Kenapa Warna Baju Bisa Pudar Setelah Dijemur? Ternyata Bukan Sekadar karena Panas

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 15:36 WIB
Paparan cahaya matahari secara berulang dapat memicu pemudaran warna pada pakaian, tergantung jenis kain dan pewarna yang digunakan. (ChatGPT)
Paparan cahaya matahari secara berulang dapat memicu pemudaran warna pada pakaian, tergantung jenis kain dan pewarna yang digunakan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pernah merasa warna baju kesayangan semakin kusam setelah berkali-kali dijemur?

Banyak orang mengira penyebabnya adalah kain yang terlalu panas akibat terkena terik matahari.

Padahal, pemudaran warna pakaian tidak sesederhana itu.

Cahaya matahari dapat memicu perubahan kimia pada molekul pewarna yang terdapat pada serat tekstil.

Radiasi ultraviolet (UV) merupakan salah satu faktor yang berperan, tetapi bukan satu-satunya.

Fenomena tersebut juga dibahas oleh akun YouTube @LhohKok dalam sebuah video Shorts.

Dalam video itu, @LhohKok menjelaskan perbedaan antara pakaian yang terkena matahari dan kain yang dibakar menggunakan api.

“Beda kalau kena matahari, suhunya jauh di bawah 100 derajat Celsius. Panas segini enggak punya tenaga buat ngebakar kain,” ujar @LhohKok dalam video tersebut.

Penelitian tentang pewarna tekstil menunjukkan bahwa pemudaran warna akibat cahaya, atau photofading, memang terjadi melalui proses fotokimia.

Namun, mekanismenya lebih kompleks daripada sekadar kain yang menjadi panas.

Kenapa Warna Baju Bisa Pudar?

Warna pakaian berasal dari molekul pewarna yang memberikan karakter warna pada serat tekstil.

Ketika kain terkena cahaya dalam waktu lama, energi cahaya dapat diserap oleh molekul pewarna dan memicu perubahan kimia.

Perubahan tersebut dapat mengubah struktur molekul yang menghasilkan warna.

Akibatnya, kemampuan pewarna untuk menyerap dan memantulkan cahaya berubah sehingga warna kain terlihat semakin pucat.

Proses ini dikenal sebagai photofading atau pemudaran akibat cahaya.

Salah satu penelitian primer yang dilakukan Batchelor dan rekan-rekannya menguji 16 pewarna reaktif komersial yang diaplikasikan pada kain katun.

Setelah mendapatkan paparan simulasi sinar matahari Florida selama 15 jam, seluruh pewarna yang diuji mengalami pemudaran.

Peneliti menyimpulkan bahwa:

“Mekanisme pemudaran akibat cahaya dari pewarna reaktif komersial pada katun disebabkan oleh cahaya UV dan cahaya tampak.”

Temuan ini menunjukkan bahwa warna pakaian tidak selalu memudar hanya karena radiasi UV.

Cahaya tampak yang dapat dilihat mata juga dapat berperan dalam proses pemudaran.

Karena itu, pernyataan “baju pudar karena sinar UV” sebenarnya merupakan penyederhanaan.

Jenis pewarna menentukan seberapa besar kontribusi UV dan cahaya tampak terhadap proses tersebut.

Bagaimana Sinar UV Memengaruhi Pewarna?

Radiasi UV memiliki energi yang dapat diserap oleh molekul pewarna.

Setelah menyerap cahaya, molekul tersebut dapat berada dalam keadaan berenergi lebih tinggi dan kemudian mengalami berbagai proses, termasuk reaksi fotokimia.

Penelitian Amanda L. Forster dan rekan-rekannya terhadap kain katun yang diberi pewarna merah, kuning, dan biru menemukan bahwa paparan cahaya dapat menyebabkan kehilangan warna yang terukur.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati perubahan warna menggunakan teknik microspectrophotometry.

Hasilnya menunjukkan adanya kehilangan warna dan perubahan karakteristik penyerapan cahaya pada ketiga warna yang diuji.

Para peneliti menjelaskan:

“Pemudaran pada umumnya disebabkan oleh paparan tekstil yang telah diberi pewarna terhadap cahaya tampak, dengan panjang gelombang 400-700 nanometer, dan cahaya ultraviolet, dengan panjang gelombang 290-400 nanometer, biasanya dalam kondisi terdapat oksigen dan kelembapan.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa proses pemudaran tekstil dapat melibatkan cahaya tampak maupun UV, sementara oksigen dan kelembapan juga dapat berperan dalam proses tersebut.

Mekanismenya juga tidak sesederhana foton yang bertindak seperti “gunting” dan langsung memutus ikatan pewarna dengan kain.

Ketika molekul pewarna menyerap cahaya, molekul tersebut dapat mengalami beberapa jalur reaksi fotokimia yang pada akhirnya mengubah atau merusak struktur kimianya.

Karena struktur molekul pewarna berubah, karakter optiknya pun dapat berubah dan warna kain menjadi semakin pucat.

Apakah Penyebabnya Hanya Sinar UV?

Tidak.

Ini merupakan bagian yang perlu diperjelas dari anggapan umum tentang pakaian yang dijemur.

Penelitian Batchelor dan rekan-rekannya menemukan bahwa kontribusi cahaya berbeda-beda bergantung pada jenis pewarna.

Pada pewarna azo yang diuji, cahaya tampak menjadi faktor dominan, sedangkan pada pewarna phthalocyanine, UV lebih dominan.

Peneliti menyebutkan:

“Cahaya tampak merupakan faktor dominan untuk pewarna azo, sedangkan UV merupakan faktor dominan untuk phthalocyanine.”

Artinya, tidak semua pewarna merespons cahaya dengan cara yang sama.

Jenis dan struktur kimia pewarna sangat menentukan bagaimana warna tersebut mengalami pemudaran.

Jadi, kurang tepat jika semua pakaian dikatakan memudar terutama karena UV.

Untuk sebagian pewarna, cahaya tampak justru dapat menjadi jalur yang lebih penting.

Apakah Panas Matahari Tidak Berpengaruh?

Panas tetap merupakan faktor yang perlu dibedakan dari radiasi cahaya.

Pakaian yang dijemur di bawah matahari memang menyerap energi sehingga suhunya meningkat.

Namun, kenaikan suhu tersebut tidak sama dengan proses pembakaran.

Pembakaran merupakan reaksi kimia yang menghasilkan perubahan material jauh lebih drastis.

Sementara itu, pemudaran warna dapat berlangsung melalui reaksi fotokimia pada molekul pewarna tanpa membuat kain langsung terbakar atau menjadi arang.

Penelitian Batchelor dan rekan-rekannya juga menemukan adanya perbedaan mekanisme antara pemudaran akibat cahaya tampak dan pemudaran akibat UV.

Oksigen ditemukan berperan pada pemudaran yang dipicu cahaya tampak, tetapi tidak dengan cara yang sama pada pemudaran akibat UV.

Dalam penelitian tersebut disebutkan:

“Oksigen diperlukan untuk pemudaran akibat cahaya tampak, tetapi tidak untuk pemudaran akibat UV pada pewarna, yang menunjukkan adanya dua mekanisme fotodegradasi.”

Dengan demikian, pemudaran warna akibat paparan matahari bukanlah proses pembakaran kain.

Ada reaksi fotokimia yang dapat terjadi pada molekul pewarna tanpa menyebabkan kain langsung gosong.

Apakah Semua Baju Sama Mudahnya Pudar?

Tidak.

Ketahanan warna terhadap cahaya atau light fastness dipengaruhi oleh karakteristik pewarna dan bahan tekstil.

Hal tersebut terlihat dalam penelitian Kabir, Raafi, dan Koh terhadap lima pewarna reaktif biru pada kain katun.

Kain diberi paparan sinar matahari dan lampu xenon untuk melihat karakteristik pemudaran masing-masing pewarna.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketahanan masing-masing pewarna berbeda.

Para peneliti menemukan bahwa beberapa pewarna lebih sensitif terhadap cahaya, sementara pewarna berbasis anthraquinone menunjukkan stabilitas yang lebih baik dalam pengujian mereka.

Dalam abstraknya, peneliti menyatakan:

“Di antara lima pewarna biru reaktif, pewarna difluoropyrimidine dan pewarna azo kompleks logam tembaga tampak paling sensitif.”

Sementara itu, untuk pewarna berbasis anthraquinone, mereka menemukan:

“Pewarna reaktif berbasis anthraquinone menunjukkan stabilitas terbaik terhadap sinar matahari dan lampu busur xenon.”

Temuan tersebut menunjukkan bahwa warna atau tampilan kain saja tidak cukup untuk menentukan seberapa cepat pakaian akan pudar.

Komposisi kimia pewarnanya juga sangat menentukan.

Apakah Semakin Lama Dijemur, Semakin Cepat Pudar?

Secara umum, semakin lama suatu tekstil terpapar cahaya, semakin besar kesempatan terjadinya photofading.

Namun, tingkat pemudaran tidak selalu sama karena bergantung pada jenis pewarna dan kondisi paparan.

Dalam penelitian terhadap lima pewarna reaktif biru pada katun, pemudaran meningkat ketika durasi penyinaran diperpanjang dari 24 hingga 120 jam.

Peneliti juga menemukan bahwa besarnya perubahan warna berbeda antara satu pewarna dan lainnya.

Karena itu, tidak ada satu batas waktu yang dapat digunakan untuk mengatakan semua pakaian akan mulai pudar setelah dijemur selama jumlah jam tertentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, intensitas matahari, jenis kain, jenis pewarna, kondisi atmosfer, dan frekuensi paparan dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Bagaimana Cara Menjemur agar Warna Baju Lebih Awet?

Jika tujuan utamanya mempertahankan warna pakaian, mengurangi paparan cahaya langsung merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan.

Pakaian berwarna dapat dibalik sebelum dijemur sehingga bagian luar yang terlihat tidak terus-menerus menerima cahaya langsung.

Pakaian juga dapat dijemur di tempat dengan sirkulasi udara baik tetapi tidak berada di bawah terik matahari sepanjang waktu.

Setelah pakaian kering, segera angkat dari jemuran.

Dengan begitu, pakaian tidak menerima paparan cahaya lebih lama dari yang diperlukan untuk proses pengeringan.

Instruksi perawatan pada label pakaian juga sebaiknya diperhatikan karena jenis serat dan pewarna yang berbeda dapat memiliki karakteristik ketahanan warna yang berbeda.

Penelitian terhadap tekstil juga menunjukkan bahwa perlindungan terhadap cahaya dapat memengaruhi ketahanan warna.

Namun, perlakuan khusus seperti penggunaan penyerap UV merupakan pendekatan teknis pada material tekstil dan bukan sesuatu yang perlu dilakukan sendiri pada pakaian sehari-hari.

Jadi, Kenapa Warna Baju Bisa Pudar Setelah Dijemur?

Warna baju yang semakin pucat setelah sering dijemur bukan semata-mata karena kain menjadi terlalu panas.

Paparan cahaya matahari dapat memicu reaksi fotokimia yang mengubah molekul pewarna pada tekstil.

Radiasi UV merupakan salah satu faktor penting, tetapi penelitian menunjukkan bahwa cahaya tampak juga dapat berkontribusi.

Besarnya pengaruh masing-masing bergantung pada jenis pewarna dan bahan tekstil.

Jadi, baju yang sering dijemur tidak sedang “terbakar” oleh matahari.

Warna pakaian dapat memudar karena molekul pewarnanya mengalami perubahan akibat paparan cahaya secara berulang.

Dan karena setiap pewarna memiliki karakteristik berbeda, ada baju yang warnanya relatif tahan lama, sementara baju lain dapat lebih cepat terlihat kusam meskipun sama-sama dijemur di bawah matahari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
sinar UV warna baju pudar pakaian dijemur warna kain photofading