Jalan Baru Sudah Berlubang dalam Hitungan Minggu, Apa yang Salah?

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:54 WIB
Jalan yang baru diperbaiki dapat kembali retak atau berlubang jika struktur di bawah permukaan, drainase, pemadatan, atau faktor lainnya bermasalah. (ChatGPT)
Jalan yang baru diperbaiki dapat kembali retak atau berlubang jika struktur di bawah permukaan, drainase, pemadatan, atau faktor lainnya bermasalah. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Jalan baru yang baru beberapa minggu diperbaiki tetapi sudah retak, bergelombang, bahkan berlubang tentu membuat pengguna jalan bertanya-tanya. Bukankah perkerasan tersebut baru saja dikerjakan?

Masalahnya, kerusakan jalan tidak selalu bermula dari lapisan aspal yang terlihat di permukaan. Kondisi tanah dasar, kekuatan lapisan pondasi, proses pemadatan, sistem drainase, beban kendaraan, hingga pemeliharaan dapat menentukan seberapa lama sebuah jalan mampu bertahan.

Artinya, ketika jalan cepat rusak, persoalannya belum tentu sekadar kualitas aspal. Bisa saja masalah sudah muncul jauh sebelum aspal dihamparkan.

Jalan yang kuat dimulai dari tanah di bawahnya

Sebelum pembangunan perkerasan dimulai, kondisi tanah dasar harus dipastikan mampu menopang struktur di atasnya. Tanah dasar merupakan salah satu bagian penting karena seluruh lapisan perkerasan pada akhirnya meneruskan beban kendaraan ke lapisan tersebut.

Apabila tanah terlalu lunak atau pemadatannya tidak memadai, tanah dapat mengalami penurunan ketika menerima beban lalu lintas secara terus-menerus. Penurunan ini kemudian dapat memengaruhi lapisan perkerasan di atasnya.

Sederhananya, permukaan jalan bisa saja dibuat dengan material yang baik. Namun, jika bagian yang menjadi tumpuannya tidak cukup kuat, struktur jalan tetap berisiko mengalami perubahan bentuk dan kerusakan.

Karena itu, pekerjaan pembangunan jalan perlu diawali dengan persiapan tanah dasar. Pemadatan dilakukan untuk meningkatkan kondisi tanah, sedangkan perbaikan tanah dapat diperlukan apabila karakteristik tanah awal belum memenuhi kebutuhan struktur jalan.

Kekuatan tanah dasar menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan kemampuan keseluruhan struktur perkerasan dalam menerima beban lalu lintas.

Lapisan pondasi ikut menentukan umur jalan

Di atas tanah dasar terdapat lapisan pondasi yang berfungsi membantu menyebarkan beban kendaraan sebelum diteruskan ke tanah di bawahnya.

Fungsi ini menjadi semakin penting pada jalan yang menerima lalu lintas kendaraan berat secara berulang. Truk dan kendaraan berat memberikan tekanan yang jauh lebih besar terhadap struktur dibandingkan kendaraan ringan.

Jika lapisan pondasi tidak memiliki kekuatan dan kestabilan yang sesuai, beban lalu lintas dapat menyebabkan perubahan bentuk pada struktur jalan. Dampaknya kemudian dapat terlihat di permukaan dalam bentuk alur, retakan, atau penurunan.

Jadi, ketebalan dan kualitas lapisan aspal bukan satu-satunya hal yang menentukan kekuatan jalan. Lapisan yang berada di bawah aspal juga harus mampu menjalankan fungsinya.

CTB menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat pondasi

Salah satu material yang dapat digunakan sebagai lapisan pondasi adalah Cement Treated Base atau CTB.

Secara sederhana, CTB merupakan lapisan pondasi yang dibuat dari material agregat, seperti agregat kelas A, yang dicampur dengan semen dan air. Campuran tersebut kemudian dihamparkan dan dipadatkan sesuai prosedur pekerjaan.

Berbeda dengan lapisan agregat tanpa bahan pengikat, penambahan semen membuat material memiliki ikatan yang lebih kuat. Karakteristik tersebut dapat meningkatkan kekakuan dan kemampuan lapisan dalam mendukung beban.

Karena sifat tersebut, CTB dapat menjadi salah satu pilihan pada konstruksi jalan yang membutuhkan lapisan pondasi lebih kokoh, termasuk jalan yang dirancang menerima beban kendaraan berat secara berulang.

Namun, penggunaan CTB bukan berarti sebuah jalan otomatis bebas dari kerusakan. Kinerja lapisan tetap dipengaruhi oleh kualitas agregat, rancangan campuran, pelaksanaan pekerjaan, pemadatan, kondisi tanah dasar, drainase, dan desain struktur jalan secara keseluruhan.

Dengan kata lain, satu material tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap sistem perkerasan yang dirancang dan dikerjakan dengan benar.

Aspal hot mix juga harus dikerjakan pada kondisi yang tepat

Setelah lapisan pondasi siap, pekerjaan berlanjut ke lapisan permukaan. Salah satu material yang umum digunakan adalah aspal hot mix.

Tetapi hot mix tidak cukup hanya diproduksi lalu dituangkan ke jalan. Ada rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan dengan benar, mulai dari produksi, pengangkutan, penghamparan, hingga pemadatan.

Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah temperatur.

Campuran aspal harus berada pada rentang temperatur kerja yang sesuai agar dapat dihamparkan dan dipadatkan secara efektif. Temperatur tersebut tidak selalu sama untuk setiap pekerjaan karena dipengaruhi oleh jenis aspal, bahan pengikat, rancangan campuran, dan kondisi cuaca.

Salah satu sumber yang Anda berikan menyebut temperatur aplikasi hot mix umumnya berada di atas 120 derajat Celsius. Namun, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai gambaran umum, bukan ketentuan tunggal untuk seluruh jenis campuran aspal.

Tujuan pengendalian temperatur adalah memastikan campuran masih memiliki kemampuan untuk dipadatkan ketika berada di jalan. Pemadatan yang baik membantu mengurangi rongga udara di dalam campuran sehingga lapisan menjadi lebih rapat dan stabil.

Sebaliknya, jika campuran kehilangan panas terlalu cepat sebelum pemadatan selesai, material akan semakin sulit dipadatkan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kepadatan dan kinerja lapisan setelah jalan digunakan.

Jadi, kualitas pengaspalan tidak hanya ditentukan oleh material yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana material tersebut ditangani sejak keluar dari proses produksi hingga pemadatan selesai.

Air bisa mempercepat kerusakan jalan

Ada satu faktor lain yang sering kali luput dari perhatian: air.

Genangan yang berada di permukaan jalan tidak selalu langsung menyebabkan kerusakan. Masalah menjadi lebih serius ketika air masuk melalui retakan, sambungan, bagian tepi jalan, atau celah pada permukaan perkerasan.

Air yang mencapai lapisan pondasi dan tanah dasar dapat memengaruhi kondisi material tersebut. Pada kondisi tertentu, kejenuhan akibat air dapat menurunkan kemampuan lapisan dalam mendukung beban.

Ketika kendaraan terus melintas di atas struktur yang sudah melemah, kerusakan dapat berkembang semakin cepat.

Karena itu, drainase merupakan bagian penting dari sistem jalan. Kemiringan permukaan, saluran samping, gorong-gorong, dan sistem pembuangan air harus berfungsi dengan baik agar air tidak tertahan di sekitar struktur perkerasan.

Jalan yang memiliki permukaan bagus sekalipun tetap berisiko mengalami kerusakan apabila air tidak dikelola dengan baik.

Kenapa jalan akhirnya retak, amblas, atau berlubang?

Kerusakan jalan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Retakan, alur, amblas, dan lubang pada dasarnya dapat menjadi tanda bahwa struktur perkerasan mengalami tekanan atau penurunan kinerja.

