Sering Bicara Sendiri Saat Sendirian? Ini yang Sebenarnya Terjadi

Desila Aini Hidayah • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 11:11 WIB
Bicara sendiri saat sedang berpikir, mencari barang, atau mengerjakan sesuatu dapat menjadi bentuk self-talk dalam kehidupan sehari-hari. (ChatGPT)
Bicara sendiri saat sedang berpikir, mencari barang, atau mengerjakan sesuatu dapat menjadi bentuk self-talk dalam kehidupan sehari-hari. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pernah sedang mencari kunci, mengerjakan tugas, lalu tiba-tiba berkata, “Tadi aku taruh di mana, ya?”

Padahal, tidak ada orang lain di sekitar?

Atau mungkin pernah mengatakan, “Oke, kerjakan yang ini dulu,” saat sedang menyelesaikan pekerjaan.

Ada juga yang spontan berkata, “Aduh, lupa lagi,” setelah menyadari sesuatu.

Kebiasaan berbicara kepada diri sendiri seperti itu cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bentuknya bisa berupa ucapan yang terdengar jelas maupun percakapan dalam hati.

Dalam psikologi, kebiasaan ini sering disebut self-talk atau percakapan dengan diri sendiri.

Lantas, apakah sering bicara sendiri merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan?

Bicara sendiri bisa menjadi bagian dari proses berpikir

Tidak semua self-talk berarti seseorang sedang mengalami masalah.

Dalam banyak situasi, berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengatur pikiran, membuat rencana, atau menghadapi situasi tertentu.

Misalnya, ketika lupa meletakkan barang, seseorang mungkin mengucapkan pertanyaan dengan suara keras sambil mencoba mengingat kembali apa yang dilakukan sebelumnya.

“Terakhir tadi aku bawa ke kamar. Berarti mungkin ada di meja.”

Kalimat tersebut dapat membantu mengarahkan proses berpikir dan mengingat kembali langkah yang sebelumnya dilakukan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2025 menunjukkan bahwa berbicara kepada diri sendiri merupakan fenomena yang umum.

Dalam penelitian tersebut, Kathryn E. Schertz dan rekan-rekannya mengamati 208 peserta selama dua minggu menggunakan metode ecological momentary assessment.

Secara keseluruhan, penelitian tersebut menghasilkan 12.966 laporan pengalaman sehari-hari.

Para peneliti menyebut bahwa, “Berbicara kepada diri sendiri merupakan fenomena yang umum”. 

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa orang menggunakan perspektif yang berbeda ketika melakukan self-talk, termasuk berbicara dari sudut pandang diri sendiri maupun menggunakan jarak psikologis tertentu.

Dengan demikian, berbicara kepada diri sendiri bukan hanya perilaku yang muncul dalam situasi tertentu di laboratorium.

Kebiasaan tersebut juga dapat muncul dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Cara berbicara kepada diri sendiri juga bisa berpengaruh

Salah satu penelitian yang banyak dikutip mengenai self-talk dilakukan Ethan Kross dan sejumlah peneliti dari University of Michigan, Michigan State University, serta University of California, Berkeley.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2014 tersebut terdiri atas tujuh studi dengan total 585 peserta.

Para peneliti menguji apakah cara seseorang menyebut dirinya sendiri ketika melakukan introspeksi dapat memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perilakunya ketika menghadapi tekanan sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata ganti orang kedua atau nama sendiri, dibandingkan dengan kata “aku” atau “saya”, dapat meningkatkan apa yang disebut peneliti sebagai self-distancing, yaitu mengambil jarak psikologis dari pengalaman yang sedang dihadapi.

Dalam kesimpulannya, Kross dan rekan-rekannya menulis bahwa “perubahan kecil dalam bahasa yang digunakan orang untuk merujuk pada diri sendiri” dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur pikiran, perasaan, dan perilakunya ketika menghadapi tekanan sosial.

Sederhananya, cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri dapat membantu melihat suatu masalah dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Misalnya, seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit dapat mengatakan, “Aku pasti gagal,” atau mencoba mengambil jarak dengan bertanya, “Apa yang perlu dilakukan sekarang?”

Penelitian tersebut menemukan bahwa kelompok yang menggunakan bentuk self-talk dengan jarak psikologis menunjukkan hasil yang lebih baik dalam sejumlah tugas yang berkaitan dengan tekanan sosial.

Namun, hasil tersebut tidak berarti semua bentuk bicara sendiri otomatis memberikan manfaat.

Pengaruhnya bergantung pada cara self-talk digunakan.

Bicara sendiri dapat membantu mengarahkan perhatian

Self-talk juga dapat digunakan untuk memberikan instruksi kepada diri sendiri.

Contohnya:

“Baca soal ini dulu.”

“Kerjakan bagian yang paling mudah.”

“Jangan lupa cek lagi sebelum dikumpulkan.”

Ucapan seperti itu dapat berfungsi sebagai instruksi sederhana untuk menjaga perhatian tetap pada tugas yang sedang dilakukan.

Penelitian tentang self-talk menemukan adanya hubungan antara jenis self-talk tertentu dan perhatian.

Namun, hal tersebut tidak berarti berbicara sendiri selalu membuat seseorang lebih fokus dalam semua keadaan.

