RADAR BANYUWANGI - Tubuh terasa pegal setelah olahraga sering membuat seseorang ingin segera mendapatkan pijatan. Namun, langsung memberikan tekanan kuat pada otot yang baru bekerja keras ternyata bukan selalu pilihan terbaik.
Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Johan Talesu, SpKFR, menjelaskan bahwa massage setelah olahraga pada dasarnya boleh dilakukan. Hanya saja, teknik dan tekanan pijatan perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh.
“Sport massage membantu merelaksasi otot yang sudah banyak digunakan dan mendukung proses recovery agar lebih cepat,” ujar dr. Johan dalam video singkat di kanal YouTube Siloam Hospitals Lippo Village.
Bagi masyarakat yang rutin berolahraga, termasuk jogging, bersepeda, latihan di pusat kebugaran, maupun aktivitas fisik lainnya, rasa pegal setelah latihan merupakan kondisi yang cukup umum.
Namun, pegal tidak berarti tubuh harus mendapatkan pijatan sekuat mungkin. Justru, otot yang sedang mengalami kelelahan dapat terasa semakin tidak nyaman apabila mendapatkan tekanan berlebihan.
Kenapa Otot Terasa Pegal Setelah Olahraga?
Ketika berolahraga, otot bekerja lebih keras, terlebih jika aktivitas dilakukan dengan intensitas tinggi atau jenis latihan yang belum biasa dilakukan tubuh.
Aktivitas tersebut dapat menyebabkan kelelahan serta kerusakan mikroskopis pada serat otot. Kondisi ini merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh terhadap latihan.
Setelah olahraga selesai, tubuh membutuhkan waktu untuk melakukan pemulihan. Pada fase tersebut, otot dapat terasa kaku, berat, atau pegal.
Rasa nyeri yang baru muncul beberapa jam setelah latihan dan dapat bertahan hingga satu atau dua hari juga bisa berkaitan dengan delayed onset muscle soreness (DOMS).
Karena itu, munculnya rasa pegal setelah olahraga tidak selalu berarti tubuh mengalami cedera. Namun, karakter nyeri tetap perlu diperhatikan.
Bolehkah Langsung Dipijat Setelah Olahraga?
Boleh, tetapi bukan berarti semua jenis pijatan cocok dilakukan segera setelah latihan.
Menurut dr. Johan, massage setelah olahraga aman dilakukan. Pada orang yang baru menjalani olahraga sangat berat, tekniknya perlu disesuaikan agar otot tidak mendapatkan tekanan berlebihan.
“Massage setelah olahraga aman dilakukan, tetapi pada atlet yang berolahraga terlalu berat, tekniknya disesuaikan dengan lebih banyak stretching dan tidak memberikan tekanan berlebihan,” jelasnya.
Artinya, seseorang yang hanya mengalami kelelahan atau pegal ringan dapat memilih massage dengan tekanan yang lebih lembut. Sementara itu, setelah latihan yang sangat berat, pendekatan pemulihan perlu dilakukan secara lebih hati-hati.
Prinsipnya bukan “semakin sakit saat dipijat berarti semakin cepat pulih”. Tekanan yang terlalu kuat justru dapat membuat otot yang sedang sensitif semakin nyeri.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Massage?
Tidak ada satu waktu yang mutlak berlaku bagi setiap orang. Kebutuhan recovery dapat berbeda berdasarkan jenis olahraga, intensitas latihan, serta kondisi otot.
Dr. Johan menjelaskan bahwa kekakuan pada bagian-bagian otot dapat mulai dirasakan sekitar 45 menit setelah olahraga. Pada saat itulah area yang mengalami kekakuan dapat lebih mudah dikenali sehingga massage dapat dilakukan secara lebih spesifik.
“Sekitar 45 menit setelah olahraga, kekakuan pada bagian-bagian otot mulai bisa dirasakan, sehingga massage dapat dilakukan secara lebih spesifik,” katanya.
Sebelum mendapatkan pijatan, tubuh juga sebaiknya diberi kesempatan untuk melakukan pendinginan. Gerakan ringan, pengaturan napas, dan mencukupi kebutuhan cairan dapat menjadi bagian dari proses setelah latihan.
Dengan demikian, tidak perlu terburu-buru langsung mendapatkan pijatan begitu olahraga selesai. Beri tubuh waktu untuk beralih dari aktivitas berat menuju kondisi istirahat.
Setelah Olahraga Berat, Jangan Langsung Minta Pijatan Keras
Olahraga dengan intensitas tinggi memberikan beban yang lebih besar kepada otot. Karena itu, metode pemulihan juga perlu disesuaikan.
Jika tubuh baru menyelesaikan latihan berat, pijatan dengan tekanan dalam sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan. Stretching dan massage dengan tekanan yang lebih ringan dapat menjadi pilihan sesuai kondisi tubuh.
Tekanan pijatan juga seharusnya tidak ditentukan hanya berdasarkan toleransi seseorang terhadap rasa sakit. Rasa sakit ketika dipijat bukan indikator bahwa proses pemulihan sedang berlangsung lebih baik.
Jangan Dipijat Jika Muncul Tanda-Tanda Cedera
Pegal biasa perlu dibedakan dari keluhan yang mengarah pada kemungkinan cedera.
Jika setelah olahraga muncul nyeri tajam pada bagian tubuh tertentu, pembengkakan, memar, rasa sakit yang semakin berat, atau gangguan dalam bergerak, sebaiknya jangan memaksakan pijatan pada area tersebut.
Terlebih jika keluhan menetap atau semakin memburuk. Kondisi seperti itu membutuhkan penilaian lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.
Pijat dengan tekanan kuat pada area yang sedang mengalami masalah bukan langkah yang tepat hanya karena ingin menghilangkan rasa sakit dengan cepat.
Jadi, Boleh Langsung Dipijat Setelah Olahraga?
Jawabannya, boleh, tetapi harus melihat kondisi tubuh terlebih dahulu.
Untuk pegal dan kelelahan setelah aktivitas fisik, massage ringan dapat membantu memberikan rasa rileks. Namun, setelah olahraga yang sangat berat, teknik massage perlu disesuaikan dengan kondisi otot dan tidak dilakukan dengan tekanan berlebihan.
Sementara jika muncul nyeri tajam, pembengkakan, memar, rasa sakit yang memburuk, atau gangguan pergerakan, pijatan sebaiknya tidak dipaksakan dan keluhan perlu mendapat perhatian medis.
Editor : Lugas Rumpakaadi