Penyebabnya pun bisa berbeda-beda.

Retakan dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kondisi lapisan perkerasan, perubahan bentuk struktur, atau pengaruh air. Alur dapat muncul akibat deformasi pada lapisan perkerasan ketika jalan terus menerima beban lalu lintas. Sementara itu, amblas dapat berkaitan dengan penurunan pada lapisan di bawahnya.

Lubang bahkan tidak selalu berawal dari permukaan yang sejak awal berkualitas buruk.

Bayangkan permukaan jalan mulai memiliki retakan kecil. Air kemudian masuk melalui celah tersebut dan mencapai lapisan di bawahnya. Jika pondasi atau tanah dasar mengalami pelemahan, beban kendaraan yang berulang dapat memperbesar kerusakan.

Bagian permukaan yang awalnya hanya retak kemudian dapat terkelupas dan membentuk lubang.

Itulah sebabnya lubang jalan yang terlihat sederhana di permukaan bisa saja merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam.

Menambal lubang belum tentu menyelesaikan penyebabnya

Ketika menemukan jalan berlubang, tindakan yang paling mudah dibayangkan adalah menambalnya. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan tersebut memang diperlukan.

Namun, penambalan permukaan tidak selalu menyelesaikan persoalan apabila sumber kerusakan berada pada lapisan di bawahnya.

Jika tanah dasar telah mengalami penurunan atau lapisan pondasi kehilangan daya dukung, material baru yang ditempatkan di permukaan harus bekerja di atas struktur yang masih bermasalah.

Karena itu, kerusakan jalan sebaiknya diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui penyebabnya. Bagian yang rusak perlu ditelusuri, bukan hanya dilihat dari lubang yang tampak di permukaan.

Apabila kerusakan ternyata berkaitan dengan lapisan pondasi atau tanah dasar, bagian tersebut perlu mendapatkan penanganan sebelum permukaan jalan diperbaiki kembali.

Pendekatan seperti ini membutuhkan pekerjaan lebih banyak dibandingkan sekadar menutup lubang. Namun, perbaikan yang menyasar sumber masalah memiliki tujuan yang lebih penting, yaitu mengembalikan kemampuan struktur jalan dalam menerima beban.

Singkatnya, ada banyak bagian yang menentukan umur jalan

Kalau sebuah jalan ingin bertahan lebih lama, setidaknya ada beberapa hal yang harus bekerja secara bersamaan:

Tidak ada satu komponen yang dapat bekerja sendirian.

Aspal berkualitas tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah tanah dasar yang lemah. Pondasi yang kuat pun dapat terganggu jika air terus masuk ke dalam struktur. Begitu pula pekerjaan pemadatan yang baik tetap harus didukung desain dan pelaksanaan konstruksi yang sesuai.

Jalan yang awet bukan sekadar jalan yang terlihat mulus

Bagi pengguna jalan, kualitas perkerasan biasanya dinilai dari apa yang terlihat. Jalan yang mulus dianggap baik, sedangkan retakan dan lubang menjadi tanda kerusakan.

Namun, di balik permukaan tersebut terdapat sistem yang jauh lebih kompleks.

Ada tanah dasar yang menjadi tumpuan, lapisan pondasi yang membantu mendistribusikan beban, lapisan aspal yang menerima lalu lintas secara langsung, serta sistem drainase yang menjaga air agar tidak merusak struktur.

Karena itu, ketika jalan yang baru diperbaiki kembali retak atau berlubang dalam waktu singkat, pertanyaannya seharusnya tidak berhenti pada, “Aspalnya kenapa?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah, apa yang terjadi pada seluruh struktur jalan di bawah permukaan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat mengarah pada masalah yang berbeda, mulai dari kondisi tanah dasar, pondasi, air, proses pemadatan, hingga beban lalu lintas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
jalan cepat rusak penyebab jalan berlubang konstruksi jalan aspal hot mix Cement Treated Base (CTB)