1.725 Pelajar Bertemu di ISEF 2026, Risetnya dari Mikroplastik sampai Matematika

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 11:10 WIB
Dari mikroplastik hingga AI, pelajar mulai mengembangkan solusi untuk berbagai tantangan sains. (ChatGPT)
Dari mikroplastik hingga AI, pelajar mulai mengembangkan solusi untuk berbagai tantangan sains. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Origami, limbah ban, mikroplastik, kesehatan mental, hingga persamaan matematika menjadi bahan riset pelajar dalam Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF) 2026.

Skalanya tidak kecil. Sebanyak 1.725 finalis dari 65 negara, wilayah, dan teritori mengikuti kompetisi di Phoenix, Arizona, pada 9–15 Mei 2026. Mereka memperebutkan penghargaan, hadiah, dan beasiswa dengan nilai total lebih dari US$7 juta.

Proyek-proyek yang muncul memperlihatkan bagaimana pelajar menggunakan AI, simulasi, robotika, material baru, hingga matematika murni untuk menjawab persoalan nyata maupun pertanyaan ilmiah fundamental.

Penghargaan tertinggi jatuh kepada Hikaru Kuribayashi dari Sapporo, Jepang. Pelajar yang berusia 17 tahun ketika ISEF berlangsung itu memperoleh George D. Yancopoulos Innovator Award senilai US$100 ribu.

Hikaru mengembangkan program simulasi untuk memahami bagaimana material dapat dilipat dalam pola yang kompleks, seperti origami.

Metodenya menggunakan Markov Chain Monte Carlo. Alih-alih hanya menelusuri satu jalur pergerakan, pendekatan statistik tersebut memungkinkan simulasi mengambil sampel dari banyak kemungkinan konfigurasi.

Society for Science menyebut perangkat lunak Hikaru mampu memprediksi pola yang sudah dikenal, termasuk bagaimana sayap kepik dapat terlipat. Metode itu berpotensi membantu pengembangan benda yang harus disimpan dalam ruang kecil sebelum dibentangkan kembali, seperti layar surya atau solar sail satelit, perangkat medis, hingga shelter darurat.

“Origami dan mekanisme penghubung sudah digunakan di banyak bidang. Misalnya, beberapa satelit di orbit menggunakan panel surya berbasis origami,” ujar Hikaru dalam wawancara dengan B17 News yang diterbitkan 31 Juli 2026.

Persoalan lingkungan menjadi fokus sejumlah pemenang lainnya. Lakshmi Agrawal, 18, dari Bellevue, Washington, mengembangkan filter berbentuk spons dari limbah tanaman jute untuk menyaring 6PPD-quinone.

Zat tersebut terbentuk dari bahan kimia yang digunakan pada ban kendaraan dan dikaitkan dengan kematian salmon coho di wilayah Puget Sound.

Dalam pengujian laboratorium dengan air yang mengandung partikel ban, spons nanocellulose buatan Lakshmi mampu menghilangkan hingga 80 persen 6PPD-quinone.

Society for Science menyebut material tersebut membutuhkan 85 persen lebih sedikit energi untuk diproduksi dan berpotensi menekan biaya sekitar 98 persen dibandingkan alternatif yang ada. Spons itu juga dapat terurai secara alami.

Riset tersebut mengantarkan Lakshmi meraih Regeneron Young Scientist Award senilai US$75 ribu.

Mikroplastik menjadi sasaran Evan Budz, 15, asal Ontario, Kanada. Alih-alih mengambil sampel air dan menganalisisnya hanya di laboratorium, Evan membangun kamera holografik 3D bawah air yang dipasang pada robot mandiri berbentuk seperti penyu.

Dia kemudian melatih model AI untuk mengenali mikroplastik berukuran sangat kecil di dalam citra bawah air.

Model tersebut mencapai akurasi 94 persen dalam membedakan mikroplastik dari partikel lain. Evan mengujinya di 10 badan air dan memindai lebih dari 80 ribu citra 3D berisi partikel plastik serta mikroorganisme.

Proyek itu meraih Gordon E. Moore Award for Positive Outcomes for Future Generations senilai US$50 ribu.

AI juga digunakan untuk persoalan kesehatan mental. Anusha Arora, 15, mengembangkan HARMONI, perangkat terapi musik portabel yang menggunakan sensor pada jari dan menggabungkan 11 program AI.

Sistem tersebut membaca masukan fisiologis pengguna untuk mendeteksi kondisi emosional, kemudian menghasilkan musik adaptif secara real time.

Dalam sejumlah eksperimen awal, Society for Science melaporkan pengguna menunjukkan penurunan stres dan kecemasan sekaligus keterlibatan yang lebih tinggi selama sesi. Namun, hasil tersebut merupakan bagian dari penelitian pelajar dan bukan bukti bahwa perangkat itu telah menjadi terapi klinis yang tervalidasi.

Tidak semua penelitian berangkat dari masalah yang langsung terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Nikola Veselinov, 17, asal Sofia, Bulgaria, bekerja pada persoalan matematika fundamental.

Dia meneliti kondisi ketika persamaan meromorfik f(x)=a tidak dapat diselesaikan menggunakan fungsi elementer. Untuk itu, Nikola menggabungkan gagasan dari topologi, teori simetri, dan teori Galois.

Riset tersebut menghasilkan kondisi baru untuk menentukan kapan jenis persamaan tertentu tidak mempunyai solusi dalam bentuk fungsi elementer. Nikola meraih Regeneron Young Scientist Award senilai US$75 ribu.

Ragam proyek itu menunjukkan bahwa kompetisi sains pelajar bukan sekadar tempat mempertontonkan eksperimen kelas.

Peserta sudah berhadapan dengan persoalan pencemaran air, pemantauan mikroplastik, kesehatan, rekayasa struktur, kecerdasan buatan, hingga pertanyaan matematika yang kompleks.

Pengalaman tersebut juga dapat memberi pengaruh jauh setelah kompetisi berakhir.

Shantanu Gaur, alumnus ISEF 2003 dan 2004 yang kini menjadi pendiri sekaligus CEO Allurion Technologies, masih mengingat bagaimana kompetisi itu mengubah cara pandangnya terhadap riset.

“ISEF adalah pertama kalinya saya berkesempatan melihat seperti apa sains dan rekayasa yang benar-benar luar biasa,” kata Gaur dalam wawancara dengan Society for Science yang diterbitkan 17 September 2026.

Bagi Gaur, bertemu pelajar dari berbagai negara yang mengerjakan riset mutakhir juga memberinya sesuatu yang tidak kalah penting: komunitas.

Lebih dari dua dekade kemudian, pola yang sama masih terlihat. Dari origami yang dapat membantu rekayasa benda lipat hingga robot penyu yang memindai mikroplastik, ISEF 2026 memperlihatkan bagaimana pertanyaan ilmiah dapat muncul dari lingkungan sekitar, lalu berkembang menjadi riset yang jauh lebih besar.

Tidak semua proyek tersebut tentu langsung siap diterapkan di dunia nyata. Namun, kompetisi memberi pelajar ruang untuk melakukan sesuatu yang menjadi dasar sains: mengenali masalah, menyusun hipotesis, menguji gagasan, lalu menunjukkan apakah solusi mereka benar-benar bekerja.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ISEF 2026 Regeneron ISEF riset pelajar kecerdasan buatan mikroplastik