RADAR BANYUWANGI - Tungku kayu belum sepenuhnya hilang dari dapur masyarakat. Di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, alat memasak sederhana itu masih digunakan untuk mengolah sejumlah kuliner khas masyarakat Osing.
Di Warung Sapu Jagad, misalnya, kayu bakar dipakai untuk memasak pecel pitik, ayam uyah asem, nasi tempong, hingga beragam jajanan tradisional. Cara memasak itu sengaja dipertahankan.
“Pesan utama kami memang ingin menghadirkan kuliner khas yang dibuat sebagaimana warga setempat memasaknya di rumah masing-masing pada zaman dulu,” kata pemilik Warung Sapu Jagad, Mohammad Yazid Sofyan, seperti diberitakan KabarBaik.co pada Mei 2026.
Tradisi serupa telah diwariskan secara turun-temurun. Ketua Adat Desa Kemiren Suhaimik pernah menjelaskan bahwa proses memanggang ayam untuk pecel pitik menggunakan tungku dan kayu bakar merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat.
“Pemanggangan secara tradisional merupakan warisan leluhur,” ujarnya, sebagaimana dikutip detik.
Keberadaan tungku tradisional di tengah penggunaan kompor gas, listrik, dan induksi menunjukkan satu hal: perkembangan alat memasak berlangsung sangat panjang.
Kompor tidak lahir dari satu penemuan pada satu waktu. Teknologinya berkembang bertahap. Berawal dari kemampuan manusia mengendalikan api, membuat tungku, menggunakan besi, memanfaatkan gas, mengubah listrik menjadi panas, hingga memakai medan elektromagnetik.
Manusia Belajar Mengendalikan Api
Jauh sebelum ada kompor, manusia harus lebih dulu mampu menghasilkan dan mengendalikan api.
Penelitian yang diterbitkan jurnal Nature pada Desember 2025 menemukan bukti pembuatan api secara sengaja yang berusia sekitar 400 ribu tahun di Barnham, Suffolk, Inggris.
Para peneliti menemukan tanah yang pernah mengalami pemanasan, perkakas batu yang pecah karena panas, serta dua fragmen pirit besi. Material tersebut dapat menghasilkan percikan apabila dipukulkan dengan batu api.
Temuan itu penting karena pirit jarang ditemukan secara alami di lokasi tersebut. Para peneliti menduga material itu sengaja dibawa untuk membantu menghasilkan api.
British Museum menyebut temuan tersebut memundurkan bukti pembuatan api secara sengaja sekitar 350 ribu tahun dibandingkan bukti sebelumnya.
Dr Rob Davis dari British Museum menyebut kemampuan menghasilkan api sebagai salah satu tonggak penting perjalanan manusia.
“Kemampuan menciptakan dan mengendalikan api merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah manusia,” katanya.
Kemampuan tersebut membuat manusia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada api yang muncul secara alami. Api dapat dibuat, dipertahankan, kemudian digunakan untuk memperoleh kehangatan, perlindungan, penerangan, dan mengolah makanan.
Namun, memasak di atas api terbuka mempunyai banyak keterbatasan. Panas mudah menyebar. Posisi wadah sulit diatur. Bahan bakar juga harus terus dijaga.
Dari kebutuhan untuk memusatkan panas itulah berbagai bentuk perapian dan tungku berkembang.
Tungku Membuat Panas Lebih Terarah
Penggunaan struktur khusus untuk memasak telah berlangsung ribuan tahun.
British Museum memiliki koleksi bagian tungku atau anglo memasak dari tanah liat yang ditemukan di Naukratis, Mesir. Artefak dari sekitar abad ke-5 sebelum Masehi itu memiliki penyangga untuk wadah memasak dan menunjukkan bekas pembakaran akibat penggunaan.
Museum tersebut juga mencatat tungku portabel dan anglo telah dikenal di dunia Yunani setidaknya sejak periode Arkais.
Prinsipnya sederhana. Api tidak lagi sepenuhnya dibiarkan terbuka. Struktur tungku menopang wadah sekaligus membantu mengarahkan panas ke bagian bawah panci.
Prinsip yang sama masih dapat ditemukan pada tungku tradisional di berbagai daerah.
Bentuk, ukuran, dan materialnya berbeda. Namun, fungsinya relatif sama: mendekatkan sumber panas ke wadah memasak dan membuat proses pembakaran lebih terkendali.
Besi Mengubah Bentuk Dapur
Perubahan besar berikutnya terjadi ketika logam, terutama besi, semakin banyak digunakan untuk membuat alat memasak.
Pada abad ke-19, bentuk kompor mulai berkembang menjadi perangkat yang lebih terintegrasi. Api ditempatkan di ruang pembakaran. Bagian atas digunakan sebagai permukaan memasak. Sejumlah model bahkan telah dilengkapi oven.
Koleksi National Museum of American History milik Smithsonian menunjukkan model kompor yang dipatenkan James Wilson pada 1837. Perangkat tersebut telah memiliki kotak api, dua oven bertingkat, serta beberapa lubang untuk menempatkan wadah memasak.
Model lain yang dipatenkan Henry W. Camp pada 1844 juga mempunyai dua oven dan empat bukaan untuk alat masak.
Di Inggris, Science Museum Group menyimpan model open range dari periode 1841–1850.
Peralatan tersebut menjadi bagian dari masa transisi antara perapian terbuka dan closed range yang mampu menahan serta mengarahkan panas dengan lebih baik.
Penggunaan besi cor kemudian memungkinkan ruang pembakaran, oven, pelat memasak, dan jalur panas dirancang dalam satu perangkat.
Dapur perlahan berubah. Api tidak lagi berdiri sendiri. Sumber panas mulai menjadi bagian dari mesin memasak.
Gas Membuat Api Lebih Mudah Dikendalikan
Abad ke-19 juga menjadi masa berkembangnya penggunaan gas untuk memasak.
Laporan Historic England mencatat James Sharp sebagai salah satu pelopor penggunaan gas untuk kegiatan memasak.
Sekitar 1830, ketika bekerja sebagai asisten manajer Northampton Gas Company, Inggris, Sharp melakukan eksperimen dan demonstrasi memasak menggunakan gas.
Historic England mencatat perannya secara singkat.
“James Sharp memelopori banyak perkembangan awal dalam kegiatan memasak menggunakan gas.”
Setelah memperoleh dukungan Earl Spencer pada 1834, Sharp mulai memproduksi peralatan memasak gas secara komersial.
Pada 1850, ia dilaporkan mampu menyiapkan makanan untuk sekitar 120 orang dengan menggunakan kompor gas buatannya.
Meski demikian, kompor gas tidak langsung digunakan secara luas di rumah tangga. Historic England mencatat kegiatan memasak dengan gas baru semakin populer pada dekade 1870-an.
Teknologi itu membawa perubahan besar dibandingkan tungku berbahan kayu atau batu bara.
Pengguna tidak perlu terus-menerus memasukkan bahan bakar padat ke ruang pembakaran. Gas dapat dialirkan menuju pembakar. Nyala api pun dapat dinyalakan dan dihentikan dengan lebih praktis.
Para penemu kemudian terus memperbaiki bentuk pembakar, sistem aliran gas, serta pencampuran gas dengan udara.
Salah satunya terlihat dalam paten Amerika Serikat Nomor 180.334 yang diberikan kepada John A. Frey pada 25 Juli 1876. Paten tersebut menjelaskan rancangan kompor gas dengan pengaturan suplai gas dan udara menuju pembakar.
Listrik Mulai Masuk Dapur
Ketika pemanfaatan listrik berkembang pada abad ke-19, para penemu mulai mencari cara mengubah energi listrik menjadi panas.
Salah satu bukti awalnya dapat ditemukan dalam paten Amerika Serikat Nomor 25.532 milik George B. Simpson pada 20 September 1859.
Paten tersebut berjudul Improved Electrical Heating Apparatus atau perangkat pemanas listrik yang disempurnakan.
Simpson menggunakan kumparan kawat logam yang dialiri listrik dan ditempatkan pada material isolator.
Dalam dokumen patennya, Simpson menjelaskan bahwa perangkat tersebut dapat menghasilkan panas untuk sejumlah kebutuhan.
“Menghangatkan ruangan, merebus air, dan memasak makanan.”
Dokumen itu menunjukkan bahwa pada 1859 pemanasan listrik telah dipikirkan untuk kebutuhan memasak.
