RADAR BANYUWANGI - Memasuki bangunan dengan atrium sering kali memberikan pengalaman ruang yang berbeda.
Pandangan tidak berhenti pada dinding atau koridor, tetapi bergerak ke atas menuju ruang yang tinggi, cahaya alami, jembatan penghubung, balkon, hingga lantai-lantai yang saling terlihat.
Ruang kosong di tengah bangunan tersebut bukan sekadar elemen untuk menciptakan kesan megah.
Jika dirancang dengan tepat, atrium dapat membantu membawa cahaya ke bagian dalam bangunan, menjadi pusat orientasi, menghubungkan aktivitas antarlantai, hingga menyediakan ruang sosial yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan.
Architerms menggambarkan posisi atrium di dalam bangunan dengan kalimat sederhana.
“Jika sebuah bangunan memiliki 'ruang keluarga', maka atrium-lah tempatnya.”
Jika sebuah bangunan memiliki semacam “ruang keluarga”, atrium dapat mengambil peran tersebut, yaitu menjadi pusat yang menghubungkan ruang, manusia, cahaya, dan aktivitas di dalam bangunan.
Apa Itu Atrium dalam Arsitektur?
Atrium adalah ruang terbuka bervolume besar yang biasanya berada di bagian tengah atau bagian penting sebuah bangunan.
Ruang ini dapat menjulang melewati beberapa lantai dan sering dikelilingi koridor, balkon, ruang kerja, kamar, toko, atau fungsi lainnya.
Tidak semua atrium terbuka langsung ke langit.
Dalam bangunan modern, bagian atas atrium sering menggunakan jendela atap (skylight) atau atap kaca sehingga cahaya matahari tetap dapat masuk, sementara ruang di bawahnya terlindungi dari hujan dan perubahan cuaca.
Whole Building Design Guide (WBDG) menjelaskan bahwa atrium modern banyak ditemukan pada gedung perkantoran, fasilitas kesehatan, perpustakaan, hotel, gedung pengadilan, hingga fasilitas pendidikan.
Atrium juga kerap ditempatkan di area pintu masuk utama, jalur sirkulasi publik, atau ruang khusus yang menjadi pusat perhatian di dalam bangunan.
Konsep atrium sebenarnya bukan hal baru.
Pada masa Romawi Kuno, atrium merupakan area terbuka di bagian tengah rumah.
Seiring perkembangan arsitektur, konsep ruang tengah tersebut berubah dalam skala dan fungsi hingga diterapkan pada hotel, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, rumah sakit, museum, serta berbagai bangunan publik modern.
Cahaya Alami Menjadi Salah Satu Kekuatan Atrium
Salah satu daya tarik utama atrium adalah kemampuannya membawa cahaya alami lebih jauh ke bagian dalam bangunan.
Pada bangunan dengan denah yang dalam, area yang jauh dari dinding luar cenderung lebih sulit memperoleh cahaya matahari secara langsung.
Kehadiran atrium dapat menciptakan bukaan baru di tengah massa bangunan sehingga ruang-ruang yang menghadap ke atrium memiliki akses lebih baik terhadap cahaya alami.
“Atrium dapat difungsikan sebagai area pencahayaan alami. Manfaatkan pencahayaan alami untuk mengurangi konsumsi energi melalui penggunaan *skylight* dan dinding kaca,” tulis WBDG.
Dengan kata lain, atrium dapat berfungsi sebagai ruang penerima cahaya yang membantu mendistribusikan pencahayaan alami melalui jendela atap dan bidang kaca.
Jika sistem pencahayaan bangunan dirancang secara terpadu, strategi tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap pencahayaan buatan pada waktu tertentu.
Namun, semakin banyak kaca tidak selalu berarti semakin baik.
Ukuran jendela atap, jenis kaca, orientasi bangunan, bentuk atrium, kedalaman ruang, serta intensitas sinar matahari perlu diperhitungkan secara bersamaan.
Penelitian mengenai geometri atrium menunjukkan bahwa proporsi ruang dan ukuran jendela atap dapat memengaruhi kondisi pencahayaan sekaligus lingkungan termal di dalam bangunan.
Tantangan Atrium di Iklim Tropis
Prinsip desain atrium dari wilayah beriklim dingin tidak dapat begitu saja diterapkan pada bangunan di Indonesia.
Di wilayah tropis yang menerima radiasi matahari cukup tinggi, jendela atap berukuran besar dapat memasukkan cahaya sekaligus panas dalam jumlah signifikan.
Akibatnya, atrium yang tampak terang secara visual belum tentu nyaman secara termal.
Penelitian Menthdy Wartiono dari Universitas Katolik Parahyangan terhadap bangunan beratrium di Bandung mencatat, “penggunaan skylight yang berfungsi sebagai penerangan alami memberi dampak terhadap peningkatan suhu di dalam bangunan.”
Pada objek yang diteliti, beberapa strategi desain yang digunakan antara lain ventilasi pada jendela atap, ventilasi ganda pada ruang di sekitar atrium, serta elemen peneduh horizontal dan vertikal.
Studi lain mengenai atrium di kawasan tropis juga menunjukkan adanya risiko ketidaknyamanan termal akibat panas dan radiasi matahari.
Karena itu, ventilasi silang, bukaan pada bagian atas, elemen peneduh, karakteristik kaca, serta hubungan atrium dengan ruang di sekitarnya menjadi bagian penting dalam proses perancangan.
Dengan demikian, tujuan desain bukan sekadar membuat atrium seterang mungkin, melainkan mencari keseimbangan antara cahaya, panas, ventilasi, dan kenyamanan pengguna.
Atrium Juga Dapat Membantu Pergerakan Udara
Ruang atrium yang tinggi memberikan peluang untuk memanfaatkan pergerakan udara secara vertikal.
Udara panas cenderung bergerak ke bagian atas.
Dengan penempatan bukaan masuk dan keluar yang tepat, karakter vertikal atrium dapat dimanfaatkan untuk membantu ventilasi alami melalui efek cerobong (stack effect).
WBDG merekomendasikan penggunaan bukaan rendah sebagai jalur masuk udara dan bukaan tinggi sebagai jalur keluar udara untuk membantu menciptakan efek tersebut.
Namun, efektivitasnya tetap dipengaruhi oleh geometri bangunan, ukuran bukaan, kondisi angin, perbedaan suhu, serta strategi ventilasi secara keseluruhan.
Karena itu, atrium tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai ruang kosong yang kemudian ditutup menggunakan kaca.
Atrium perlu dirancang sebagai bagian dari sistem lingkungan bangunan secara menyeluruh.
Dari Ruang Kosong Menjadi Pusat Aktivitas
Nilai atrium juga terletak pada kemampuannya menghubungkan manusia dan berbagai aktivitas di dalam bangunan.
Dari lantai dasar, pengguna dapat melihat aktivitas di lantai atas.
Sebaliknya, balkon dan koridor yang menghadap ke atrium menciptakan hubungan visual antara berbagai bagian bangunan.
Kondisi ini dapat membantu pengguna memahami orientasi dan susunan ruang dengan lebih mudah.
Atrium dapat dimanfaatkan sebagai lobi, ruang tunggu, area pertemuan informal, ruang acara, tempat duduk, hingga area pameran.
WBDG bahkan menyarankan agar desain atrium mempertimbangkan fleksibilitas penyimpanan furnitur dan peralatan untuk mendukung kegiatan seremonial maupun pameran.
Pada pusat perbelanjaan, atrium dapat digunakan untuk instalasi seni dan berbagai acara.
Pada kantor atau kampus, atrium dapat menjadi ruang pertemuan informal. Sementara itu, pada hotel dan bangunan publik, atrium sering menjadi ruang pertama yang membentuk kesan pengunjung terhadap keseluruhan bangunan.
Atrium sebagai Ruang Hijau di Dalam Bangunan
Atrium juga memberikan kesempatan untuk menghadirkan unsur alam ke bagian dalam bangunan.
Tanaman, taman interior, material alami, dan elemen air dapat ditempatkan di dalam atrium untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat antara ruang dalam dan lingkungan alami.