Sebagai contoh, penelitian eksperimental yang diterbitkan dalam PLOS ONE pada 2023 menguji efek motivational self-talk dan instructional self-talk terhadap kontrol perhatian dalam kondisi gangguan suara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa instructional self-talk menurunkan tingkat kesalahan pada salah satu tugas perhatian dalam kondisi tertentu.

Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa self-talk dapat menjadi salah satu strategi untuk membantu mengarahkan perhatian dalam situasi tertentu, bukan bahwa berbicara sendiri selalu meningkatkan konsentrasi.

Mengapa kita kadang mengucapkannya dengan suara keras?

Self-talk tidak harus selalu terjadi di dalam kepala.

Seseorang bisa berpikir dalam hati, tetapi pada situasi tertentu pikiran tersebut juga dapat diucapkan.

Misalnya ketika sedang mencari barang, memasak mengikuti resep, memperbaiki sesuatu, atau mencoba mengingat langkah pekerjaan.

Contohnya ketika seseorang sedang mencari barang:

“Di meja tidak ada. Coba lihat di tas.”

Dengan mengucapkannya, orang tersebut seperti memberikan instruksi kepada dirinya sendiri mengenai langkah berikutnya.

Penelitian Schertz dan rekan-rekannya juga menunjukkan bahwa self-talk dalam kehidupan sehari-hari dapat muncul dalam berbagai konteks, termasuk ketika seseorang mempersiapkan apa yang hendak dikatakan atau dilakukan, ingin merasa lebih baik, sedang mengkritik diri sendiri, atau merasa senang terhadap dirinya.

Menariknya, penelitian tersebut menemukan bahwa distanced self-talk, yaitu cara berbicara kepada diri sendiri dengan jarak psikologis, lebih jarang digunakan dibandingkan immersed self-talk.

Namun, ketika seseorang perlu mempersiapkan apa yang akan dikatakan atau dilakukan, distanced self-talk berkaitan dengan suasana hati sesaat yang lebih baik.

Artinya, fungsi self-talk dapat berbeda-beda bergantung pada situasi yang sedang dihadapi.

Bicara sendiri juga bisa muncul saat sedang kesal atau senang

Self-talk tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan atau pemecahan masalah.

Ketika menemukan barang yang sejak tadi dicari, seseorang mungkin spontan berkata:

“Oh, ternyata di sini.”

Ketika melakukan kesalahan:

“Kenapa tadi tidak dicek dulu?”

Ketika hendak menghadapi tugas yang sulit:

“Pelan-pelan saja. Selesaikan satu per satu.”

Ucapan tersebut dapat menjadi respons terhadap emosi atau situasi yang sedang dihadapi.

Penelitian Schertz dan rekan-rekannya menemukan bahwa orang menggunakan self-talk dalam beberapa kondisi emosional dan situasional.

Dalam penelitian tersebut, peserta melaporkan pengalaman self-talk ketika sedang bersikap kritis terhadap diri sendiri, mempersiapkan sesuatu, ingin merasa lebih baik, maupun ketika merasa senang terhadap dirinya.

Karena itu, isi dan konteks percakapan dengan diri sendiri juga penting, bukan hanya apakah seseorang berbicara sendiri atau tidak.

Kapan bicara sendiri perlu diperhatikan?

Berbicara kepada diri sendiri tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental. Konteks pengalaman tersebut penting.

Self-talk berbeda dengan pengalaman mendengar suara yang dirasakan berasal dari sumber lain atau halusinasi.

Jika seseorang mengalami suara atau pengalaman perseptual yang tidak dipahami sebagai pikirannya sendiri, terlebih jika pengalaman tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari atau menimbulkan tekanan, evaluasi dari tenaga kesehatan mental dapat diperlukan.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah ketika percakapan dengan diri sendiri berubah menjadi kritik terhadap diri yang berlangsung terus-menerus, membuat seseorang semakin tertekan, atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, seseorang tidak dapat dinilai mengalami gangguan tertentu hanya karena ia pernah berbicara sendiri.

Jadi, apakah sering bicara sendiri itu normal?

Jika seseorang sesekali berbicara kepada dirinya sendiri ketika sedang berpikir, mencari sesuatu, mengerjakan tugas, mengatur langkah, atau memberikan respons terhadap situasi, hal tersebut dapat menjadi bagian dari self-talk sehari-hari.

Penelitian primer terbaru menunjukkan bahwa berbicara kepada diri sendiri memang merupakan fenomena yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, penelitian eksperimental sebelumnya menunjukkan bahwa cara seseorang melakukan self-talk dapat berkaitan dengan regulasi pikiran, perasaan, dan perilaku dalam kondisi tertentu.

Jadi, jika suatu hari Anda sedang sendirian lalu berkata, “Tadi kuncinya aku taruh di mana, ya?”, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh.

Bisa jadi Anda hanya sedang membantu diri sendiri mengingat, mengatur pikiran, atau menentukan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Yang lebih penting bukan sekadar apakah seseorang berbicara sendiri, tetapi apa yang dikatakan, dalam situasi seperti apa, dan apakah kebiasaan tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
bicara sendiri self-talk penyebab bicara sendiri bicara sendiri saat sendirian kesehatan mental