RADAR BANYUWANGI – Bukan sekadar lomba membaca puisi, Liga Puisi #5 Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) kembali membuka ruang bagi siswa hingga guru untuk merawat tradisi literasi melalui kata. Memasuki edisi kelima sejak pertama digelar pada 2022, ajang bertajuk “Merawat Kata, Menjaga Budaya, dan Nyalakan Cita” ini menyediakan lima kategori lomba, dengan babak final dijadwalkan berlangsung secara luring pada 29 Oktober 2026.
Peserta tidak perlu langsung datang ke lokasi untuk mengikuti babak awal. Cukup merekam penampilan pembacaan puisi dalam bentuk video, kemudian mengirimkannya secara daring hingga batas akhir pendaftaran dan pengumpulan video pada 22 Oktober.
Liga Puisi #5 terbuka bagi peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Siswa SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA dapat ambil bagian. Menariknya, kesempatan tampil juga diberikan kepada kalangan guru.
Panitia telah menyiapkan sejumlah puisi yang dapat dipilih peserta untuk dibawakan. Dengan demikian, peserta dapat memusatkan perhatian pada interpretasi, vokal, ekspresi, penghayatan, dan teknik pembacaan puisi.
Manager Event JP-RaBa Gerda Sukarno mengatakan, sistem penyisihan tahun ini kembali menggunakan mekanisme pengumpulan video secara daring.
"Sebanyak 12 peserta terbaik dari masing-masing kategori berhak melaju ke babak final yang akan diselenggarakan secara luring (offline) pada 29 Oktober mendatang," ujarnya.
12 Peserta Terbaik Tiap Kategori Melaju ke Final
Setelah seluruh video peserta terkumpul, juri akan melakukan proses penyaringan. Dari setiap kategori, akan dipilih 12 penampilan terbaik untuk mendapatkan tiket menuju babak final.
Tahapan tersebut membuat peserta tidak hanya dituntut mampu membaca puisi dengan baik, tetapi juga menghadirkan penampilan yang kuat melalui video yang dikirimkan.
Pendaftaran sekaligus pengumpulan video Liga Puisi #5 berlangsung hingga 22 Oktober. Setelah masa pendaftaran ditutup, panitia memasuki tahap penyisihan pada 23–26 Oktober.
Pengumuman peserta yang lolos ke babak final juga dijadwalkan pada 26 Oktober. Peserta yang berhasil melaju kemudian wajib mengikuti temu teknik pada 27 Oktober sebagai persiapan sebelum tampil langsung di babak final.
Rangkaian jadwal Liga Puisi #5 tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mempersiapkan penampilan secara matang. Terlebih, babak final tidak lagi berlangsung melalui layar, melainkan mempertemukan para peserta secara langsung.
Lima Kategori, Siswa dan Guru Bisa Tampil
Kehadiran lima kategori menjadi salah satu daya tarik Liga Puisi #5. Kompetisi tidak hanya menyasar pelajar, tetapi juga membuka ruang bagi guru untuk menunjukkan kemampuan dalam menghidupkan teks puisi melalui pembacaan.
Konsep tersebut sekaligus memperluas ekosistem literasi yang dibangun JP-RaBa. Puisi tidak ditempatkan sekadar sebagai materi pelajaran, tetapi sebagai medium untuk mengolah rasa, gagasan, pengalaman, dan kemampuan berkomunikasi.
Tagline “Merawat Kata, Menjaga Budaya, dan Nyalakan Cita” menjadi napas utama penyelenggaraan Liga Puisi #5. Melalui tema tersebut, peserta diajak melihat puisi bukan hanya dari susunan kata, tetapi juga dari nilai budaya dan pengalaman yang terkandung di dalamnya.
Konsistensi penyelenggaraan sejak 2022 membuat Liga Puisi JP-RaBa kini memasuki edisi kelima. Keberlanjutan tersebut menunjukkan bahwa ruang kompetisi literasi dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan yang mempertemukan pelajar dan pendidik melalui karya sastra.
Bupati Ipuk: Puisi Bukan Sekadar Dibacakan
Pada pelaksanaan Liga Puisi #4 tahun lalu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memberikan apresiasi terhadap komitmen JP-RaBa dalam menjaga semangat literasi melalui ajang tersebut.
Saat membuka Liga Puisi #4 di kantor Radar Banyuwangi pada 27 Oktober 2025, Ipuk menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan. Menurut dia, puisi dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter karena mendorong kepekaan rasa sekaligus kemampuan berpikir kritis.
“Kegiatan ini mengangkat pentingnya puisi. Di dalamnya banyak sekali ilmu yang saling terpaut. Tidak hanya membacakan, tapi juga menulis dan merangkai kata dari apa yang kita lihat, rasakan, dan alami,” ujarnya saat itu.
Ipuk juga menyampaikan pandangan bahwa puisi dapat menjadi ruang bagi manusia untuk mengekspresikan diri. Melalui puisi, seseorang tidak hanya berhadapan dengan kata-kata, tetapi juga diajak berpikir, merasakan, dan menerjemahkan pengalaman menjadi sebuah ekspresi.
Semangat itulah yang kembali dibawa dalam Liga Puisi #5. Dari video yang dikirim secara daring hingga panggung final pada 29 Oktober, perjalanan kompetisi ini menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan bagaimana kata dapat dihidupkan melalui suara, ekspresi, dan penghayatan.
Pada akhirnya, Liga Puisi bukan semata-mata tentang siapa yang paling lantang membaca bait. Lebih jauh, ajang ini menghadirkan ruang bagi generasi muda dan para pendidik untuk terus berinteraksi dengan sastra, merawat bahasa, serta menemukan makna dari pengalaman yang mereka tuangkan melalui puisi. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin