RADAR BANYUWANGI - Kopi kerap menjadi pilihan ketika rasa kantuk datang.
Kandungan kafein di dalamnya dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa mengantuk.
Namun, jumlah kafein yang masuk ke tubuh tetap perlu diperhatikan karena efeknya dapat berbeda pada setiap orang.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebutkan bahwa konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang dewasa.
Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) juga menyimpulkan bahwa konsumsi hingga 400 miligram kafein per hari dari seluruh sumber tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan bagi orang dewasa sehat yang tidak sedang hamil.
Angka tersebut bukan berarti setiap orang memiliki batas yang sama.
Sensitivitas terhadap kafein dapat dipengaruhi oleh berat badan, kondisi kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, serta kebiasaan mengonsumsi kafein.
Bagaimana kafein membuat tubuh tetap terjaga?
Kafein tidak bekerja dengan meniru molekul adenosin.
Mekanisme utamanya adalah menghambat atau menjadi antagonis terhadap reseptor adenosin di sistem saraf pusat, terutama reseptor A1 dan A2A.
Adenosin merupakan salah satu senyawa yang berperan dalam mengatur rasa kantuk dan aktivitas saraf.
Ketika kafein menghambat kerja adenosin pada reseptornya, sinyal yang berkaitan dengan rasa lelah dan kantuk berkurang sehingga seseorang dapat merasa lebih waspada.
Karena itu, efek kopi lebih tepat disebut sebagai peningkatan kewaspadaan sementara, bukan sebagai pemberian "energi cadangan" kepada tubuh.
Berapa banyak kafein dalam secangkir kopi?
Jumlah kafein tidak selalu sama pada setiap cangkir kopi.
Jenis kopi, ukuran sajian, kadar sangrai, dan metode penyeduhan dapat memengaruhi jumlah kafein yang dikonsumsi.
EFSA memberikan beberapa angka sebagai gambaran.
Espresso sebanyak 60 mililiter mengandung sekitar 80 miligram kafein, sedangkan kopi saring sebanyak 200 mililiter mengandung sekitar 90 miligram.
Angka tersebut merupakan perkiraan dan kandungan aktual dapat berbeda pada setiap produk dan metode penyajian.
Karena itu, menghitung konsumsi berdasarkan jumlah "cangkir" saja kurang akurat.
Menghitung total miligram kafein dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam sehari memberikan gambaran yang lebih baik.
Apa yang terjadi jika terlalu banyak kafein?
Konsumsi kafein yang melebihi toleransi seseorang dapat menimbulkan sejumlah keluhan, antara lain gelisah, tremor atau gemetar, sakit kepala, mual, gangguan lambung, dan gangguan tidur.
FDA juga mencantumkan kecemasan serta rasa berdebar atau gelisah sebagai tanda bahwa seseorang mungkin mengonsumsi terlalu banyak kafein.
Efeknya tidak selalu sama pada setiap orang.
Seseorang yang sensitif terhadap kafein dapat mengalami keluhan pada jumlah yang lebih rendah dibandingkan orang lain.
Pada kondisi konsumsi yang sangat tinggi, situasinya berbeda dari sekadar minum kopi terlalu banyak.
Keracunan kafein akut dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular dan neurologis, termasuk takikardia atau gangguan irama jantung, gangguan tekanan darah, muntah, tremor, hingga kejang.
Analisis terhadap 216 kasus keracunan kafein yang dipublikasikan hingga 2023 menemukan bahwa kasus berat dapat disertai kejang dan takikardia kompleks lebar.
Studi tersebut juga menemukan bahwa dosis pada kasus keracunan sangat bervariasi sehingga tidak tepat menetapkan satu angka sederhana sebagai dosis pasti yang akan menyebabkan keracunan pada semua orang.
Dengan kata lain, batas konsumsi harian 400 miligram tidak boleh disamakan dengan dosis keracunan.
Keracunan akut umumnya melibatkan konsumsi kafein dalam jumlah jauh lebih besar, terutama dari sumber kafein pekat seperti bubuk atau tablet, bukan sekadar beberapa cangkir kopi biasa.
Siapa yang perlu lebih memperhatikan konsumsi kafein?
Rekomendasi konsumsi kafein tidak selalu sama untuk semua kelompok.
EFSA menyatakan bahwa konsumsi hingga 200 miligram per hari tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan bagi janin pada perempuan hamil.
Orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang menggunakan obat-obatan juga dapat memiliki respons berbeda terhadap kafein.
Karena penilaian EFSA mengenai batas aman tersebut ditujukan terutama untuk populasi sehat, orang yang memiliki penyakit atau menggunakan obat tertentu sebaiknya mempertimbangkan rekomendasi tenaga kesehatan yang mengetahui kondisi individunya.
Kafein juga dapat memengaruhi tidur.
EFSA mencatat bahwa dosis tunggal 100 miligram dapat memengaruhi durasi dan pola tidur pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi mendekati waktu tidur.
Benarkah perubahan iklim mengancam produksi kopi?
Selain persoalan konsumsi, industri kopi juga menghadapi tantangan akibat perubahan iklim.
Sejumlah penelitian memodelkan perubahan wilayah yang secara klimatologis sesuai untuk produksi kopi pada masa mendatang.
Salah satu penelitian global yang diterbitkan dalam jurnal Climatic Change memperkirakan bahwa perubahan iklim dapat mengurangi luas wilayah yang sesuai untuk produksi kopi secara global sekitar 50 persen pada berbagai skenario emisi.
Dampaknya diperkirakan lebih besar di wilayah dengan lintang dan ketinggian rendah, sementara sejumlah wilayah dengan ketinggian atau lintang lebih tinggi dapat menjadi relatif lebih sesuai.
Penelitian lain yang berfokus pada kopi Arabika juga menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat mengubah kesesuaian wilayah produksi hingga sekitar pertengahan abad ini.
Dampaknya berbeda antarwilayah dan tidak berarti seluruh lahan kopi akan hilang.
Indonesia pun termasuk wilayah yang telah diteliti.
Sebuah studi pemodelan mengenai kopi Arabika di zona produksi Indonesia memperkirakan bahwa luas wilayah yang secara iklim dan topografi sesuai di zona produksi saat ini dapat mengalami perubahan besar hingga 2050.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup tajam antarwilayah.
Oleh karena itu, dampak perubahan iklim terhadap kopi Indonesia tidak dapat diringkas sebagai kehilangan lahan dalam jumlah yang sama di seluruh daerah.
Perlu dicatat, angka sekitar 50 persen tersebut merujuk pada proyeksi perubahan luas wilayah yang dinilai sesuai secara klimatologis dalam model, bukan berarti 50 persen lahan perkebunan kopi dunia akan langsung menjadi tidak produktif.
Editor : Lugas Rumpakaadi