OMI 2026 Pecahkan Rekor Partisipasi, 230 Ribu Siswa dari 34 Provinsi

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 18:50 WIB
OMI 2026 diikuti 230.123 siswa dari 34 provinsi, naik 12,7 persen. Peserta sekolah umum melonjak 38,1 persen, menandai kompetisi makin inklusif. (kemenag.go.id)
OMI 2026 diikuti 230.123 siswa dari 34 provinsi, naik 12,7 persen. Peserta sekolah umum melonjak 38,1 persen, menandai kompetisi makin inklusif. (kemenag.go.id)

RADAR BANYUWANGI — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tak lagi sekadar kompetisi milik siswa madrasah. Jumlah pesertanya melonjak menjadi 230.123 siswa dari 34 provinsi, sekaligus memperlihatkan bahwa ajang pembinaan talenta yang digelar Kementerian Agama itu semakin kompetitif dan inklusif.

Jumlah tersebut naik 12,7 persen dibanding OMI 2025 yang mencatat 204.222 pendaftar. Dari total pendaftar tahun ini, sebanyak 229.593 peserta atau 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi.

Kenaikan partisipasi bahkan lebih mencolok dari kalangan sekolah umum. Sebanyak 13.271 siswa SD, SMP, dan SMA ikut OMI 2026. Angka itu melonjak 38,1 persen dibanding 9.612 peserta sekolah umum pada 2025.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno menyebut peningkatan tersebut sebagai sinyal positif bagi ekosistem pembinaan prestasi peserta didik di Indonesia.

“Peningkatan partisipasi ini tentu menjadi kabar baik bagi pendidikan madrasah dan pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Bertambahnya peserta berarti semakin banyak potensi dan talenta anak bangsa yang berhasil kita identifikasi dan berikan ruang untuk berkembang,” ujar Amien di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Bukan Sekadar Berebut Gelar Juara

Di balik membesarnya angka peserta, Kemenag ingin OMI memiliki fungsi yang lebih panjang daripada sekadar menentukan siapa yang menjadi pemenang.

Menurut Amien, kompetisi hanyalah pintu masuk untuk menemukan siswa dengan potensi unggul. Setelah ditemukan, talenta tersebut harus mendapat pembinaan secara berkelanjutan agar berkembang menjadi prestasi.

“Kompetisi adalah salah satu pintu masuk. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menemukan anak-anak yang memiliki potensi, kemudian memberikan pembinaan yang tepat agar potensi tersebut berkembang menjadi prestasi,” jelas Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang tersebut.

Dengan konsep itu, OMI diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembinaan prestasi peserta didik, bukan sekadar agenda perlombaan tahunan.

Peserta Sekolah Umum Melonjak 38,1 Persen

Keterlibatan siswa sekolah umum menjadi salah satu catatan paling menarik dalam OMI 2026.

Sebanyak 13.271 siswa sekolah umum dari jenjang SD, SMP, dan SMA tercatat mengikuti kompetisi. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah tersebut bertambah 3.659 peserta.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Nyayu Khodijah mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan OMI semakin dikenal sebagai kompetisi yang terbuka bagi peserta didik dari berbagai satuan pendidikan.

“OMI terus berkembang menjadi ruang kompetisi yang inklusif. Peserta tidak hanya berasal dari madrasah, tetapi juga dari sekolah umum,” ujar Nyayu.

Menurut dia, keterlibatan sekolah umum memperluas ekosistem kompetisi sekaligus memperbesar peluang menemukan talenta dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan.

“Kami ingin OMI menjadi ruang bersama untuk menemukan talenta-talenta terbaik. Karena itu, semakin luas partisipasinya, semakin besar pula peluang kita menemukan potensi peserta didik dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan,” lanjutnya.

230 Ribu Peserta Tersebar di 34 Provinsi

Skala OMI 2026 juga terlihat dari sebaran pesertanya. Sebanyak 34 provinsi ambil bagian dengan total 230.123 peserta.

Laporan OMI mencatat keterlibatan lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 41.685 siswa.

Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan 32.446 peserta dan Jawa Tengah dengan 30.518 peserta.

