RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 11 satuan pendidikan di Banyuwangi resmi didelegasikan menuju penghargaan Role Model Sekolah Moderasi Beragama (SMB) dan School Religious Culture (SRC) tingkat Provinsi Jawa Timur 2026. Bukan sekadar mengejar predikat, sebelas sekolah tersebut membawa praktik baik Banyuwangi dalam membangun lingkungan pendidikan yang toleran, inklusif, religius, harmonis, dan damai.
Langkah tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat Role Model SMB dan SRC tingkat Banyuwangi sekaligus penandatanganan nota kesepakatan dukungan dan komitmen Program SMB dan SRC 2026. Kegiatan berlangsung usai apel pagi di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi, Senin (31/8).
Kesepakatan itu melibatkan tiga instansi, yakni Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, dan Kemenag Banyuwangi.
Sinergi tersebut menjadi fondasi agar program moderasi beragama dan budaya religius tidak berhenti pada dokumen administrasi maupun seremoni penghargaan.
Sebaliknya, program diarahkan tumbuh sebagai praktik nyata dan budaya sehari-hari di lingkungan sekolah.
11 Sekolah Bawa Nama Banyuwangi ke Tingkat Jatim
Sebelas sekolah yang memperoleh predikat Role Model SMB dan SRC tingkat Banyuwangi selanjutnya mendapat amanah merepresentasikan Banyuwangi dalam tahapan menuju role model tingkat Provinsi Jawa Timur.
Mereka diharapkan mampu menunjukkan praktik baik dalam merawat keberagaman sekaligus membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan.
Pada kategori Sekolah Moderasi Beragama (SMB), lima satuan pendidikan yang menerima penghargaan adalah:
-
TK Rahmatullah Banyuwangi
-
SDN Kebalenan
-
SMPN 3 Banyuwangi
-
SMAN 1 Banyuwangi
-
SMKN 1 Glagah
Sedangkan kategori School Religious Culture (SRC) diberikan kepada:
-
TK Muslimat Khodijah 157
-
SDN 3 Rogojampi
-
SMPN 1 Muncar
-
SMPN 3 Genteng
-
SMAN 1 Wongsorejo
-
SMKS PGRI Rogojampi
Sebelas sekolah tersebut menjadi representasi praktik pendidikan yang berupaya menggabungkan penguatan karakter, budaya religius, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Penghargaan Bukan Sekadar Seremonial
Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi Dr H Chaironi Hidayat menegaskan, penghargaan tersebut tidak boleh dimaknai sebatas seremoni.
“Penghargaan ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Banyuwangi dalam agama apa pun bisa hidup damai dan berdampingan," ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena sekolah bukan hanya ruang untuk mengejar capaian akademik. Lingkungan pendidikan juga menjadi tempat peserta didik belajar memahami perbedaan dan membangun hubungan sosial yang harmonis.
Plt Kepala Dispendik Banyuwangi Dr H Alfian menekankan pentingnya SMB dan SRC dalam membangun ekosistem pendidikan yang seimbang.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi akademik. Sekolah juga perlu membentuk karakter peserta didik agar mampu menghormati perbedaan sekaligus menjaga keharmonisan sosial.
Hal senada disampaikan Kepala Seksi Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Imron Rosyadi.
Ia berharap SMB dan SRC tidak berhenti sebagai kelengkapan administrasi, tetapi benar-benar berkembang menjadi gerakan dan budaya di sekolah.
Visitasi Jadi Ruang Pembinaan
Tahapan menuju role model tingkat Jawa Timur kemudian berlanjut dengan visitasi.
Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kemenag Banyuwangi melaksanakan visitasi ke seluruh sekolah penerima penghargaan pada 1–7 September 2026.
Visitasi dipimpin Plh Kepala Seksi PAIS Kemenag Banyuwangi Dr Mustain Hakim, didampingi para Pengawas PAI, yakni H M Abdul Wahid, Hj Anisatul Faizah, H Farid Wajd, dan H M A’yunul Mubarok, bersama seluruh staf Seksi PAIS.
Proses tersebut tidak hanya diarahkan untuk memverifikasi kelengkapan administrasi.
Lebih dari itu, visitasi menjadi ruang dialog dan pembinaan antara tim dengan kepala sekolah, guru, peserta didik, serta warga satuan pendidikan.
Dari ruang kelas hingga kultur keseharian sekolah, praktik moderasi beragama dan budaya religius kembali diperkuat agar tidak hanya terlihat saat penilaian.
Sebab, target akhirnya bukan sekadar membawa pulang penghargaan tingkat Jawa Timur, melainkan memastikan budaya toleransi dan hidup berdampingan benar-benar menjadi napas kehidupan sekolah di Banyuwangi. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin