Dari Tebar Benih hingga Pungut Sampah, Cara Seru Rawat Sungai di Tegaldlimo Banyuwangi

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 01:00 WIB
JAGA LINGKUNGAN: Para siswa diajarkan menanam pohon ditepi aliran sungai Oling River Food, Desa/Kecamatan Tegaldlimo, Selasa (29/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
JAGA LINGKUNGAN: Para siswa diajarkan menanam pohon ditepi aliran sungai Oling River Food, Desa/Kecamatan Tegaldlimo, Selasa (29/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Menjaga sungai tak harus dimulai dari ruang kelas. Di Tegaldlimo, Banyuwangi, puluhan siswa justru diajak belajar langsung di bantaran sungai melalui permainan edukatif. Mereka menebar benih ikan, menanam pohon, mengenal sistem pengairan hingga memungut sampah dalam Game Fun Sekardadu (Gemas) Sekardadu 2026, Senin (28/9).

Kegiatan yang digelar Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Tegaldlimo tersebut menjadi bagian dari penguatan Program Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai (Sekardadu) yang digagas Pemkab Banyuwangi melalui Dinas PU Pengairan.

Bukan sekadar bermain, setiap tantangan dirancang untuk mengenalkan persoalan sungai sekaligus membangun kebiasaan menjaga lingkungan sejak usia sekolah.

Kegiatan berlangsung di aliran Primer Besar Tegaldlimo yang dikenal sebagai Oling River Food. Di lokasi tersebut, suasana belajar dibuat berbeda. Para siswa tidak duduk mendengarkan materi sepanjang kegiatan, melainkan bergerak dari satu pos ke pos lainnya untuk menyelesaikan tantangan.

Ada empat pos yang harus dituntaskan setiap kelompok.

Pos pertama mengajak siswa menebar benih ikan. Berikutnya, mereka belajar menanam pohon sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan. Di pos ketiga, siswa diperkenalkan dengan sistem pengairan serta cara merawat aliran air.

Sementara pos terakhir membawa siswa berhadapan langsung dengan persoalan yang kerap ditemukan di sungai, yakni sampah. Mereka melakukan aksi memungut sampah yang berada di sekitar aliran sungai.

Masing-masing pos memiliki tantangan dan penilaian tersendiri. Konsep tersebut membuat edukasi lingkungan terasa seperti permainan, sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai pentingnya menjaga daerah aliran sungai.

Belajar Sampah hingga Daur Ulang

Kepala Korsda Tegaldlimo Bambang Gunawan mengatakan, Gemas Sekardadu dirancang sebagai sarana menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini.

Menurut dia, pengalaman langsung diperlukan agar pemahaman siswa mengenai sungai tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis.

"Dalam kegiatan ini kami berkolaborasi dengan 4Ocean. Materi mengenai sampah, termasuk pemilahan dan daur ulang, disampaikan langsung oleh mereka," ujarnya.

Lima sekolah ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Yakni SDN 4 Tegaldlimo, SDN 4 Wringinpitu, SDN 3 Glagahagung, SDN 1 Glagahagung, dan SDN 1 Sumberasri.

Selain belajar mengenai pengelolaan sampah, para siswa mendapatkan pengalaman menanam pohon, menebar benih ikan, serta mengenal sistem pengairan dan cara merawatnya.

Bambang menyebut pendekatan permainan sengaja dipilih agar edukasi lingkungan lebih mudah diterima siswa. Ruang terbuka juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar sambil bermain.

"Harapannya anak-anak semakin mengetahui persoalan sampah. Sebab, sampah masih menjadi salah satu persoalan kita, terutama yang masuk dan menumpuk di aliran sungai," katanya.

Sekardadu Didorong Jadi Kebiasaan

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari pemerintah Kecamatan Tegaldlimo. Camat Tegaldlimo Tri Setya mengatakan, Sekardadu memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.

"Melalui Sekardadu, kepedulian terhadap lingkungan bisa ditanamkan kepada anak-anak sejak dini," ujarnya.

Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi Cahyanto Hendri Wahyudi menegaskan, Sekardadu tidak semata-mata diarahkan pada kegiatan bersih-bersih sungai.

Program tersebut juga ditujukan untuk membangun kesadaran dan kebiasaan masyarakat dalam menjaga daerah aliran sungai.

"Yang ingin kita bangun melalui Sekardadu adalah kesadaran dan kebiasaan. Anak-anak dikenalkan sejak dini bahwa sungai bukan tempat membuang sampah, tetapi bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga bersama," ujarnya.

Menurut Cahyanto, siswa memiliki posisi penting dalam memperluas edukasi lingkungan. Pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi dibawa ke rumah dan lingkungan sekitar.

"Ketika anak-anak memahami pentingnya sungai, kemudian menyampaikan kembali kepada orang tua dan lingkungannya, maka edukasi ini akan berkembang menjadi gerakan bersama," katanya.

Sebab, menjaga sungai tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Partisipasi masyarakat diperlukan agar kebiasaan menjaga lingkungan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Cahyanto juga mengapresiasi kolaborasi Korsda Tegaldlimo dengan 4Ocean, pemerintah kecamatan, serta sekolah dalam pelaksanaan Gemas Sekardadu 2026.

Menurut dia, kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting agar edukasi lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

"Sekardadu harus terus dikembangkan dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Gemas Sekardadu ini contoh bagaimana edukasi tentang sungai bisa dikemas melalui permainan sehingga anak-anak mendapatkan pengalaman langsung," pungkasnya.

Dengan pendekatan tersebut, sungai bukan lagi sekadar objek yang dibersihkan. Bagi para siswa, aliran air menjadi ruang belajar terbuka untuk mengenal lingkungan, memahami persoalan sampah, dan membangun kebiasaan merawat sungai sejak dini. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
edukasi lingkungan Sekardadu Banyuwangi Gemas Sekardadu 2026 Sungai Tegaldlimo Oling River Food