RADAR BANYUWANGI – Persoalan ekonomi, kemacetan, isu perempuan, hingga fungsi kontrol organisasi terhadap kekuasaan mulai dibedah warga nahdliyin melalui Jagong Nahdliyin (Janin). Digagas Lakpesdam PCNU Banyuwangi bersama Jawa Pos Radar Banyuwangi, forum ini diarahkan bukan sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan inkubator gagasan yang mengolah riset dan data menjadi rekomendasi serta aksi nyata bagi warga dan daerah.
Janin resmi digelar perdana di Ruang Seblang, Gedung Grha Pena Banyuwangi, Senin (21/9). Forum tersebut menjadi ruang dialektika bagi warga nahdliyin untuk membicarakan berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di Bumi Blambangan.
Diskusi berlangsung dinamis. Sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari kondisi ekonomi masyarakat, persoalan kemacetan, kedudukan perempuan, hingga posisi dan fungsi kontrol PCNU terhadap kekuasaan dalam relasinya dengan Pemkab Banyuwangi.
Dirancang Jadi Forum Bulanan
Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi Purnomo menjelaskan, Janin diproyeksikan menjadi agenda rutin setiap bulan. Forum tersebut akan digunakan untuk membaca dinamika sosial masyarakat secara berkala sekaligus memperkuat fungsi riset formal organisasi.
Pada pertemuan perdana, Lakpesdam juga memaparkan rencana strategis berupa profiling komprehensif warga NU. Program tersebut diarahkan untuk menghasilkan basis data yang dapat digunakan dalam menyusun kebijakan dan program pemberdayaan warga nahdliyin.
“Data profiling tersebut tengah diarahkan untuk pengembangan program Kartu Tanda Anggota NU (KartaNU) yang terintegrasi dengan voucher penguatan ekonomi warga. Konsep ini sudah kami diskusikan secara intensif selama sebulan terakhir dan ke depan tema Janin akan terus berkembang mengikuti masukan para peserta,” ujar Purnomo.
Konsep tersebut menempatkan data warga bukan hanya sebagai kebutuhan administratif. Profil sosial dan ekonomi warga diharapkan dapat menjadi dasar untuk membaca kebutuhan sekaligus menentukan bentuk intervensi pemberdayaan yang lebih tepat.
Riset untuk Membaca Persoalan Umat
Wakil Ketua PCNU Banyuwangi Muhlisin menilai Lakpesdam memiliki posisi strategis karena berbagai persoalan kemasyarakatan membutuhkan perhatian sekaligus kajian berbasis data.
Menurut dia, hasil diskusi Janin dan riset lapangan yang dilakukan Lakpesdam dapat menjadi modal organisasi dalam menyusun gagasan yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan daerah.
Muhlisin juga mendorong penguatan konsolidasi internal lembaga. Dengan konsolidasi yang lebih kuat, Lakpesdam diharapkan tidak hanya bergerak pada urusan internal organisasi, tetapi mampu memberikan masukan taktis terhadap berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.
Jangan Berhenti Jadi Timbunan Data
Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi menyoroti tahapan setelah proses profiling dilakukan. Menurut dia, proyek pendataan warga NU dalam skala besar harus memiliki tujuan pemanfaatan yang jelas.
Data sosiologis, kata Samsudin, perlu dikonversi menjadi pijakan valid untuk menyusun strategi pemberdayaan umat. Dengan begitu, hasil profiling tidak berhenti sebagai kumpulan data atau kelengkapan administratif.
“Setelah data diperoleh, harus ditingkatkan pemanfaatannya menjadi isu strategis bagi umat, baru dari sana lahir gagasan dan aksi. Jika hasil profiling menunjukkan adanya kerentanan pada sektor finansial, data tersebut wajib langsung dijadikan landasan utama untuk menggagas dan membangun konsep kemandirian ekonomi warga nahdliyin secara makro,” tegas Samsudin.
Gagasan tersebut sekaligus memberi arah bagi Janin: persoalan yang dibicarakan tidak berhenti di meja diskusi. Data dan hasil riset diharapkan menjadi pintu masuk untuk merumuskan isu strategis, menyusun gagasan, kemudian diterjemahkan dalam aksi yang dapat dirasakan warga.
Dengan format tersebut, Jagong Nahdliyin tidak hanya menjadi forum bertukar pandangan. Janin diposisikan sebagai ruang yang mempertemukan dialektika, riset, data, dan gagasan pemberdayaan agar persoalan warga nahdliyin dapat dibaca lebih utuh dan ditindaklanjuti secara konkret. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin