RADAR BANYUWANGI - Dari luar, salah satu sudut Pendopo Sabha Swagata Blambangan di Banyuwangi terlihat seperti gundukan bukit yang ditumbuhi rumput.
Namun, di balik “Bukit Teletubbies” tersebut terdapat guest house yang digunakan untuk menerima dan menginapkan tamu. Bangunan itu dikenal sebagai Green House atau guest house bunker.
Pendopo Sabha Swagata Blambangan sendiri telah berdiri sejak 1771. Kompleks tersebut kemudian direvitalisasi pada 2012 dengan melibatkan arsitek Adi Purnomo dan membawa pendekatan arsitektur hijau.
Pemkab Banyuwangi menyebut konsep tersebut memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi udara alami untuk mengurangi penggunaan energi listrik.
Salah satu bagian paling mencolok adalah guest house semi-bawah tanah dengan permukaan bangunan tertutup tanah dan rerumputan.
Ketika berkunjung pada Juni 2026, Raline Shah bahkan dibuat penasaran dengan bentuknya.
“Keren. Tidak kelihatan kalau ada ruangan di dalam. Suasananya juga adem, bikin betah,” ujarnya saat mengunjungi pendopo.
Apa Itu Earth-Sheltered Building?
Secara arsitektural, konsep seperti itu dikenal sebagai earth-sheltered atau earth-covered building.
Sebagian dinding, atap, atau tubuh bangunan berhubungan langsung dengan tanah, berbeda dari rumah konvensional yang sebagian besar selubung bangunannya terkena udara luar.
Tanah yang menutupi bangunan bukan hanya elemen visual.
Massa tanah dapat membantu meredam perubahan temperatur dari luar karena memiliki kapasitas menyimpan panas dan mengalami perubahan temperatur lebih lambat dibanding udara.
Department of Energy Amerika Serikat menjelaskan bahwa massa termal dapat “meratakan” pengaruh perubahan suhu lingkungan sehingga fluktuasi temperatur yang sampai ke sisi dalam bangunan menjadi lebih kecil.
Konsep tersebut berkaitan dengan earth coupling. Bangunan berhubungan dengan temperatur tanah yang relatif lebih stabil dibanding perubahan udara sepanjang hari. Panduan YourHome menyebut rumah yang tertutup tanah memperoleh perlindungan dari radiasi matahari sekaligus tambahan massa termal yang dapat membantu menstabilkan temperatur udara di dalam bangunan.
Bukan Berarti Otomatis Dingin Tanpa AC
Namun, bangunan yang tertutup tanah tidak otomatis selalu sejuk.
Efektivitas massa termal bergantung pada iklim.
Di daerah panas dan kering dengan perbedaan suhu siang-malam besar, massa termal dapat sangat efektif menyerap dan melepaskan panas secara bertahap.
Sebaliknya, panduan YourHome mengingatkan penggunaan massa termal tinggi di wilayah panas-lembap harus dirancang dengan hati-hati. Suhu malam yang tetap tinggi dapat membuat massa bangunan sulit membuang panas yang sudah diserap pada siang hari.
Karena Banyuwangi beriklim tropis, kenyamanan Green House tidak tepat dijelaskan hanya dengan keberadaan tanah.
Desain keseluruhannya ikut berperan. Pemkab Banyuwangi mencatat bangunan mengoptimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Dokumentasi guest house juga menunjukkan adanya bukaan dan sunroof yang memasukkan cahaya ke lorong serta ruang di dalamnya.
Tanah Juga Membawa Tantangan Air
Ada konsekuensi lain ketika atap dan dinding bersentuhan dengan tanah yakni air dan kelembapan.
Bangunan earth-covered membutuhkan lapisan kedap air serta drainase yang dirancang secara serius.
Panduan konstruksi YourHome menyebut waterproofing dan drainase yang tepat sebagai kebutuhan esensial pada bangunan tertutup tanah. Dindingnya juga harus mampu menahan tekanan lateral tanah dan tekanan air.
Department of Energy juga menekankan pentingnya mengarahkan air menjauh dari fondasi serta menggunakan sistem drainase untuk mencegah kelembapan masuk melalui bagian bangunan di bawah permukaan tanah.
Artinya, bentuk seperti bukit yang terlihat sederhana di permukaan sebenarnya membutuhkan perencanaan struktur yang cukup kompleks.
Arsitektur Menyatu dengan Lanskap
Keuntungan lainnya adalah aspek visual.
Ketika atap tertutup tanah dan vegetasi, batas antara bangunan dengan taman menjadi lebih samar. Guest house Pendopo Banyuwangi bahkan terlihat seperti bagian dari lanskap ketika diamati dari kejauhan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep arsitektur publik yang dikembangkan Banyuwangi.
“Banyuwangi ini membangun bersama arsitek, jadi tidak hanya memenuhi fungsinya namun juga unsur estetika,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada Juni 2026.
Arsitektur dapat memanfaatkan tanah, naungan, massa termal, cahaya alami, serta aliran udara untuk membantu menciptakan ruang yang lebih nyaman.
Namun, keberhasilannya bukan semata-mata karena bangunan “ditanam” di dalam tanah. Iklim, ventilasi, drainase, kedap air, insulasi, dan rancangan keseluruhan tetap menentukan apakah konsep tersebut benar-benar bekerja.
Editor : Lugas Rumpakaadi