RADAR BANYUWANGI – Sekitar 160 siswa SDN 4 Penganjuran belajar sehari tanpa gadget di tengah alam Sumber Gedor, Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi, Rabu (9/9). Bukan sekadar rekreasi, para siswa diajak mengenal sumber air secara langsung sekaligus mencatat pengetahuan yang mereka dapatkan hanya bermodal secarik kertas. Cara ini menjadi bagian dari program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sek Adi) untuk membiasakan anak belajar dan berinteraksi dengan lingkungan tanpa ketergantungan pada gawai.
Suasana belajar pun berbeda dari ruang kelas. Tidak ada layar ponsel maupun tablet yang menjadi pusat perhatian. Para siswa kelas IV SDN 4 Penganjuran justru sibuk mengamati lingkungan sekitar Sumber Gedor dan menuliskan pengalaman mereka.
Kertas menjadi alat utama untuk merekam pengetahuan.
Para siswa mencatat apa yang mereka lihat dan pelajari selama berada di kawasan sumber air tersebut. Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan langsung agar anak tidak hanya menerima informasi dari buku, tetapi dapat melihat dan merasakan objek pembelajaran secara nyata.
Belajar Air Langsung dari Alam
Guru pendamping SDN 4 Penganjuran, Ika, mengatakan para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut dia, kunjungan ke Sumber Gedor memberi kesempatan kepada anak untuk mengenal sumber air sekaligus belajar mencatat hasil pengamatan mereka.
“Anak-anak sangat antusias untuk belajar tentang air yang ada di Sumber Gedor dengan mencatat apa yang mereka pelajari,” ujarnya.
Bagi siswa, kegiatan semacam itu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
Mereka bisa melihat sumber air secara langsung, merasakan suasana alam, sekaligus berdiskusi dengan guru mengenai apa yang ditemukan di lokasi.
Pembelajaran pun menjadi lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. Air yang selama ini hanya dibahas sebagai materi pelajaran dapat diamati secara langsung dari sumbernya.
Secarik Kertas Gantikan Layar
Ada hal lain yang sengaja dibuat berbeda dalam kegiatan Wis Esa Sek Adi kali ini: siswa tidak diperkenankan menggunakan gadget untuk mendokumentasikan atau mencatat pengalaman mereka.
Sebagai gantinya, mereka menggunakan kertas untuk menulis hasil pengamatan.
Kebijakan tersebut bukan tanpa alasan. Program Wis Esa Sek Adi memang dirancang untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital dengan menghadirkan aktivitas belajar yang melibatkan interaksi langsung dengan alam.
Anak-anak diajak melihat, menyentuh, merasakan, dan mencatat.
Dengan cara tersebut, proses belajar tidak berhenti pada apa yang muncul di layar. Lingkungan sekitar justru menjadi ruang kelas terbuka.
Ganta: Airnya Seger dan Dingin
Bagi Ganta, salah seorang siswa SDN 4 Penganjuran, pengalaman di Sumber Gedor meninggalkan kesan tersendiri.
Selama berada di lokasi, dia diminta mencatat berbagai hal yang dipelajari.
Bukan hanya menulis, Ganta juga mencoba langsung air yang mengalir dari sumber tersebut.
“Saya coba airnya, rasanya seger dan dingin,” katanya.
Pengalaman sederhana itu menjadi bagian dari pembelajaran yang sulit diperoleh hanya melalui buku atau layar gawai.
Para siswa tidak sekadar mengetahui bahwa air berasal dari sumber tertentu. Mereka dapat melihat lokasi sumbernya, merasakan kondisi air, serta memahami lingkungan yang menjadi bagian dari keberadaan sumber air tersebut.
Program Wis Esa Sek Adi pun menghadirkan cara belajar yang lebih dekat dengan alam. Di tengah keseharian anak yang semakin akrab dengan teknologi, kegiatan tersebut mengingatkan bahwa belajar juga bisa dilakukan dengan cara sederhana: berjalan ke alam, mengamati sekitar, bertanya, lalu menuliskannya di atas secarik kertas. (*)
Editor : Ali Sodiqin