Namun, tanaman tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai dekorasi.
WBDG menyarankan agar kebutuhan setiap jenis tanaman terhadap cahaya, suhu, dan aliran udara diperhitungkan dalam desain atrium.
Dalam konteks tropis, konsep atrium semi-terbuka dan desain biofilik juga menjadi objek berbagai penelitian.
Kajian terhadap bangunan pendidikan di Bangkok, misalnya, menempatkan suhu udara, kelembapan, kecepatan udara, pencahayaan alami, area hijau, serta hubungan visual dengan lingkungan sebagai parameter penting dalam menilai kualitas atrium.
Dengan demikian, atrium hijau yang baik bukan sekadar menghadirkan pohon di tengah ruangan.
Vegetasi perlu menjadi bagian dari strategi ruang, pencahayaan, ventilasi, serta kenyamanan pengguna.
Unsur Lokal Bisa Membuat Atrium Memiliki Identitas
Atrium modern tidak harus selalu identik dengan kaca, baja, marmer, dan tampilan yang seragam.
Di Indonesia, ruang tersebut justru dapat menjadi tempat untuk memperlihatkan karakter lokal melalui material, karya seni, pola, kerajinan, vegetasi, hingga interpretasi bentuk arsitektur tradisional.
Banyuwangi memberikan contoh menarik mengenai bagaimana arsitektur dapat digunakan untuk membangun identitas suatu tempat.
Penelitian Susilo Kusdiwanggo dan Alya Lailatul Azizah dari Universitas Brawijaya terhadap sejumlah proyek arsitektur publik di Banyuwangi menyatakan, "Arsitektur dimanfaatkan secara strategis sebagai sarana untuk mengubah identitas kota."
Penelitian tersebut tidak secara khusus membahas atrium.
Namun, temuannya menunjukkan bahwa elemen arsitektur dan representasi budaya lokal dapat digunakan untuk membentuk identitas ruang dan citra kota.
Prinsip yang sama dapat menjadi inspirasi dalam merancang atrium.
Alih-alih menjadikannya ruang kosong yang generik, bagian tengah bangunan dapat menampilkan instalasi seni lokal, kerajinan, vegetasi khas daerah, maupun interpretasi pola dan material setempat.
Dengan pendekatan tersebut, atrium tidak hanya menjadi pusat bangunan secara fisik, tetapi juga dapat menjadi ruang yang menceritakan lokasi dan budaya tempat bangunan itu berdiri.
Atrium yang Baik Bukan Sekadar Atrium yang Besar
Kesan luas memang menjadi salah satu daya tarik atrium, tetapi ukuran bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan desain.
Atrium yang baik perlu mempertimbangkan proporsi ruang, distribusi cahaya, panas matahari, ventilasi, akustik, struktur, keselamatan, sirkulasi pengguna, pemeliharaan kaca, hingga fungsi yang berlangsung di dalamnya.
WBDG juga memasukkan persoalan silau, sistem tata udara, pencahayaan, tanaman, aksesibilitas, hingga keselamatan balkon sebagai bagian dari pertimbangan desain atrium.
Terutama di wilayah tropis seperti Indonesia, keseimbangan antara transparansi dan perlindungan terhadap panas menjadi hal penting.
Jendela atap berukuran besar dapat menghasilkan ruang yang dramatis, tetapi tanpa elemen peneduh, pemilihan kaca, dan ventilasi yang tepat, kualitas visual tersebut dapat dibayar dengan ketidaknyamanan termal.
Kekuatan atrium bukan terletak pada ruang kosongnya.
Kekuatan tersebut muncul ketika ruang kosong mampu membawa cahaya ke dalam bangunan, membantu pengguna memahami ruang, mempertemukan berbagai aktivitas, menghadirkan unsur alam, serta memberikan identitas yang tidak ditemukan pada bangunan lain.
Di tangan perancang yang tepat, atrium bukan lagi sekadar lubang besar di tengah bangunan.
Atrium dapat menjadi jantung bangunan, tempat arsitektur, manusia, cahaya, udara, dan budaya bertemu dalam satu ruang.
Editor : Lugas Rumpakaadi