RADAR BANYUWANGI - Ketika luas suatu wilayah ditulis dalam kilometer persegi atau jarak perjalanan dinyatakan dalam kilometer, angkanya terasa begitu biasa.
Namun, pernahkah terpikir mengapa satu kilometer di Banyuwangi memiliki panjang yang sama dengan satu kilometer di Paris, Tokyo, atau New York?
Jawabannya berhubungan dengan perjalanan panjang manusia membangun standar pengukuran yang dapat digunakan bersama.
Kilometer sendiri bukan satuan dasar dalam Sistem Internasional Satuan atau SI. Satuan dasar untuk panjang adalah meter. Awalan “kilo” berarti 1.000 sehingga satu kilometer sama dengan 1.000 meter. Ketentuan prefiks tersebut termasuk dalam sistem SI yang ditetapkan secara internasional.
Manusia Sudah Mengukur sejak Ribuan Tahun Lalu
Jauh sebelum meter lahir, berbagai peradaban telah mengenal sistem pengukuran.
Peradaban Lembah Indus, misalnya, menggunakan alat ukur dengan pembagian yang sangat kecil. Sebuah skala dari gading yang ditemukan di Lothal memiliki interval sekitar 1,704 milimeter.
Temuan tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap ukuran yang konsisten sudah muncul ribuan tahun lalu.
Masalahnya, masing-masing masyarakat mempunyai standar berbeda.
Ada yang menggunakan kaki, hasta, jengkal, atau depa. Ukuran semacam itu bahkan dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain sehingga menyulitkan perdagangan, pembangunan, maupun ilmu pengetahuan.
Revolusi Prancis Melahirkan Gagasan Meter
Perubahan besar terjadi di Prancis pada akhir abad ke-18.
Pada 1791, Académie des Sciences mengusulkan satuan panjang yang didasarkan pada ukuran Bumi. Satu meter ditetapkan sebagai sepersepuluh juta dari jarak seperempat meridian Bumi, dari khatulistiwa menuju kutub.
Semangatnya adalah membuat ukuran yang tidak bergantung pada tubuh manusia, benda milik kerajaan, atau kebiasaan suatu daerah.
Keputusan Prancis saat itu bahkan menekankan perlunya “satuan ukur yang alami dan tidak berubah” agar keseragaman dapat diterima bangsa lain.
Untuk menentukan nilainya, dilakukan pengukuran busur meridian antara Dunkerque di Prancis dan Barcelona di Spanyol.
Pekerjaan tersebut berlangsung bertahun-tahun. Pada 1799, hasilnya diwujudkan dalam standar platinum untuk meter yang kemudian disimpan di Archives de la République di Paris. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak lahirnya sistem metrik modern.
Dari Standar Prancis Menjadi Kesepakatan Internasional
Masalah berikutnya adalah bagaimana memastikan negara-negara berbeda menggunakan standar yang benar-benar sama.
Pada 20 Mei 1875, sejumlah negara menandatangani Metre Convention atau Konvensi Meter. Perjanjian internasional tersebut bertujuan menjamin penyatuan dan penyempurnaan sistem metrik sekaligus membentuk Bureau International des Poids et Mesures (BIPM).
Kemudian pada 1889, meter secara internasional direpresentasikan oleh batang prototipe yang dibuat dari paduan platinum-iridium dan disimpan di BIPM, Prancis.
Namun, ilmuwan kemudian menyadari sebuah masalah: standar yang bergantung pada satu benda fisik memiliki keterbatasan.
Jika teknologi pengukuran berkembang, dibutuhkan standar yang dapat direproduksi dengan presisi tinggi di berbagai laboratorium tanpa harus selalu membandingkannya dengan sebuah batang logam.
Meter Beralih dari Logam ke Atom
Pada 1960, definisi meter tidak lagi bergantung pada prototipe platinum-iridium.
Konferensi Umum untuk Ukuran dan Timbangan atau CGPM mendefinisikan meter berdasarkan panjang gelombang radiasi dari transisi tertentu atom kripton-86. Tujuannya meningkatkan ketelitian pengukuran.
Tahun 1960 juga menjadi tonggak lain.
CGPM secara resmi memberikan nama Système International d'Unités, disingkat SI, kepada sistem pengukuran internasional tersebut.
“Nama sistem ini adalah Sistem Internasional Satuan,” demikian keputusan CGPM yang diterjemahkan dari resolusi 1960.
SI kemudian berkembang menjadi bahasa pengukuran yang digunakan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan di seluruh dunia.
Kini Satu Meter Ditentukan oleh Kecepatan Cahaya
Kemajuan laser dan pengukuran waktu kemudian memungkinkan ilmuwan mengukur kecepatan cahaya dengan ketelitian yang jauh lebih tinggi.
Pada 1983, CGPM kembali mengubah definisi meter.
Kecepatan cahaya di ruang hampa ditetapkan tepat sebesar 299.792.458 meter per detik. Dari nilai tersebut, satu meter dapat dipahami sebagai panjang lintasan yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama 1/299.792.458 detik.
Sejak revisi SI yang berlaku pada 20 Mei 2019, seluruh sistem didasarkan pada tujuh konstanta alam. Namun, dasar meter pada kecepatan cahaya sebenarnya sudah berlaku sejak 1983. Revisi 2019 memperjelas dan menyelaraskan cara seluruh satuan SI didefinisikan.
Karena itu, ketika seseorang menyebut jarak 1 kilometer hari ini, ukuran tersebut bukan lagi bergantung pada penggaris tertentu yang disimpan di Prancis.
Satu kilometer adalah tepat 1.000 meter, sedangkan meter pada akhirnya ditautkan pada salah satu konstanta paling fundamental di alam semesta, yakni kecepatan cahaya.
Dari pengukuran Bumi pada masa Revolusi Prancis hingga fisika modern, perjalanan tersebut memungkinkan manusia di berbagai belahan dunia berbicara dengan bahasa ukuran yang sama.
Editor : Lugas Rumpakaadi