RADAR BANYUWANGI – Kecanggihan teknologi tidak cukup jika kehilangan rasa kemanusiaan. Pesan itulah yang menjadi ruh Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) UKS/PMR Tingkat Madya, ketika 58 regu SMP/MTs se-Banyuwangi diuji kemampuan digital sekaligus kepedulian terhadap sesama di area Kantor Pemkab Banyuwangi, Minggu (27/9) pagi.
Para peserta tidak hanya dituntut piawai menuntaskan tantangan berbasis teknologi. Mereka juga harus sigap menghadapi simulasi pertolongan pertama, mampu bekerja dalam tim, bergerak cepat, serta mengambil keputusan ketika berhadapan dengan berbagai situasi yang membutuhkan respons dan kepedulian.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan. Menurutnya, teknologi yang semakin canggih tidak boleh membuat kepedulian terhadap orang lain justru semakin luntur.
“Inilah di mana digital digabungkan dengan hati. Karena ketika digital berdiri sendiri, tetapi jangan lupa teknologi yang canggih tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi benang merah Digi MR. Ajang yang digelar melalui kolaborasi Radar Banyuwangi, Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan, PMI Banyuwangi, dan PT Lundin itu tidak sekadar menghadirkan persaingan antarpelajar.
Lebih dari itu, Digi MR dirancang sebagai pengalaman belajar yang mempertemukan kemampuan digital dengan keterampilan kepalangmerahan dan nilai empati.
Lima Misi, Satu Tantangan: Bergerak Cepat dan Peduli
Dalam perlombaan tersebut, 58 regu harus menuntaskan lima misi dengan karakter tantangan yang berbeda.
Peserta menghadapi tantangan digital berbasis QR Code, kreativitas, pembuatan tandu darurat, simulasi pertolongan pertama, hingga edukasi kesehatan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi.
Setiap misi menuntut kemampuan yang berbeda. Namun, seluruh tantangan memiliki satu benang merah: peserta harus mampu bekerja sama dan merespons persoalan secara cepat dan tepat.
Bagi Ipuk, pengalaman tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengejar gelar juara.
“Hari ini (kemarin) kalian ditantang untuk menggabungkan keahlian digital serta peduli terhadap sesama,” katanya.
Dia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta selama Digi MR tidak berhenti setelah perlombaan berakhir. Kemampuan tersebut diharapkan dapat digunakan ketika peserta menghadapi kondisi darurat maupun saat menjumpai orang yang membutuhkan pertolongan.
“Bukan hanya niat juara, tetapi kedatangan kalian di sini untuk memupuk rasa empati, kepedulian sehingga ketika berada dalam kondisi bencana atau orang membutuhkan bantuan kalian siap, sigap dan peduli. Itulah poin penting perlombaan ini,” tegasnya.
PMI Dorong Generasi Muda Sigap Hadapi Bencana
Wakil Bupati Banyuwangi sekaligus Ketua PMI Banyuwangi Mujiono mengatakan, Digi MR sejalan dengan nilai yang dibangun PMI, terutama dalam hal kepedulian, empati, respons cepat, dan gotong royong.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 PMI.
“Ada lima misi yang ada di Digi MR ini. Salah satu yang selaras dengan tema PMI yaitu dengan peduli, empati. Jika ada bencana kemudian bergerak, respons cepat serta gotong royong untuk membantu bersama,” ujar Mujiono.
Menurutnya, pengalaman yang diperoleh peserta melalui Digi MR dapat menjadi bekal untuk membangun empati dan solidaritas sejak usia sekolah.
Kemampuan tersebut dinilai penting karena kepedulian terhadap sesama tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Siswa perlu memperoleh pengalaman langsung untuk mengetahui bagaimana harus bertindak ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekitar.
“Sehingga kita bisa menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sesama. Mudah-mudahan kita ke depan bisa menyelenggarakan kegiatan yang serupa yang bermanfaat bagi generasi muda dan masyarakat Banyuwangi,” katanya.
Belajar Tak Cukup Hanya di Ruang Kelas
Dari sisi pendidikan, Digi MR juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar siswa.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian mengatakan, kolaborasi dengan Radar Banyuwangi akan terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang memberikan ruang bagi siswa untuk belajar dari pengalaman langsung.
Menurutnya, pola pembelajaran harus mampu beradaptasi dengan perubahan. Siswa tidak hanya membutuhkan materi yang diperoleh di dalam kelas, tetapi juga kesempatan untuk menghadapi persoalan nyata.
“Agar adaptasi terhadap proses perubahan pembelajaran baru ini benar-benar bisa kita lakukan secara bersama-sama,” tuturnya.
Alfian menilai pengalaman seperti Digi MR memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasah kemampuan menyelesaikan masalah. Peserta dihadapkan pada tantangan yang mengharuskan mereka berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, sekaligus mengambil tindakan.
“Tidak mungkin kita memberikan ruang kelas sebagai satu-satunya proses pembelajaran. Tetapi dengan berbagai persoalan-persoalan di berbagai perguruan, kita berikan ruang anak-anak belajar untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupannya yang akan datang,” katanya.
Karena itu, Digi MR tidak hanya menempatkan siswa sebagai peserta kompetisi. Mereka juga menjadi pembelajar yang mendapatkan pengalaman langsung melalui rangkaian misi.
Kemampuan digital, keterampilan kepalangmerahan, respons cepat, kerja sama, kreativitas, dan kepedulian terhadap sesama diuji dalam satu rangkaian kegiatan.
Alfian mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang terus memberikan ruang pengalaman belajar bagi siswa di semua jenjang pendidikan di Banyuwangi.
“Kita berusaha untuk berikan pengalaman di semua jenjang yang ada di Banyuwangi untuk menjadi pengalaman belajar bagi anak-anak kita serta menguatkan komitmen terhadap pendidikan di Banyuwangi,” pungkasnya.
Dengan memadukan teknologi dan nilai kemanusiaan, Digi MR menempatkan kompetisi bukan semata tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan misi. Lebih jauh, peserta diajak memahami bahwa kemampuan digital akan semakin berarti ketika digunakan untuk membantu, merespons, dan peduli terhadap orang lain. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin