RADAR BANYUWANGI - Delapan puluh satu tahun lalu, ketika Republik Indonesia baru berusia sekitar satu bulan, dua kota menjadi panggung dua peristiwa penting pada hari yang sama.
Di Jakarta, rakyat memenuhi Lapangan Ikada.
Di Surabaya, para pemuda menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato dan merobek bagian birunya.
Tanggalnya sama, 19 September 1945.
Pada Sabtu, 19 September 2026, kisah itu kembali relevan untuk dikenang.
Di Surabaya, Teatrikal Perobekan Bendera tercantum dalam agenda kota untuk digelar pada 19 September di Hotel Majapahit, nama Hotel Yamato saat ini.
Peringatan serupa telah menjadi agenda tahunan yang melibatkan seniman, pelajar, komunitas sejarah, veteran, dan masyarakat.
Namun, ada satu hal yang perlu diperjelas sejak awal.
Rapat Raksasa Ikada di Jakarta dan Insiden Bendera Hotel Yamato di Surabaya bukanlah peristiwa yang sama.
Keduanya memang berlangsung pada 19 September 1945, tetapi terjadi di dua kota dengan pelaku dan rangkaian kejadian yang berbeda.
Perbedaan itu terlihat jelas dalam arsip sezaman.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), melalui Inventaris Arsip Foto IPPHOS 1945–1950, mencatat rangkaian foto Rapat Raksasa Ikada di Jakarta pada 19 September 1945.
Sementara itu, untuk peristiwa di Surabaya, ANRI menyimpan foto NIGIS nomor 511 dan 512 yang mendokumentasikan para pemuda ketika berusaha menurunkan bendera Belanda di Hotel Yamato.
Kesamaan tanggal keduanya justru memberikan gambaran yang lebih menarik mengenai Indonesia setelah Proklamasi.
Kemerdekaan telah diumumkan pada 17 Agustus 1945, tetapi kedaulatan Republik masih harus diperlihatkan dan dipertahankan di ruang publik.
Jakarta, 19 September 1945: Rakyat Menuju Lapangan Ikada
Di Jakarta, salah satu pusat perhatian pada hari itu adalah Lapangan Ikada, kawasan yang kini menjadi bagian dari kompleks Monumen Nasional.
Dalam Inventaris Arsip Foto IPPHOS 1945–1950, ANRI mencatat arsip nomor 18 hingga 25 yang semuanya bertanggal 19 September 1945 dan berkaitan dengan Rapat Raksasa Ikada.
Foto-foto itu antara lain memperlihatkan Presiden Soekarno sebelum memasuki arena, pengibaran Merah Putih, kedatangan Soekarno, sambutan Wali Kota Jakarta Suwirjo, Kasman Singodimejo, dan Iwa Kusumasumantri, pidato Soekarno, hingga rakyat yang memenuhi lapangan.
Arsip nomor 24 menjadi salah satu yang paling menarik.
Dalam keterangannya, ANRI menyebutkan bahwa Soekarno sedang memberikan sambutan yang antara lain meminta rakyat percaya kepada pimpinan dan pulang dengan tertib.
Redaksi yang lebih lugas mengenai pidato tersebut muncul dalam penelusuran sejarah yang dimuat Historia.
Dalam artikel tentang Rapat Ikada, Soekarno dikutip menegaskan:
“Kita tidak mundur satu patah katapun!”
Beberapa saat kemudian, perintahnya kepada massa bahkan lebih singkat:
“Pulanglah dengan tenang.”
Kutipan yang dimuat Historia itu selaras dengan keterangan foto primer IPPHOS di ANRI mengenai permintaan Soekarno agar rakyat mempercayai pimpinan dan meninggalkan lapangan dengan tertib.
Kombinasi kedua jenis sumber tersebut penting.
Foto IPPHOS merupakan dokumentasi sezaman, sedangkan reproduksi pidato memberi gambaran mengenai kata-kata yang dikaitkan dengan momen tersebut.
Di tengah keadaan Jakarta yang belum stabil setelah Jepang menyerah, kemampuan pemerintah Republik mengendalikan massa mempunyai makna tersendiri.
Rakyat telah datang dalam jumlah besar, sementara pasukan Jepang masih memiliki senjata dan kekuatan di lapangan.
Pertemuan itu dengan demikian bukan hanya demonstrasi dukungan terhadap kemerdekaan.
Peristiwa tersebut juga menjadi ujian kewibawaan pemerintahan yang baru lahir.
Jejak Rapat Ikada Masih Diperingati
Delapan puluh tahun kemudian, pada 19 September 2025, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar upacara peringatan Rapat Raksasa Ikada di Monumen Nasional.
Dalam siaran pers Pemprov DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menggambarkan kawasan tersebut sebagai ruang yang menyimpan memori politik panjang.
“Lapangan di depan Balai Kota ini bukan sekadar lapangan yang kosong.”
Menurut Pemprov DKI Jakarta, Rano mengingatkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat masyarakat meneguhkan kedaulatan bangsa pada 1945.
Peringatan modern itu menunjukkan bahwa Ikada tidak hanya bertahan sebagai nama sebuah peristiwa dalam buku sejarah.
Tempat, foto, arsip, dan upacara peringatan membuat memorinya terus diperbarui dari generasi ke generasi.
Namun, pada 19 September 1945, Jakarta bukan satu-satunya kota yang sedang menegaskan keberadaan Republik.
Pada Hari yang Sama, Ketegangan Terjadi di Surabaya
Ratusan kilometer dari Jakarta, Surabaya menghadapi persoalan yang berbeda.
Pusat peristiwanya adalah Hotel Yamato di Jalan Tunjungan, bangunan yang sebelumnya dikenal sebagai Oranje Hotel dan kini bernama Hotel Majapahit.
Di atas gedung itu berkibar bendera Belanda berwarna merah, putih, dan biru.
Dalam zaman sekarang, pengibaran sebuah bendera mungkin terlihat sebagai tindakan simbolis.
Namun, pada September 1945, ketika Republik baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, persoalan simbol tidak dapat dipisahkan dari persoalan kekuasaan.
ANRI, dalam publikasinya mengenai Insiden Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato, mencatat bahwa peristiwa pada 19 September itu didahului oleh gagalnya perundingan dengan W.V.C. Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda.
Setelah perundingan gagal, para pemuda memasuki Hotel Yamato dan terjadi perkelahian di lobi.
Sebagian pemuda kemudian berusaha mencapai bagian atas hotel.
Menurut catatan ANRI, Hariyono kembali masuk ke hotel dan terlibat dalam usaha mencapai tiang bendera.
Bersama Kusno Wibowo, ia disebut berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, lalu mengerek kembali bagian merah putih ke atas tiang.
Ketika bendera kembali dinaikkan, ANRI mencatat respons massa di bawah hotel dengan satu kata yang diulang-ulang:
“Merdeka!”
Pekik tersebut menjadi salah satu detail paling kuat dalam uraian resmi ANRI mengenai Insiden Hotel Yamato.
Kesaksian Wartawan dari Dekat Hotel Yamato
Kisah Hotel Yamato juga hadir melalui kesaksian orang-orang yang hidup pada masa tersebut.
Salah satunya adalah Wiwiek Hidayat, wartawan yang kemudian dikenal sebagai tokoh Kantor Berita ANTARA di Surabaya.
Dalam sejumlah penulisan sejarah pers di Jawa Timur, Wiwiek ditempatkan dekat dengan berbagai peristiwa revolusi di Surabaya.
Dalam penuturan Wiwiek yang kembali dikutip JatimKini pada 19 September 2025, ia menceritakan keterlibatannya ketika situasi di sekitar hotel memanas:
“Saya dan Sutomo (Bung Tomo) ... segera mendatangi Hotel Yamato.”
Kesaksian tersebut perlu dibaca sebagai ingatan saksi yang dituturkan kembali, bukan sebagai transkrip resmi peristiwa pada hari kejadian.
Meski demikian, kesaksian Wiwiek melengkapi foto-foto ANRI dengan perspektif orang yang berada dalam lingkungan pergerakan Surabaya ketika ketegangan berlangsung.
