Karbon Organik Ditemukan di Mars, Belum Jadi Bukti Kehidupan

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 19:16 WIB
Batuan Cheyava Falls yang diamati wahana Perseverance di Jezero Crater, Mars. Bercak menyerupai tutul macan tutul pada batu tersebut menjadi salah satu petunjuk yang diteliti terkait kemungkinan lingkungan yang pernah mendukung kehidupan mikroba. (NASA/JPL-Caltech/MSSS)
Batuan Cheyava Falls yang diamati wahana Perseverance di Jezero Crater, Mars. Bercak menyerupai tutul macan tutul pada batu tersebut menjadi salah satu petunjuk yang diteliti terkait kemungkinan lingkungan yang pernah mendukung kehidupan mikroba. (NASA/JPL-Caltech/MSSS)

RADAR BANYUWANGI - Mars kini dikenal sebagai planet dingin dan tandus. Namun, miliaran tahun lalu, kondisinya berbeda. Air pernah mengalir di permukaannya. Jezero Crater, lokasi penjelajahan wahana Perseverance milik NASA, bahkan pernah menjadi lingkungan berair.

Kini, ilmuwan menemukan petunjuk lain yang tak kalah menarik yaitu karbon organik kompleks pada batuan Mars.

Temuan terbaru itu memperkuat dugaan bahwa Mars purba pernah memiliki kondisi yang mendukung kehidupan. Namun, para peneliti mengingatkan satu hal penting. Menemukan material organik bukan berarti menemukan kehidupan.

“Temuan ini memperkuat bukti bahwa Mars purba memiliki bahan kimia dan kondisi lingkungan yang dapat mendukung kehidupan,” kata ilmuwan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Kyle Uckert, kepada Reuters.

Namun, Uckert menegaskan bahwa hasil tersebut “tidak memberikan bukti kehidupan” ataupun memastikan material itu berasal dari proses biologis.

Batu Misterius Bernama Cheyava Falls

Salah satu batu yang menjadi pusat perhatian bernama Cheyava Falls. Perseverance menemukannya pada Juli 2024 ketika menjelajahi Bright Angel di Neretva Vallis, lembah sungai purba yang pernah membawa air menuju Jezero Crater.

Batu berukuran sekitar 1 meter itu memiliki bercak terang dengan tepian gelap. Tim Perseverance menyebut pola tersebut leopard spots karena menyerupai tutul macan tutul.

Sejak awal, batu itu membuat ilmuwan penasaran.

“Cheyava Falls adalah batu paling membingungkan, kompleks, dan berpotensi penting yang sejauh ini diteliti Perseverance,” kata ilmuwan proyek Perseverance, Ken Farley, dalam keterangan NASA pada 2024.

Instrumen SHERLOC pada lengan robot Perseverance mendeteksi material organik di batu tersebut. Sementara itu, instrumen PIXL menemukan komposisi kimia dan mineral yang tidak biasa.

Perseverance kemudian mengebor Cheyava Falls dan mengambil sampel inti yang diberi nama Sapphire Canyon.

Ada Mineral yang Berkaitan dengan Mikroba di Bumi

Analisis menemukan dua mineral yang menarik perhatian, yakni vivianite dan greigite.

Vivianite merupakan mineral fosfat besi terhidrasi. Greigite adalah mineral sulfida besi. Di Bumi, kedua mineral tersebut dapat terbentuk di lingkungan yang juga melibatkan aktivitas mikroorganisme.

Ilmuwan Perseverance Joel Hurowitz mengatakan kombinasi senyawa kimia di Bright Angel berpotensi menyediakan energi bagi mikroba.

“Kombinasi senyawa kimia yang kami temukan di formasi Bright Angel dapat menjadi sumber energi yang kaya bagi metabolisme mikroba,” ujarnya dalam rilis NASA pada September 2025.

Menurut Hurowitz, mikroorganisme di Bumi dapat memanfaatkan reaksi kimia semacam itu untuk mendapatkan energi.

Namun, bukan berarti proses serupa di Mars pasti melibatkan kehidupan. Reaksi kimia tanpa organisme juga dapat menghasilkan mineral dan pola yang menyerupai tanda biologis.

