RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 1.053 wisudawan dan wisudawati Universitas Ibrahimy (UNIB) Sumberejo, Banyuputih, Situbondo, resmi memasuki babak baru setelah menyelesaikan pendidikan dari 25 program studi jenjang diploma, sarjana, hingga magister. Namun, pesan utama Wisuda XXXV justru menegaskan bahwa toga dan ijazah bukan garis akhir, melainkan awal dari amanah untuk membawa ilmu menjadi pengabdian, akhlak, dan kebermanfaatan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda XXXV Universitas Ibrahimy yang digelar selama dua hari, Senin–Selasa, 21–22 September 2026, di Auditorium Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Hari pertama wisuda, Senin (21/9), menghadirkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi sebagai pemberi orasi ilmiah. Kehadirannya membawa satu pesan kuat kepada ribuan lulusan: ilmu yang diperoleh selama bertahun-tahun tidak boleh berhenti sebagai pencapaian akademik.
Toga Dilepas, Amanah Dimulai
Di hadapan para wisudawan, Arifatul mengajak lulusan memandang wisuda dari perspektif yang lebih luas. Menurut dia, kelulusan bukan penutup perjalanan pendidikan, tetapi pintu masuk menuju tanggung jawab yang lebih besar.
“Melihat wisuda ini bukan sebagai akhir perjalanan pendidikan, melainkan sebagai awal dari amanah yang lebih besar.”
Pesan itu kemudian diperdalam dengan pertanyaan mengenai tujuan ilmu setelah para lulusan kembali ke masyarakat.
“Untuk apa ilmu yang kita peroleh. Apakah hanya untuk mendapatkan gelar semata ataukah ilmu akan menjadi amal, pengabdian, keteladanan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.”
Bagi Arifatul, pendidikan idealnya tidak berhenti pada kecerdasan intelektual. Pengetahuan perlu berjalan bersama akhlak, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Sebab, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan akademik. Karakter, keluarga, relasi sosial, moralitas, perlindungan anak, kekerasan, hingga nilai-nilai kemanusiaan juga menjadi tantangan yang membutuhkan generasi dengan kapasitas lebih utuh.
“Bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas intelektual. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang berilmu, beriman, berakhlak, berintegritas dan mampu beradaptasi serta memiliki kepedulian sosial,” ujarnya.
Bukan Sekadar Membawa Ijazah
Karena itu, para lulusan Universitas Ibrahimy dinilai membawa lebih dari sekadar dokumen kelulusan ketika meninggalkan lingkungan kampus dan pesantren.
“Saudara-saudari tidak hanya membawa ijazah dari Universitas Ibrahimy, saudara-saudari juga membawa nilai tradisi keilmuan dan keteladanan Islam yang telah ditanamkan selama menempuh pendidikan,” katanya.
Pesan tersebut menemukan konteksnya dalam karakter Universitas Ibrahimy yang tumbuh berdampingan dengan tradisi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Sebanyak 1.053 lulusan yang dilepas dalam Wisuda XXXV menjadi gambaran skala pendidikan yang dijalankan kampus tersebut. Mereka berasal dari 25 program studi pada berbagai jenjang pendidikan.
Namun, angka tersebut sekaligus membawa pertanyaan lanjutan: bagaimana ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah dan lingkungan pesantren diterjemahkan setelah para lulusan kembali ke masyarakat?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu benang merah orasi ilmiah hari pertama.
Menyatukan Tafaqquh Fiddin dan Teknologi
Rektor Universitas Ibrahimy Dr. H. Khoirul Anwar, M.H.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa identitas UNIB tidak dapat dipisahkan dari tradisi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Menurut dia, Universitas Ibrahimy memiliki amanah untuk menyinergikan kedalaman ilmu keislaman atau tafaqquh fiddin dengan penguasaan sains dan teknologi.
“Universitas Ibrahimy yang tegak dan kokoh berdiri di atas paku bumi tradisi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo ... memiliki tugas dan amanah yang sangat besar dalam menyinergikan kedalaman ilmu keislaman, tafaqquh fiddin dan penguasaan sains dan teknologi.”
