GARDINI Bikin Geger OMI Riset, Robot Irigasi AI Siswa Medan Tembus Nasional

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:25 WIB
Dua siswa MTsN 1 Medan menembus 30 besar OMI Riset nasional lewat GARDINI, robot irigasi berbasis AI untuk pertanian perbukitan Danau Toba. (kemenagkotamedan.com)
Dua siswa MTsN 1 Medan menembus 30 besar OMI Riset nasional lewat GARDINI, robot irigasi berbasis AI untuk pertanian perbukitan Danau Toba. (kemenagkotamedan.com)

RADAR BANYUWANGI — Bukan sekadar meraih posisi di papan atas, dua siswa MTsN 1 Medan membawa persoalan petani di kawasan Danau Toba ke panggung nasional lewat sebuah robot irigasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Zalfa Elsa Azahra Lubis dan Khaldun Tirtanegara Khomeni berhasil menembus 30 besar OMI Riset tingkat nasional melalui proposal inovasi bertajuk GARDINI.

Riset berjudul “GARDINI: Robot Irigasi Adaptif Berbasis AI untuk Optimalisasi Aktuasi Sprinkler pada Pertanian Perbukitan Danau Toba” tersebut menjadi tiket bagi keduanya untuk mempresentasikan hasil penelitian di hadapan dewan juri secara daring, Jumat (11/9/2026).

Keduanya mendapat bimbingan dari Agustina Muliati S.Sos., M.Pd. dan Rafif Ansyari Siregar S.T., Gr. Persiapan menuju presentasi pun berlangsung dalam waktu relatif singkat.

Doa Bersama Sebelum Presentasi Nasional

Jumat pagi, suasana di MTsN 1 Medan berbeda dari biasanya. Sebelum Zalfa dan Khaldun menghadapi dewan juri, seluruh warga madrasah berkumpul memberikan dukungan.

Doa bersama digelar di halaman depan madrasah setelah apel pagi, sekitar pukul 07.30 WIB. Beberapa jam kemudian, tepat pukul 11.30 WIB, keduanya tampil secara daring untuk mempresentasikan riset yang telah membawa nama MTsN 1 Medan masuk 30 besar nasional.

Dukungan tersebut diharapkan mampu menambah kepercayaan diri kedua siswa saat menjelaskan gagasan, metode, hingga potensi penerapan penelitian mereka.

Kepala MTsN 1 Medan Drs. H. Syakhrim Harahap M.Pd. menyambut capaian tersebut dengan rasa syukur.

“Alhamdulillah kita patut bersyukur karena salah satu tim OMI Riset kita berhasil masuk dalam 30 besar tingkat nasional,” ujar Syakhrim.

Menurut dia, keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian dua siswa, tetapi juga membawa nama MTsN 1 Medan ke tingkat nasional. Ia berharap keduanya mampu meraih hasil terbaik dalam tahapan presentasi.

Berangkat dari Persoalan Petani Danau Toba

Yang membuat riset GARDINI menarik adalah titik berangkatnya. Inovasi tersebut lahir dari pengamatan terhadap persoalan irigasi yang dihadapi petani di kawasan Danau Toba.

Guru pembimbing Rafif Ansyari Siregar menjelaskan, sebagian petani masih mengandalkan sistem irigasi manual yang memanfaatkan gravitasi mata air. Penyiraman juga menggunakan sprinkler 360 derajat tanpa pompa.

Kondisi lahan pertanian perbukitan membuat kebutuhan penyiraman menjadi tantangan tersendiri. Dari persoalan itulah muncul gagasan untuk menghadirkan sistem yang lebih adaptif dan presisi.

“Melihat kondisi petani di daerah Danau Toba tersebut, kami terinspirasi untuk menciptakan sebuah alat berbasis AI sehingga dapat mengotomatisasi penyiraman secara presisi,” jelas Rafif.

GARDINI dirancang sebagai robot irigasi adaptif berbasis AI. Gagasan utamanya adalah mengotomatisasi proses penyiraman agar lebih tepat sasaran dan dapat menyesuaikan kebutuhan lahan pertanian.

Riset tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana siswa madrasah mencoba menghubungkan teknologi kecerdasan buatan dengan persoalan nyata di lingkungan masyarakat.

OMI Riset Tak Sekadar Adu Proposal

Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik MTsN 1 Medan Sartika Anggraini S.Pd. menilai OMI Riset memiliki manfaat penting dalam membentuk kemampuan berpikir ilmiah siswa.

“Kegiatan OMI Riset ini dapat melatih kemampuan siswa dalam berpikir ilmiah dan tentunya membangun kepercayaan diri mereka,” ungkap Sartika.

Menurutnya, siswa tidak hanya dituntut memiliki ide penelitian. Mereka juga harus mampu menyusun proposal, membangun argumen, membuat visualisasi data, hingga mempertahankan hasil penelitian ketika berhadapan dengan dewan juri.

Karena itu, lolosnya Zalfa dan Khaldun ke 30 besar nasional dinilai menjadi pengalaman berharga. Mereka tidak hanya belajar tentang penelitian, tetapi juga dilatih menyampaikan gagasan secara sistematis dan meyakinkan.

Sempat Grogi, Hanya Punya Dua Hari Persiapan

Bagi Zalfa, kesempatan tampil di tingkat nasional sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Terlebih, waktu persiapan presentasi yang mereka miliki hanya dua hari.

“Awalnya cukup gerogi ketika akan presentasi apalagi kami hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkannya, tapi alhamdulillah akhirnya bisa kami lalui dengan baik,” kata Zalfa.

Meski sempat gugup, Zalfa dan Khaldun akhirnya mampu melewati tahap presentasi tersebut.

Perjalanan mereka menjadi gambaran bahwa prestasi di OMI Riset tidak berhenti pada kemampuan akademik. Ada kepekaan membaca persoalan di sekitar, keberanian menawarkan solusi, kemampuan mengolah gagasan menjadi riset, hingga kesiapan mempertanggungjawabkannya di hadapan juri.

Bagi MTsN 1 Medan, masuk 30 besar OMI Riset nasional menjadi bukti bahwa siswa madrasah juga mampu melahirkan inovasi berbasis teknologi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

Dan melalui GARDINI, dua siswa itu menunjukkan satu hal penting: riset pelajar bisa dimulai dari persoalan sederhana di sekitar, lalu berkembang menjadi gagasan teknologi yang memiliki manfaat lebih luas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : kemenagkotamedan.com
MTsN 1 Medan OMI Riset Robot irigasi kecerdasan buatan danau toba