Namun, perangkat Simpson belum dapat disamakan dengan kompor listrik rumah tangga seperti yang dikenal sekarang.
Masih dibutuhkan perkembangan jaringan listrik, material elemen pemanas, sistem kendali, serta infrastruktur sebelum kompor listrik dapat digunakan secara luas.
Jamuan Listrik Jadi Pertunjukan
Lebih dari tiga dekade setelah paten Simpson, teknologi memasak dengan listrik mulai dipertontonkan kepada publik.
Pada 1892, penemu asal Kanada Thomas Ahearn memperoleh paten Nomor 39.916 untuk oven listrik.
Desain tersebut menempatkan elemen pemanas listrik di bagian dasar oven. Perangkat itu juga dilengkapi lampu sehingga makanan dapat diamati melalui kaca.
Pada 29 Agustus 1892, Ahearn menunjukkan kemampuan teknologi tersebut dalam sebuah jamuan di Windsor House Hotel, Ottawa.
Historical Society of Ottawa mencatat bahwa berbagai hidangan pada jamuan tersebut disiapkan menggunakan perangkat listrik buatan Ahearn.
Laporan Ottawa Journal saat itu bahkan menggunakan ungkapan yang cukup dramatis. Surat kabar tersebut menggambarkan hidangan itu sebagai makanan yang dimasak menggunakan:
“Petir yang dirantai.”
Ungkapan tersebut merujuk pada listrik yang ketika itu masih dianggap sebagai teknologi baru dan mengagumkan.
Jamuan tersebut menunjukkan perubahan penting. Listrik mulai dilihat bukan hanya sebagai sumber penerangan, tetapi juga sebagai energi yang dapat digunakan di dapur.
Namun, adopsinya tetap lambat.
Oven listrik pada masa itu masih mahal. Ukurannya besar. Jaringan listrik juga belum menjangkau banyak rumah.
Peralatan memasak listrik baru mendapat penerimaan lebih luas beberapa dekade kemudian.
Induksi Ternyata Bukan Gagasan Baru
Kompor induksi kerap dianggap sebagai teknologi dapur yang sepenuhnya modern.
Padahal, gagasan memanfaatkan elektromagnetisme untuk menghasilkan panas sudah muncul pada penghujung abad ke-19.
Buktinya terdapat dalam paten Amerika Serikat Nomor 487.285 milik Willis Mitchell yang diterbitkan pada 6 Desember 1892.
Mitchell menulis:
“Penemuan ini berkaitan dengan kompor yang dipanaskan menggunakan listrik dan induksi elektromagnetik.”
Rancangan Mitchell masih sangat berbeda dibandingkan kompor induksi berpermukaan kaca yang digunakan sekarang.
Namun, dokumen itu menunjukkan bahwa gagasan menggunakan efek elektromagnetik untuk menghasilkan panas telah dipikirkan lebih dari satu abad lalu.
Teknologinya kemudian terus berkembang.
Pada 1974, paten milik Ronald J. Cunningham menggambarkan sistem memasak induksi dengan kumparan yang ditempatkan di bawah permukaan keramik serta wadah memasak berbahan feromagnetik.
Konsep tersebut jauh lebih dekat dengan teknologi induksi modern.
Begini Cara Kerja Kompor Induksi
Kompor listrik konvensional dan kompor induksi sama-sama menggunakan energi listrik. Namun, cara menghasilkan panas berbeda.
Pada kompor listrik resistif, arus listrik terlebih dahulu memanaskan elemen pemanas. Panas dari elemen tersebut kemudian berpindah ke panci.
Pada kompor induksi, kumparan yang berada di bawah permukaan kaca menghasilkan medan elektromagnetik.
Medan tersebut menginduksi arus pada peralatan masak yang kompatibel. Panas kemudian terbentuk pada wadah memasak.
Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan:
“Panas dihasilkan dari dalam peralatan memasak itu sendiri.”
Karena itu, tidak semua panci dan wajan dapat digunakan pada kompor induksi. Peralatan memasak harus memiliki material yang dapat berinteraksi dengan medan magnet.
Teknologi tersebut juga memungkinkan panas diberikan lebih langsung kepada wadah memasak.
Editor : Lugas Rumpakaadi