UNEJ Sulap Limbah Buah Naga Jadi Pakan, Petani Wringinpitu Makin Untung

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 08:35 WIB
UNEJ mendampingi petani buah naga Wringinpitu Banyuwangi lewat irigasi IoT, pengolahan limbah menjadi pakan dan pupuk, serta digital marketing. (Foto: UNEJ)
UNEJ mendampingi petani buah naga Wringinpitu Banyuwangi lewat irigasi IoT, pengolahan limbah menjadi pakan dan pupuk, serta digital marketing. (Foto: UNEJ)

RADAR BANYUWANGI — Persoalan air dan limbah tanaman buah naga yang selama ini menjadi tantangan petani di Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, mulai dijawab melalui teknologi. Universitas Jember (UNEJ) menghadirkan sumber air, sistem irigasi berbasis IoT, hingga mesin pencacah multifungsi untuk mengolah limbah buah naga menjadi pakan ternak dan pupuk organik.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut menyasar Kelompok Tani Sumber Rejeki dan berlangsung bertahap sejak Juni 2026. Pendampingan mencapai puncaknya melalui pelatihan bersama anggota kelompok tani pada Sabtu (19/9/2026).

Bukan sekadar membangun fasilitas, program tersebut dirancang agar petani mampu mengoperasikan sekaligus merawat sarana yang telah diberikan secara mandiri. Di sisi lain, limbah tanaman yang sebelumnya belum dimanfaatkan diarahkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

Dimulai dari Pemetaan Sumber Air

Kebutuhan air menjadi salah satu fokus utama program PKM UNEJ. Tahapan awal dilakukan dengan memetakan potensi sumber air menggunakan data satelit.

Pemetaan tersebut memberikan gambaran awal mengenai wilayah yang dinilai berpotensi memiliki sumber air tanah. Data kemudian diperkuat melalui pengujian geolistrik untuk membaca karakteristik lapisan bawah permukaan tanah.

Hasil kedua tahapan itu menjadi dasar dalam menentukan titik potensial sebelum proses pengeboran dilakukan.

Setelah titik ditetapkan, tim melanjutkan dengan pengeboran sumber air serta pembangunan dan instalasi sistem irigasi untuk mendistribusikan air ke lahan pertanian.

Langkah ini ditujukan untuk membantu petani mengelola kebutuhan air secara lebih efektif, terutama ketika ketersediaan air menjadi kendala dalam budidaya buah naga.

Petani Tak Hanya Diberi Fasilitas

Ketua Tim PKM UNEJ Hadziqul Abror menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya sarana fisik.

Kemampuan kelompok tani dalam mengoperasikan dan merawat fasilitas menjadi bagian penting dari pendampingan.

Teknologi UNEJ bantu petani Wringinpitu kelola air dan limbah buah naga. (Foto: Unej)
Teknologi UNEJ bantu petani Wringinpitu kelola air dan limbah buah naga. (Foto: Unej)

“Kami memulai dari identifikasi potensi sumber air, pengujian geolistrik, kemudian pengeboran hingga pembangunan sistem irigasi. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana fasilitas tersebut dapat dioperasikan dan dirawat sendiri oleh kelompok tani sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,” jelas Hadziqul.

Karena itu, petani mendapatkan pelatihan pengoperasian sistem irigasi, pemeriksaan instalasi, hingga perawatan dasar.

Harapannya, kelompok tani tidak bergantung sepenuhnya pada pihak luar ketika terjadi kendala teknis ringan pada fasilitas irigasi.

Limbah Buah Naga Diubah Jadi Pakan

Persoalan lain yang ikut disentuh adalah limbah tanaman buah naga.

Daun dan bagian tanaman yang tidak termanfaatkan selama proses budidaya berpotensi menjadi sisa pertanian. Melalui program ini, petani dilatih mengolah limbah tersebut menjadi bahan pakan ternak dan pupuk organik.

Proses pencacahan didukung mesin multifungsi. Teknologi tersebut membantu mempercepat penghancuran bahan sehingga lebih mudah diproses untuk tahap berikutnya.

Konsep tersebut membuat program tidak berhenti pada persoalan budidaya. Limbah pertanian diarahkan kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan, baik untuk kebutuhan peternakan maupun pertanian.

Dengan pendekatan tersebut, sisa tanaman tidak hanya dipandang sebagai buangan, tetapi sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna.

Pemasaran Ikut Diperkuat

Pendampingan UNEJ juga menyentuh sisi hilir. Anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki mendapatkan pelatihan marketing dan digital marketing.

Materinya meliputi strategi pemasaran, penguatan identitas produk, pemanfaatan media sosial, pembuatan konten promosi, hingga upaya memperluas jangkauan pasar melalui kanal digital.

Petani buah naga Banyuwangi dapat irigasi IoT dan mesin pengolah limbah. (Foto: Unej)
Petani buah naga Banyuwangi dapat irigasi IoT dan mesin pengolah limbah. (Foto: Unej)

Langkah ini menjadi bagian penting karena peningkatan produksi perlu diikuti kemampuan memasarkan produk.

Dengan pemanfaatan kanal digital, kelompok tani diharapkan tidak hanya mengandalkan pemasaran secara konvensional.

Petani Sambut Positif Pendampingan

Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Arif Sujadi menyambut positif rangkaian kegiatan yang diberikan UNEJ.

Penyediaan sumber air, pembangunan sistem irigasi, teknologi pengolahan limbah, serta pelatihan pemasaran dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan.

Program tersebut mempertemukan kebutuhan dasar budidaya dengan penguatan kapasitas kelompok tani.

Mulai dari air, pengelolaan fasilitas, pemanfaatan limbah, hingga pemasaran, seluruh tahapan diarahkan dalam satu rangkaian pemberdayaan.

Didanai Hibah BIMA 2026

Program bertajuk “Peningkatan Kemandirian Kelompok Tani Sumber Rezeki melalui Manajemen Irigasi Air Tanah Berbasis IoT dan Pemanfaatan Limbah Daun Buah Naga Menjadi Pakan Ternak dan Pupuk Organik” itu merupakan bagian dari Hibah BIMA skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Pendanaan 2026.

Pendanaan berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim program diketuai Hadziqul Abror dengan anggota Saifurridzal dan Imam Rudi Sugara. Program tersebut juga melibatkan empat mahasiswa dan bermitra dengan Kelompok Tani Sumber Rejeki yang diketuai Arif Sujadi.

Dari Air hingga Ekonomi Digital

Rangkaian pendampingan yang berlangsung sejak Juni 2026 tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih luas terhadap persoalan pertanian.

Sumber air dan irigasi menjadi fondasi untuk menjaga keberlanjutan budidaya. Kemampuan petani merawat fasilitas menjadi kunci keberlanjutannya. Sementara itu, pengolahan limbah membuka peluang pemanfaatan baru di sektor pertanian dan peternakan.

Di sisi lain, pelatihan marketing dan digital marketing diarahkan untuk memperkuat akses pasar.

Dengan pola tersebut, kolaborasi UNEJ dan Kelompok Tani Sumber Rejeki tidak hanya berorientasi pada pembangunan sarana, tetapi juga penguatan kemampuan petani.

Program itu diharapkan mendorong budidaya buah naga di Desa Wringinpitu menjadi lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
UNEJ Banyuwangi irigasi IoT limbah buah naga Wringinpitu Banyuwangi petani buah naga