Wiwiek penting bukan karena ia disebut sebagai orang yang merobek bendera.
Ia tidak berada di puncak hotel untuk melakukan tindakan tersebut.
Nilainya sebagai sumber terletak pada kedekatannya dengan lingkungan tokoh dan wartawan yang merekam apa yang berlangsung di Surabaya saat itu.
Dua Foto ANRI Memperkuat Kisah Hotel Yamato
Untuk Insiden Surabaya, bukti visual menjadi sangat penting.
ANRI secara khusus mengidentifikasi NIGIS Wilayah Jakarta 1941–1946 nomor 511 sebagai foto para pemuda Surabaya setelah berhasil menaiki Hotel Yamato dan hendak menurunkan bendera Belanda.
Sementara itu, arsip nomor 512 memperlihatkan para pemuda setelah bendera Belanda berhasil diturunkan dan ketika mereka akan mengibarkan Merah Putih di atas gedung dengan dukungan masyarakat di sekitarnya.
Keberadaan kedua foto tersebut membuat kisah Hotel Yamato berbeda dari cerita sejarah yang hanya diwariskan melalui ingatan lisan.
Ada jejak visual yang tersimpan dalam lembaga arsip negara.
Foto memang tidak dapat menjelaskan seluruh percakapan dan pertikaian yang terjadi di dalam hotel.
Namun, foto tersebut memberikan pijakan konkret bahwa mobilisasi massa dan tindakan di bagian atas gedung benar-benar terdokumentasikan.
Mengapa Bagian Biru yang Dirobek?
Secara teknis, tindakan itu sederhana.
Bendera Belanda terdiri atas tiga bidang warna: merah, putih, dan biru.
Ketika bagian birunya dihilangkan, yang tersisa adalah merah dan putih.
Namun, pada September 1945, perubahan tiga warna menjadi dua warna mempunyai arti politik yang jauh melampaui tindakan merobek kain.
Portal data cagar budaya Pemerintah Kota Surabaya mencatat bahwa gerakan pengibaran Merah Putih telah berkembang setelah pemerintah menyerukan pengibaran bendera nasional pada akhir Agustus 1945.
Insiden di Hotel Yamato menjadi salah satu titik penting dalam perebutan simbol kedaulatan di ruang publik.
Merah Putih tidak hanya berfungsi sebagai identitas visual negara yang baru menyatakan kemerdekaan.
Bendera juga menunjukkan otoritas yang hendak diakui di suatu wilayah.
Karena itu, tindakan di Hotel Yamato dapat dipahami sebagai perubahan simbol kekuasaan secara langsung: warna yang diasosiasikan dengan pemerintahan kolonial dihilangkan, kemudian bendera Republik dikibarkan kembali.
Kisah Itu Terus Diperagakan 81 Tahun Kemudian
Peristiwa Hotel Yamato tidak berhenti menjadi koleksi arsip.
Pemerintah Kota Surabaya secara rutin menggelar pertunjukan teatrikal di kawasan Hotel Majapahit.
Dalam publikasi resminya, Pemkot Surabaya mencatat bahwa pementasan pada 21 September 2025 melibatkan sekitar 1.000 pemain dari kalangan seniman dan pelajar.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, yang dalam pertunjukan itu memerankan Residen Soedirman, mengatakan:
“Jangan pernah hilang sejarah bagaimana pengorbanan seluruh masyarakat Surabaya.”
Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia menjelaskan alasan kisah perobekan bendera terus dipentaskan kepada masyarakat.
Dalam publikasi yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Surabaya Hidayat Syah juga menegaskan bahwa pertunjukan tersebut bukan semata-mata tontonan.
“Skenario teatrikal ini tak hanya sekadar rekonstruksi sejarah.”
Pemkot Surabaya menempatkan pementasan tersebut sebagai sarana edukasi publik bagi generasi muda mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Untuk September 2026, sejumlah agenda publik di Surabaya kembali mencantumkan Teatrikal Perobekan Bendera sebagai kegiatan pada 19 September di Hotel Majapahit.
Artinya, 81 tahun setelah kejadian aslinya, lokasi yang sama masih digunakan untuk menghidupkan kembali memori peristiwa tersebut.
