RADAR BANYUWANGI - Tanggal 2 Oktober punya arti khusus bagi Indonesia. Hari ini, Jumat, 2 Oktober 2026, masyarakat kembali memperingati Hari Batik Nasional. Tepat 17 tahun lalu, batik Indonesia masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.
Namun, pada peringatan tahun ini, industri batik menghadapi tantangan regenerasi perajin, persaingan dengan kain bermotif batik hasil cetak, serta pasar ekspor yang berfluktuasi.
Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia yang dikutip Kementerian Perindustrian menunjukkan jumlah perajin batik turun sekitar 20 persen sepanjang 2019-2023. Jumlahnya menyusut dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu orang.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengingatkan bahwa batik perlu dipahami lebih dari sekadar motif.
“Batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya luhur," ujarnya.
Persoalan regenerasi menjadi penting karena batik tradisional bertumpu pada keterampilan yang diwariskan antargenerasi.
Ekspor Naik, Perajin Berkurang
Dari sisi ekonomi, batik masih memiliki pasar yang besar. Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor produk batik Indonesia pada 2025 mencapai USD 20,14 juta. Angka itu naik 32,50 persen dibandingkan 2024 yang sebesar USD 15,20 juta.
Namun, pada triwulan II 2026, nilai ekspor batik tercatat USD 4,39 juta. Angka tersebut turun 13,76 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kondisi itu memperlihatkan tantangan pada industri. Pasar harus terus diperluas, tetapi ketersediaan perajin juga harus dijaga.
Hari Batik Nasional 2026 dipusatkan di Surabaya. Pameran berlangsung pada 30 September-4 Oktober dengan melibatkan lebih dari 40 peserta. Salah satu agenda utamanya adalah “Batik Berlayar” di Sungai Kalimas.
Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Gita Pratama Kartasasmita menegaskan keinginan membawa batik lebih dekat kepada masyarakat.
“Tahun ini kami ingin membawa batik keluar dari ruang museum dan masuk ke ruang publik," katanya.
Pendekatan itu sekaligus menyasar generasi muda agar batik tetap menjadi tradisi hidup, bukan sekadar simbol budaya.
Mengapa Diperingati Setiap 2 Oktober?
Hari Batik Nasional berawal dari pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009.
UNESCO menilai tradisi batik tidak berhenti pada produk tekstil. Batik berkaitan dengan kehidupan sosial, upacara, tradisi keluarga, hingga identitas masyarakat Indonesia.
UNESCO menyebut batik berkaitan erat dengan identitas budaya masyarakat Indonesia.
Pemerintah kemudian menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Salah satu diktumnya berbunyi, “Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.”
Karena itu, 2 Oktober bukan hari lahir batik. Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang momentum pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia.
1869: Mahatma Gandhi Lahir
Tanggal 2 Oktober juga penting dalam sejarah dunia.
Mohandas Karamchand Gandhi lahir di Porbandar, India, pada 2 Oktober 1869. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh utama perjuangan kemerdekaan India dan simbol perlawanan tanpa kekerasan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Tanpa Kekerasan Internasional pada 2007. Tanggal itu dipilih bertepatan dengan kelahiran Gandhi.
Salah satu gagasan Gandhi yang dikutip PBB berbunyi, “Nirkekerasan adalah senjata bagi mereka yang kuat.”
Pada 2 Oktober 2026, tepat 157 tahun berlalu sejak kelahiran Gandhi.
1950: Peanuts Terbit Perdana
Dunia budaya populer juga mencatat 2 Oktober sebagai tanggal penting.
Pada 2 Oktober 1950, Charles M. Schulz menerbitkan strip komik Peanuts. Charlie Brown, Patty, dan Shermy menjadi bagian dari masa awal komik tersebut.
Peanuts mula-mula hadir hanya di tujuh surat kabar Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, karakter seperti Charlie Brown, Snoopy, Lucy, dan Linus menjadi ikon budaya populer dunia.
Tahun ini, Peanuts genap berusia 76 tahun.
1958: Guinea Merdeka
Pada 2 Oktober 1958, Guinea memproklamasikan kemerdekaan dari Prancis.
Jalan menuju kemerdekaan terbuka setelah referendum pada 28 September 1958. Guinea memilih menolak rancangan Komunitas Prancis.
Tokoh Guinea, Ahmed Sékou Touré, sebelumnya menyampaikan kalimat yang kemudian dikenal luas.
“Mereka lebih memilih kebebasan dalam kemiskinan daripada kemakmuran dalam perbudakan."
Guinea kemudian diterima sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Desember 1958.
1968: Tragedi Tlatelolco
Sepuluh tahun setelah kemerdekaan Guinea, 2 Oktober menjadi tanggal kelam bagi Meksiko.
Pada 2 Oktober 1968, aksi mahasiswa di Plaza de las Tres Culturas, Tlatelolco, Mexico City, berakhir dengan kekerasan. Peristiwa itu terjadi hanya sepuluh hari sebelum Olimpiade Mexico City dibuka.
Jumlah korban meninggal hingga kini tidak memiliki satu angka yang disepakati. Berbagai catatan pemerintah, saksi, dan penelitian menghasilkan angka berbeda.
Pada 2024, pemerintah Meksiko secara resmi mengakui kekerasan terhadap gerakan mahasiswa tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sekretaris Dalam Negeri Meksiko Rosa Icela Rodríguez menyatakan, “Peristiwa seperti itu tidak boleh terulang kembali."
Editor : Lugas Rumpakaadi