Usai Digi MR, MKKS Banyuwangi Dorong Diklat Kader UKS/PMR Lebih Tangguh

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 09:30 WIB
Ali Mustofa (tiga dari kiri) dan jajaran pengurus MKKS SMP Negeri Banyuwangi bersama Wakil Bupati (Wabup) Selaku Ketua PMI Banyuwangi di sela kegiatan Digi MR UKS/PMR di halaman kantor Pemkab Banyuwangi pada Minggu (27/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Ali Mustofa (tiga dari kiri) dan jajaran pengurus MKKS SMP Negeri Banyuwangi bersama Wakil Bupati (Wabup) Selaku Ketua PMI Banyuwangi di sela kegiatan Digi MR UKS/PMR di halaman kantor Pemkab Banyuwangi pada Minggu (27/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kompetisi Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) UKS/PMR Tingkat Madya di halaman Kantor Pemkab Banyuwangi, Minggu (27/9), tak berhenti sebagai ajang adu keterampilan antarpelajar. Di balik kompetisi tersebut, sekolah mendapat kesempatan mengukur kesiapan kader UKS/PMR sekaligus memetakan kemampuan pertolongan pertama di lingkungan masing-masing. Hasilnya menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat layanan kesehatan sekolah.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Banyuwangi Ali Mustofa mengatakan, kegiatan tersebut memberikan ruang konsolidasi bagi tim UKS/PMR di setiap sekolah. Menurut dia, kesehatan dan kemampuan pertolongan pertama merupakan layanan dasar yang dibutuhkan dalam lingkungan pendidikan.

"Kegiatan Digi MR UKS/PMR ini sangat bermanfaat sebagai bentuk konsolidasi bagi tim PMR/UKS di masing-masing sekolah sebagai layanan kebutuhan vital atau dasar, yaitu kesehatan dan pertolongan pertama," ujar Ali yang juga Kepala SMPN 1 Banyuwangi tersebut.

Bukan Sekadar Lomba, Performa PMR Sekolah Ikut Terukur

Ali menilai kompetisi seperti Digi MR memiliki manfaat lebih luas dibanding sekadar mengejar prestasi. Simulasi dan tantangan yang diberikan dapat memperlihatkan sejauh mana kader UKS/PMR memahami tugas serta mampu merespons kondisi yang membutuhkan pertolongan pertama.

Dengan begitu, sekolah memiliki gambaran mengenai kekuatan dan bagian yang masih perlu diperbaiki dari layanan UKS/PMR masing-masing.

"Melalui kegiatan ini kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana performa layanan pertolongan pertama di masing-masing sekolah. Serta ini bisa kita jadikan bahan evaluasi untuk menghelat kegiatan berbasis PMI," katanya.

Menurut Ali, secara umum pelaksanaan Digi MR berjalan dengan baik. Namun, kompetisi tersebut juga memperlihatkan adanya kelompok PMR yang masih membutuhkan penguatan, khususnya dalam aspek keterampilan dan kecepatan merespons situasi darurat.

"Kita melihat kegiatan ini sudah sangat luar biasa. Namun demikian tentu ada sisi di mana performa dari setiap kelompok UKS/PMR yang perlu terus ditingkatkan," ujarnya.

Dorong Diklat Kader agar Makin Tangguh dan Responsif

Temuan tersebut, lanjut Ali, perlu ditindaklanjuti dengan pembinaan yang lebih terarah. Salah satunya melalui kegiatan penguatan keterampilan, pendidikan, dan pelatihan bagi kader UKS/PMR.

Penguatan kapasitas dinilai penting agar kader tidak hanya memahami teori pertolongan pertama, tetapi juga memiliki kesiapan ketika menghadapi kondisi darurat yang benar-benar terjadi di sekolah.

"Maka, ke depan perlu kita adakan kegiatan penguatan skill, misalnya berupa diklat kader UKS/PMR yang lebih tangguh serta responsif terhadap kebutuhan layanan pertolongan pertama di masing-masing sekolah," tegasnya.

Pengalaman yang diperoleh dalam Digi MR diharapkan tidak berhenti setelah perlombaan selesai. Tantangan di arena kompetisi dapat menjadi bahan bagi sekolah untuk menyusun evaluasi sekaligus menentukan materi pembinaan berikutnya.

Targetkan Seluruh SMP Negeri Terlibat

Ali juga mendorong agar keterlibatan sekolah dalam kegiatan UKS/PMR terus diperluas. Ke depan, seluruh lembaga pendidikan, terutama SMP negeri di bawah naungan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, diharapkan dapat berpartisipasi secara menyeluruh.

"Ke depan kami upayakan seluruh lembaga, utamanya yang di bawah naungan Dispendik Banyuwangi di lembaga SMP negeri akan kita libatkan secara menyeluruh," katanya.

Perluasan partisipasi tersebut diharapkan membuat pembinaan UKS/PMR tidak hanya berjalan di sekolah-sekolah tertentu. Semakin banyak sekolah terlibat, semakin luas pula kesempatan kader memperoleh pengalaman dan mengukur kemampuan dalam pertolongan pertama.

Jadi Ruang Belajar bagi Siswa Peminat Dunia Medis

Selain aspek kompetisi, Digi MR UKS/PMR juga dinilai memiliki nilai edukasi bagi siswa. Kegiatan tersebut membuka ruang bagi pelajar untuk mengenal keterampilan kesehatan dan pertolongan pertama sejak dini.

Bagi siswa yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan dan medis, pengalaman mengikuti kegiatan UKS/PMR dapat menjadi salah satu ruang untuk mengenali minat sekaligus mengembangkan keterampilan.

Ali menyampaikan apresiasi kepada seluruh sekolah yang telah berpartisipasi dalam Digi MR UKS/PMR. Dia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari konsolidasi dan kolaborasi antarsekolah dalam memperkuat layanan kesehatan di lingkungan pendidikan.

"Saya berterima kasih kepada seluruh sekolah yang telah berpartisipasi serta mengharapkan dukungan untuk program konsolidasi, semangat kolaborasi, dan sinergisitas karena ini juga ruang belajar yang penting bagi anak-anak sekaligus inspirasi dan modal dasar bagi anak-anak yang memiliki minat di bidang medis," pungkasnya.

Pada akhirnya, Digi MR UKS/PMR tidak hanya menghasilkan pemenang lomba. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cermin bagi sekolah untuk melihat kesiapan kader kesehatan, menemukan keterampilan yang masih perlu diperkuat, dan menyusun langkah pembinaan agar layanan pertolongan pertama di sekolah semakin tanggap. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Digi MR Banyuwangi PMR Banyuwangi UKS PMR Kader UKS pertolongan pertama