Jika digabung, tiga provinsi tersebut menyumbang 104.649 peserta, atau sekitar 45,5 persen dari total peserta OMI 2026 secara nasional.

Namun, kompetisi tidak hanya ramai di Pulau Jawa. Dari luar Jawa, jumlah peserta terbesar antara lain berasal dari Sulawesi Selatan sebanyak 12.850 siswa, Sumatera Utara 12.348 siswa, dan Riau 8.113 siswa.

Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa OMI telah menjangkau peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

Tiga Jenjang Sama-Sama Bergairah

Partisipasi OMI 2026 juga relatif merata berdasarkan jenjang pendidikan.

Sebanyak 69.351 peserta berasal dari MI/SD, 75.987 peserta dari MTs/SMP, dan 72.776 peserta dari MA/SMA.

Komposisi tersebut menunjukkan minat terhadap kompetisi tumbuh sejak jenjang pendidikan dasar hingga menengah.

Nyayu menilai kondisi tersebut menjadi modal penting untuk membangun sistem pembinaan talenta secara berjenjang.

“Komposisi peserta di tiga jenjang yang relatif seimbang menunjukkan bahwa minat terhadap kompetisi dan pembinaan prestasi tumbuh sejak pendidikan dasar. Ini menjadi modal penting untuk membangun pembinaan talenta yang berkelanjutan,” katanya.

Riset Juga Jadi Magnet

OMI 2026 tidak hanya mempertandingkan bidang sains. Cabang OMI Bidang Riset juga mendapat perhatian besar dari peserta.

Tahun ini tercatat 9.130 pendaftar riset. Dari jumlah tersebut, 8.100 peserta telah mengajukan pendaftaran, sedangkan 1.030 lainnya masih berstatus draft.

Kasubdit Kesiswaan Solla Taufiq mengatakan angka tersebut menunjukkan tingginya minat siswa madrasah terhadap kegiatan penelitian dan gagasan ilmiah.

“Angka ini menunjukkan tingginya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan riset dan menuangkan gagasan ilmiah melalui ajang kompetisi tingkat nasional,” ujarnya.

Berdasarkan jenjang, pendaftar dari MA mencapai 4.862 siswa, sedangkan MTs sebanyak 4.268 siswa.

Sementara dari sisi tema penelitian, Integrasi Keislaman dan Keilmuan (Ekoteologi) menjadi bidang paling diminati dengan 3.553 pendaftar.

Berikutnya adalah Sustainable Development Goals (SDGs) dengan 3.384 pendaftar dan Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional sebanyak 2.193 pendaftar.

Komposisi itu menunjukkan kecenderungan peserta mengangkat persoalan yang dekat dengan tantangan kehidupan saat ini, mulai dari lingkungan, pembangunan berkelanjutan, hingga teknologi.

Dari Kompetisi Menuju Pembinaan Talenta

Besarnya jumlah peserta OMI 2026 membawa konsekuensi baru bagi Kemenag. Semakin banyak siswa yang ikut, semakin besar pula pekerjaan rumah untuk memastikan talenta yang ditemukan tidak berhenti setelah kompetisi selesai.

Amien menegaskan, pertumbuhan peserta harus diterjemahkan sebagai bertambahnya potensi yang perlu dilayani melalui pembinaan.

“Pertumbuhan peserta harus kita maknai sebagai bertambahnya potensi talenta yang harus kita layani,” tuturnya.

Karena itu, tantangan OMI ke depan bukan hanya membuat kompetisi semakin berkualitas. Lebih jauh, hasil kompetisi harus menjadi bagian dari proses pembinaan talenta yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, angka 230.123 peserta bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ratusan ribu siswa dengan kemampuan, gagasan, dan cita-cita yang berbeda.

OMI 2026 menjadi salah satu pintu untuk menemukan mereka. Tantangan berikutnya adalah memastikan talenta-talenta tersebut terus tumbuh hingga mampu membawa nama madrasah, sekolah, dan Indonesia ke panggung prestasi yang lebih tinggi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Kemenag.go.id
OMI 2026 Olimpiade Madrasah OMI Nasional Peserta OMI Riset madrasah