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan tantangan pendidikan tinggi berbasis pesantren. Tradisi keilmuan Islam tetap menjadi fondasi, sementara perkembangan sains dan teknologi menuntut kemampuan adaptasi yang semakin besar.
Universitas Ibrahimy kemudian merangkum arah tersebut melalui semboyan sebagai kampus pahlawan santri yang berteknologi dan berakhlak terpuji.
“Universitas Ibrahimy memiliki semboyan sebagai kampus pahlawan santri, berteknologi, berakhlak terpuji dan penerus perjuangan Nabi.”
Semboyan tersebut, kata Khoirul Anwar, terus digelorakan untuk menjaga semangat sivitas akademika dalam menghadapi berbagai tantangan.
Dua Hari, Dua Pesan Besar
Wisuda XXXV Universitas Ibrahimy berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama digelar Senin (21/9), sedangkan tahap kedua berlangsung Selasa (22/9).
Rangkaian hari pertama diwarnai orasi ilmiah Menteri PPPA mengenai pentingnya menjadikan ilmu sebagai amanah sosial.
Sementara pada hari kedua, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia Dr. (HC) H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si., dijadwalkan hadir dalam rangkaian wisuda.
Dengan demikian, pelaksanaan Wisuda XXXV bukan hanya menjadi agenda akademik untuk melepas 1.053 lulusan. Rangkaian tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara pendidikan tinggi, tradisi pesantren, pengabdian masyarakat, serta tantangan pembangunan manusia.
Tradisi Pesantren dan Tantangan Zaman
Wisuda XXXV turut dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy, Wakil Pengasuh Dr. (HC) KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag., Nyai Hj. Nur Sari As’adiyah, Kabid Dikti Dr. Minhaji, M.Pd.I., serta jajaran pimpinan Universitas Ibrahimy.
Hadir pula Rektor Dr. H. Khoirul Anwar, M.H.I., Wakil Rektor I Mohamat Hadori, S.Ag., M.A., Wakil Rektor II Hj. Djuwairiyah, Ph.D., dan Wakil Rektor III KH. Ach. Fadhail, S.H., M.H.
Sejumlah pejabat dan undangan juga hadir, di antaranya Plt. Staf Ahli Setda Provinsi Jawa Timur Dr. Akh. Jazuli, S.H., M.Si., Koordinator Kopertais IV Jawa Timur Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA, M.Phil., serta Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, S.Pd.I.
Ketua Panitia Wisuda XXXV Zainuddin, M.Pd., menyebut persiapan pelaksanaan telah dilakukan secara matang. Kehadiran Menteri PPPA dinilai menjadi motivasi bagi Universitas Ibrahimy untuk terus memperkuat pendidikan para mahasantri.
“Saya sangat bahagia dan bangga. Persiapan yang dilakukan sudah matang. Kedatangan Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak merupakan motivasi bagi Universitas Ibrahimy untuk semakin bergelora mendidik dan mencerdaskan mahasantri,” ujarnya.
Dia berharap rangkaian wisuda hari kedua dapat berjalan sesuai rencana.
Setelah Wisuda, Perjalanan Justru Dimulai
Pada akhirnya, angka 1.053 lulusan dari 25 program studi bukan sekadar statistik akademik. Di balik jumlah tersebut terdapat ribuan perjalanan pendidikan yang kini memasuki fase berbeda.
Toga dilepas. Ijazah diterima. Namun, amanah pendidikan belum selesai.
Di tengah masyarakat, para lulusan akan berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada ruang kuliah. Di sanalah nilai keilmuan, tradisi pesantren, akhlak, integritas, kemampuan beradaptasi, serta penguasaan sains dan teknologi diuji dalam kehidupan nyata.
Itulah makna yang mengemuka dari Wisuda XXXV Universitas Ibrahimy: pendidikan tidak berhenti ketika gelar diperoleh, tetapi menemukan maknanya ketika ilmu mampu memberi manfaat. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Situbondo