Bukan Sekadar Lomba, Digi MR Jadi Rapor Kemampuan UKS/PMR Banyuwangi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 08:00 WIB
Para pemenang dan peserta Digi UKS/PMR Tingkat Madya se-Banyuwangi foto bersama Bupati Ipuk Fiestiandani dan Ketua PMI Banyuwangi Mujiono di halaman timur Kantor Pemkab Banyuwangi, Minggu (27/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Para pemenang dan peserta Digi UKS/PMR Tingkat Madya se-Banyuwangi foto bersama Bupati Ipuk Fiestiandani dan Ketua PMI Banyuwangi Mujiono di halaman timur Kantor Pemkab Banyuwangi, Minggu (27/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 58 regu SMP/MTs se-Banyuwangi mengikuti Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) UKS/PMR Tingkat Madya, Minggu (27/9). Namun, kegiatan yang digelar di area Kantor Pemkab Banyuwangi itu tidak berhenti sebagai arena kompetisi. Digi MR sekaligus menjadi “rapor lapangan” untuk melihat kemampuan pertolongan pertama UKS/PMR di sekolah sekaligus memetakan keterampilan yang masih perlu diperkuat.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Banyuwangi Ali Mustofa mengatakan, setiap pos dalam Digi MR memberikan gambaran mengenai kemampuan kader UKS/PMR dalam menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan pertama.

Hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekolah untuk memperkuat layanan kesehatan sekaligus mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan Palang Merah Indonesia (PMI).

“Kegiatan Digi MR ini sangat bermanfaat sebagai bentuk konsolidasi bagi tim PMR/UKS di masing-masing sekolah sebagai layanan kebutuhan vital atau dasar yaitu kesehatan dan pertolongan pertama,” ujar Ali yang juga Kepala SMPN 1 Banyuwangi.

Bukan Sekadar Adu Cepat

Bagi sekolah, kemampuan pertolongan pertama merupakan salah satu layanan dasar yang dibutuhkan di lingkungan pendidikan.

Karena itu, kompetisi UKS/PMR seperti Digi MR menjadi ruang untuk menguji kemampuan siswa dalam situasi yang dibuat menyerupai tantangan pertolongan pertama.

Menurut Ali, dari pelaksanaan tersebut sekolah dapat melihat gambaran performa tim UKS/PMR masing-masing.

“Melalui kegiatan ini kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana performa layanan pertolongan pertama di masing-masing sekolah. Serta ini bisa kita jadikan bahan evaluasi untuk menghelat kegiatan berbasis PMI,” katanya.

Dengan kata lain, hasil perlombaan tidak hanya berhenti pada siapa yang menjadi pemenang. Pengalaman siswa di setiap pos juga dapat menjadi bahan untuk mengetahui keterampilan yang sudah dikuasai maupun kemampuan yang masih membutuhkan latihan.

Masih Ada Skill yang Perlu Diperkuat

Ali mengapresiasi pelaksanaan Digi MR yang dinilai berjalan dengan baik. Namun, kompetisi tersebut juga memperlihatkan bahwa kemampuan setiap kelompok UKS/PMR belum sepenuhnya merata.

Sejumlah keterampilan, terutama yang berkaitan dengan respons dan kemampuan menghadapi kondisi yang membutuhkan pertolongan pertama, masih perlu diperkuat.

“Kita melihat kegiatan ini sudah sangat luar biasa. Namun demikian tentu ada sisi di mana performa dari setiap kelompok UKS yang perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.

Temuan tersebut justru dinilai menjadi bagian penting dari kegiatan. Sebab, kompetisi dapat menjadi titik awal untuk menentukan materi pelatihan yang benar-benar dibutuhkan oleh kader UKS/PMR.

Dorong Diklat Kader Lebih Tangguh

Dari evaluasi tersebut, Ali mendorong adanya program lanjutan berupa penguatan keterampilan maupun pendidikan dan pelatihan bagi kader UKS/PMR.

Targetnya bukan sekadar membuat siswa mampu mengikuti perlombaan, tetapi memiliki kemampuan yang lebih tangguh dan responsif ketika menghadapi kebutuhan pertolongan pertama di lingkungan sekolah.

“Maka nanti ke depan perlu kita adakan kegiatan penguatan skill atau berupa diklat kader UKS/PMR yang lebih tangguh serta responsif terhadap kebutuhan layanan pertolongan pertama di masing-masing sekolah,” tegasnya.

Pelatihan lanjutan tersebut diharapkan membuat kemampuan yang diperoleh siswa tidak berhenti di arena kompetisi. Keterampilan itu dapat menjadi bekal ketika mereka menghadapi situasi nyata di lingkungan sekolah.

Peserta Akan Terus Diperluas

Ke depan, keterlibatan sekolah dalam kegiatan serupa juga akan diperluas.

Ali menyampaikan, pihaknya mengupayakan agar seluruh lembaga, terutama SMP negeri di bawah naungan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, dapat terlibat secara menyeluruh.

“Ke depannya kita upayakan seluruh lembaga, utamanya yang di bawah naungan Dispendik Banyuwangi di lembaga SMP negeri akan kita libatkan secara menyeluruh,” katanya.

Perluasan peserta diharapkan membuat konsolidasi UKS/PMR antarsekolah semakin kuat. Selain itu, semakin banyak siswa mendapat kesempatan mengasah keterampilan kesehatan dan pertolongan pertama.

Jadi Ruang Belajar dan Pintu Minat Medis

Ali juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sekolah yang telah berpartisipasi dalam Digi MR.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman lebih luas kepada siswa. Mereka tidak hanya belajar berkompetisi, tetapi juga belajar bekerja dalam tim, menghadapi tantangan, dan mengasah keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan.

“Saya terima kasih kepada seluruh sekolah yang telah berpartisipasi serta mengharapkan dukungan untuk program konsolidasi, semangat kolaborasi dan sinergitas karena ini juga ruang belajar yang penting bagi anak-anak sekaligus inspirasi dan modal dasar bagi anak-anak yang memiliki minat di bidang medis,” pungkasnya.

Pada akhirnya, 58 regu yang turun dalam Digi MR bukan hanya membawa target prestasi sekolah. Mereka juga membawa gambaran mengenai kesiapan kader UKS/PMR Banyuwangi dalam memberikan pertolongan pertama.

Dan dari “rapor” yang terlihat di lapangan itulah, sekolah memiliki pijakan untuk menentukan latihan berikutnya: skill mana yang sudah kuat dan kemampuan apa yang harus segera diperkuat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Digi MR Banyuwangi PMR Banyuwangi UKS PMR Kader UKS pertolongan pertama