RADAR BANYUWANGI - Konsep makan sepuasnya kini tak hanya ditemukan di restoran all you can eat (AYCE). Model serupa merambah jajanan kaki lima. Salah satunya, promo “nyapit sosis sepuasnya” dengan satu harga.
Di Dandangan Kudus, Jawa Tengah, misalnya, stan bertuliskan “Ambil Sepuasnya – 10 Ribu All You Can Eat Sosis” sempat ramai diburu pengunjung pada Februari 2026. Sejumlah pembeli bahkan mengaku mengetahuinya dari FYP TikTok.
Dengan Rp10 ribu, pembeli bebas mengambil sosis. Tantangannya justru sederhana: seberapa banyak yang bisa dimasukkan ke wadah?
Di situlah godaannya muncul. Sudah membayar di muka, rasanya sayang jika hanya mengambil sedikit.
“Jujur aku kalau ke resto AYCE atau ada promo nyapit sosis sepuasnya gitu suka lapar mata. Bawaannya pengin numpuk sosis sebanyak-banyaknya di wadah biar enggak rugi,” ujar Syifa.
Ia mengaku rasa puas muncul ketika berhasil mengambil banyak sosis. Masalahnya datang belakangan.
“Pas sudah dimakan malah kekenyangan banget, enek, dan akhirnya nyesel,” lanjutnya.
Ternyata, dorongan untuk mengambil makanan sebanyak mungkin tak melulu berkaitan dengan rasa lapar. Harga yang telah dibayar, banyaknya pilihan makanan, hingga kecepatan makan bisa ikut memengaruhi keputusan seseorang.
Sudah Bayar, Masa Enggak “Balik Modal”?
Dalam psikologi pengambilan keputusan dikenal istilah sunk cost effect. Manusia cenderung mempertahankan keputusan karena merasa telah mengeluarkan uang, waktu, atau usaha.
Hal R. Arkes dan Catherine Blumer sudah membahas fenomena tersebut dalam penelitian yang diterbitkan pada 1985.
Pada AYCE, pola pikir serupa bisa muncul dalam bentuk sederhana: “Sudah bayar mahal, harus makan banyak supaya tidak rugi.”
Ada penelitian yang menunjukkan harga memang dapat berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.
David Just dan Brian Wansink melakukan eksperimen lapangan di restoran pizza AYCE. Hasilnya diterbitkan dalam The Review of Economics and Statistics pada 2011.
Pengunjung yang mendapat diskon 50 persen rata-rata makan 2,95 potong pizza. Sementara itu, kelompok yang membayar harga penuh mengonsumsi rata-rata 4,09 potong.
Artinya, kelompok yang mendapat diskon mengonsumsi 27,9 persen lebih sedikit pizza.
Peneliti menduga konsumen dalam sistem harga tetap bisa terdorong makan sampai merasa memperoleh nilai yang sesuai dengan uang yang telah dikeluarkan.
Namun, temuan itu bukan berarti orang yang membayar lebih mahal pasti akan makan lebih banyak. Perilaku makan dipengaruhi banyak faktor.
Bosan Sosis, Kok Dessert Masih Muat?
Pernah merasa sudah enek melihat daging atau sosis, tetapi mendadak tertarik ketika es krim dan puding datang?
Fenomena itu dapat dijelaskan melalui sensory-specific satiety atau kejenuhan sensorik spesifik.
Penelitian Barbara J. Rolls dan koleganya menunjukkan bahwa kenikmatan terhadap makanan yang sedang dimakan dapat berangsur turun. Namun, makanan lain dengan rasa, aroma, atau tekstur berbeda masih bisa terasa menarik.
Jadi, merasa bosan dengan sosis belum tentu berarti semua jenis makanan sudah tidak menggoda.
Riset Rolls dan tim pada 1981 juga menemukan variasi makanan dapat meningkatkan jumlah yang dikonsumsi. Penelitian berikutnya terhadap menu beberapa hidangan bahkan mencatat asupan energi lebih tinggi ketika peserta mendapat makanan yang bervariasi daripada makanan yang sama berulang-ulang.
Penelitian yang lebih baru juga mendukung efek variasi tersebut. Studi pada 2023 menemukan peserta mengonsumsi lebih banyak makanan ketika mendapat beberapa jenis hidangan dibandingkan pilihan yang monoton.
Inilah salah satu alasan meja buffet dengan daging, makanan berkuah, gorengan, buah, hingga dessert bisa terasa sulit ditinggalkan.
Bukan karena “perut kedua” tiba-tiba muncul. Makanan baru masih memberikan pengalaman sensorik yang berbeda.
Piring Besar Belum Tentu Bikin Makan Lebih Banyak
Ukuran wadah juga sering dituding membuat orang kalap. Secara visual, porsi yang sama memang dapat terlihat berbeda ketika ditempatkan pada wadah dengan ukuran berbeda.
Namun, pengaruhnya terhadap jumlah yang benar-benar dimakan ternyata tidak sesederhana itu.
Studi preregistrasi terhadap 134 orang dewasa yang diterbitkan pada 2019 tidak menemukan bukti jelas bahwa penggunaan piring besar membuat peserta makan lebih banyak daripada piring kecil.
Kelompok berpiring besar memang mengonsumsi rata-rata sekitar 3 persen lebih banyak, tetapi perbedaannya tidak meyakinkan secara statistik.
Artinya, ukuran wadah bisa memengaruhi persepsi terhadap porsi. Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa piring besar otomatis membuat seseorang makan jauh lebih banyak.
Dalam tren “nyapit sosis”, rasa puas ketika melihat wadah penuh atau sosis menumpuk mungkin justru menjadi bagian dari pengalaman.
Jangan Buru-Buru Mengejar Timer
Restoran AYCE juga identik dengan batas waktu. Ada yang memberi waktu 60 menit, 90 menit, atau lebih.
Batas waktu itu tak berarti otak mendadak kehilangan kemampuan berpikir rasional. Namun, satu hal patut diperhatikan: kecepatan makan.
Penelitian eksperimental terbaru menunjukkan makan lebih lambat dapat berkaitan dengan asupan energi yang lebih rendah.
Dalam uji silang selama 14 hari yang diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition, peserta mengonsumsi rata-rata 369 kilokalori lebih sedikit per hari saat mendapat makanan dengan tekstur yang mendorong mereka makan lebih lambat dibandingkan kondisi makan cepat.
Jadi, mengejar target sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat belum tentu menjadi strategi terbaik.
Saat datang ke AYCE atau menemukan promo sosis sepuasnya, “untung” tak harus berarti berhasil menumpuk makanan setinggi mungkin.
Sebab, ketika tangan masih ingin terus menjepit sosis, ada pertanyaan sederhana yang layak diajukan, masih benar-benar lapar atau cuma ingin merasa menang karena sudah membayar?
Editor : Lugas Rumpakaadi