NASA Menyebutnya Calon Biosignature

Hasil penelitian Cheyava Falls kemudian diterbitkan dalam jurnal Nature pada September 2025.

Para peneliti menyebut temuan tersebut sebagai potential biosignature atau calon tanda biologis.

Istilah itu penting. NASA menggunakan potential biosignature untuk zat atau struktur yang mungkin berasal dari proses biologis, tetapi masih membutuhkan penelitian lanjutan sebelum dapat disebut sebagai bukti kehidupan.

Saat hasil penelitian diumumkan pada 10 September 2025, pejabat sementara Administrator NASA saat itu, Sean Duffy, menyebut temuan tersebut sangat menjanjikan.

“Kami tidak dapat menemukan penjelasan lain, jadi ini bisa jadi tanda kehidupan paling jelas yang pernah kami temukan di Mars,” katanya dalam konferensi pers, seperti dikutip Reuters.

Meski demikian, ilmuwan NASA tetap berhati-hati.

Nicky Fox dari NASA menegaskan, “Ini bukan kehidupan itu sendiri.”

Pernyataan itu menjadi pembatas penting. Cheyava Falls memang menunjukkan kombinasi material dan mineral yang menarik, tetapi belum membuktikan bahwa organisme pernah hidup di Mars.

Studi 2026 Temukan Karbon Organik Kompleks

Petunjuk baru muncul pada 2026.

Penelitian yang dipimpin Ashley Murphy dari Planetary Science Institute dan Kyle Uckert dari JPL menganalisis data SHERLOC dari formasi Bright Angel.

Hasilnya menunjukkan adanya karbon makromolekuler, yakni jaringan karbon kompleks, pada batuan Mars. Ratusan sinyal material organik ditemukan dari sampel batuan yang diperiksa.

“Meski mekanisme pembentukan spesifik karbon makromolekuler di batuan Bright Angel masih belum diketahui, ini tetap salah satu temuan paling menarik sejauh ini,” kata Murphy.

Material organik tersebut ditemukan berkaitan dengan sejumlah mineral. Sebagiannya berada pada matriks sedimen kaya silikat. Sebagian lain ditemukan bersama karbonat dan sulfat yang terbentuk ketika batu mengalami perubahan akibat air.

Temuan itu menunjukkan bahwa material organik mungkin tersimpan di batuan Mars melalui lebih dari satu tahap dalam sejarah geologinya.

Namun, asal-usulnya tetap menjadi misteri.

Layak Dihuni Bukan Berarti Pernah Dihuni

Kata “organik” kerap disalahartikan sebagai bukti kehidupan. Dalam ilmu kimia, senyawa organik pada dasarnya merupakan senyawa berbasis karbon.

Senyawa tersebut memang dapat dihasilkan makhluk hidup. Tetapi, proses geologi dan kimia tanpa organisme juga dapat membentuknya. Meteorit bahkan dapat membawa material organik ke sebuah planet.

Karena itu, menemukan air, material organik, serta sumber energi kimia hanya menunjukkan bahwa suatu lingkungan mungkin pernah layak dihuni.

Layak dihuni tidak sama dengan pernah dihuni.

Perseverance juga memiliki keterbatasan. Instrumen di atas wahana itu mampu memeriksa unsur, mineral, dan molekul pada batuan Mars, tetapi tidak selengkap peralatan laboratorium di Bumi.

“Kami membutuhkan pengembalian sampel ini ke Bumi untuk pengujian yang lebih ketat,” kata Uckert kepada Reuters.

Sampel Sapphire Canyon yang diambil dari Cheyava Falls menjadi penting karena suatu hari dapat diperiksa menggunakan instrumen laboratorium yang jauh lebih sensitif.

Untuk saat ini, Cheyava Falls belum menjawab apakah kehidupan pernah muncul di Mars.

Namun, batu itu memberikan salah satu petunjuk paling menarik. Lingkungan purba yang pernah memiliki air, material organik, mineral tertentu, serta reaksi kimia yang berpotensi menyediakan energi bagi mikroorganisme.

NASA belum menemukan kehidupan di Mars. Tetapi, ilmuwan kini memiliki alasan yang semakin kuat untuk terus mencarinya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Perseverance kehidupan di Mars Cheyava Falls mars nasa