulu hingga mengembang. Perendaman sekitar 15 menit dapat digunakan sebagai panduan awal, bergantung pada jumlah air dan kondisi biji.
Chia seed juga sebaiknya dicampurkan ke dalam makanan yang mengandung cukup cairan. Jika ingin membuat puding, biji bisa didiamkan setidaknya 15 menit hingga teksturnya mengental.
Konsumsi chia seed dalam keadaan benar-benar kering, terutama dengan cara langsung menelannya kemudian meminum air, perlu dihindari.
Dokter Rebecca Rawl melalui American College of Gastroenterology mengingatkan bahwa chia seed dapat mengembang setelah menyerap cairan dan berisiko tersangkut di kerongkongan.
"Pasien tidak boleh mengonsumsi biji chia dalam keadaan kering," tegas Rawl dalam keterangan yang dipublikasikan pada Oktober 2014.
Risikonya perlu diperhatikan terutama oleh orang yang memiliki gangguan menelan.
Memilih chia seed atau biji selasih tidak harus didasarkan pada anggapan bahwa salah satunya lebih sehat. Keduanya menawarkan kandungan gizi dan karakter tekstur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan hidangan.
Untuk membuat puding yang kental, chia seed bisa menjadi pilihan. Sementara itu, biji selasih cocok bagi penyuka minuman segar dengan sensasi biji berlapis gel.
Editor : Lugas Rumpakaadi