Ikada dan Hotel Yamato Bukan Satu Peristiwa
Kesamaan tanggal ternyata juga dapat menimbulkan kekeliruan dalam pemberitaan.
Dalam artikel yang terbit pada 19 September 2026, detikSulsel menyebut Hari Perobekan Bendera di Hotel Yamato “juga dikenal sebagai peristiwa Ikada”.
Catatan arsip tidak mendukung penyamaan tersebut.
Rapat Raksasa Ikada terjadi di Jakarta.
Insiden Hotel Yamato terjadi di Surabaya.
Inventaris IPPHOS milik ANRI secara eksplisit menempatkan foto nomor 18 hingga 25 dalam kategori “Rapat Raksasa di Lapangan IKADA” pada 19 September 1945 di Jakarta.
Keterangan salah satu foto menyebutkan bahwa Soekarno meminta rakyat percaya kepada pimpinan dan pulang dengan tertib.
Untuk Hotel Yamato, ANRI mencatat peristiwa terpisah di Surabaya serta menunjuk arsip NIGIS nomor 511 dan 512 sebagai dokumentasinya.
Dengan demikian, keduanya bukan dua nama untuk kejadian yang sama.
Justru fakta bahwa keduanya berlangsung pada tanggal yang sama membuat 19 September 1945 semakin menarik untuk ditelaah.
Satu Tanggal, Dua Cara Menegaskan Republik
Jika Jakarta dan Surabaya ditempatkan berdampingan, terlihat dua bentuk tindakan politik yang berbeda.
Di Jakarta, ekspresinya berupa mobilisasi rakyat dalam jumlah besar.
Masyarakat mendatangi Lapangan Ikada.
Tokoh-tokoh Republik hadir.
Merah Putih dikibarkan.
Soekarno berbicara kepada massa, kemudian meminta mereka pulang dengan tertib.
Di Surabaya, simbol kedaulatan menjadi pusat konflik.
Bendera Belanda berkibar di Hotel Yamato.
Perundingan untuk menurunkannya gagal.
Para pemuda masuk ke hotel, mencapai bagian atas bangunan, menurunkan bendera, merobek bagian biru, kemudian mengibarkan kembali Merah Putih.
Metodenya berbeda, tetapi keduanya berhadapan dengan pertanyaan yang sama, apa arti Proklamasi 17 Agustus jika kedaulatan Republik Indonesia belum terlihat dalam kehidupan sehari-hari?
Di Jakarta, jawabannya muncul melalui pertemuan antara rakyat dan pemimpin Republik Indonesia.
Di Surabaya, jawabannya muncul melalui perebutan sebuah simbol.
Kemerdekaan Tidak Selesai pada 17 Agustus
Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan tonggak berdirinya Republik Indonesia.
Namun, peristiwa-peristiwa setelahnya memperlihatkan bahwa kemerdekaan tidak serta-merta menjadi kenyataan politik yang mapan setelah teks Proklamasi selesai dibacakan.
Pemerintahan baru harus memperoleh kepercayaan rakyat.
Simbol negara harus hadir di ruang publik.
Otoritas lama belum sepenuhnya hilang, sementara kekuatan baru mulai datang ke Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Itulah yang membuat 19 September 1945 layak ditempatkan lebih dekat dengan 17 Agustus dan 10 November dalam pembacaan sejarah awal Republik Indonesia.
Pada tanggal itu, Jakarta dan Surabaya memperlihatkan dua wajah sebuah negara yang baru lahir.
Di Ikada, seorang presiden berdiri di hadapan massa dan berkata, “Pulanglah dengan tenang.”
Di Surabaya, setelah bagian biru bendera Belanda dirobek, dari bawah Hotel Yamato terdengar pekik, “Merdeka!”
Dua kalimat pendek tersebut berasal dari dua peristiwa yang berbeda.
Namun, keduanya menggambarkan persoalan yang sama pada hari-hari awal Republik Indonesia.
Setelah kemerdekaan diumumkan, kemerdekaan itu masih harus dipercaya, diperlihatkan, dan dipertahankan.
Editor : Lugas Rumpakaadi