RADAR BANYUWANGI – Ketika anak mulai beranjak dewasa, cara mendidiknya pun harus berubah. Orang tua tidak lagi cukup mengandalkan nasihat, teguran, atau tuntutan. Saat anak kesulitan beradaptasi di bangku kuliah, kesulitan mengatur keuangan, kehilangan motivasi, bahkan memilih berhenti kuliah, hal yang paling dibutuhkan justru kehadiran orang tua yang tenang, tegas, dan mendukung tanpa menghakimi.
Masa transisi dari sekolah menengah atas menuju perguruan tinggi bukan selalu perjalanan yang mulus. Bagi sebagian anak, perubahan lingkungan, tuntutan akademik, pergaulan, hingga persoalan finansial dapat menjadi tekanan tersendiri.
Masalah bisa semakin kompleks ketika anak harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Ada pula yang memiliki ambisi besar untuk segera lulus, tetapi belum mampu mengimbanginya dengan usaha dan pengelolaan waktu yang baik.
Dalam kondisi seperti itu, orang tua tak jarang ikut frustrasi. Kekhawatiran terhadap masa depan anak kemudian muncul dalam bentuk omelan, tekanan, atau label negatif.
Padahal, pendekatan tersebut justru berisiko membuat anak semakin menjauh.
Jangan Memberi Label Negatif kepada Anak
Kesalahan yang perlu dihindari orang tua adalah memberikan cap kepada anak berdasarkan masalah yang sedang dihadapinya.
Anak yang kehilangan motivasi bukan berarti malas. Anak yang tertinggal dalam perkuliahan bukan berarti tidak mampu. Begitu pula anak yang ingin berhenti kuliah belum tentu tidak memiliki masa depan.
Masalah yang dihadapi anak perlu dilihat sebagai persoalan yang harus dicari jalan keluarnya, bukan sebagai identitas dirinya.
Psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D., menyarankan orang tua untuk menghindari label negatif dan menggantinya dengan dukungan positif.
Ketika anak merasa gagal atau menyerah, orang tua dapat menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalan tersebut.
Misalnya dengan mengatakan, "Mama dan Papa tahu kamu sedang lelah dan kesal menghadapi kuliah. Kami akan tetap mendukung dan membantu kamu menghadapi masalah ini."
Pesan tersebut sederhana, tetapi dapat membuat anak merasa memiliki tempat untuk kembali ketika menghadapi kesulitan.
Bersikap Tenang, Tegas, tetapi Tidak Mengontrol
Anak yang beranjak dewasa membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan sendiri.
Karena itu, orang tua perlu mengubah posisi dari sosok yang selalu memerintah menjadi pendamping yang membantu anak memahami masalah dan menentukan langkah.
Sikap tenang dan tegas tetap diperlukan. Namun, hindari keinginan untuk mengontrol seluruh pilihan anak.
Sebagian orang dewasa cenderung tidak nyaman ketika terus-menerus diberitahu apa yang harus dilakukan, terlebih ketika mereka sedang menghadapi masalah.
Orang tua dapat berperan sebagai pelatih emosi, bukan sekadar menjadi pihak yang terus mengomel.
Kalimat seperti, "Mama dan Papa tahu kamu mungkin tidak nyaman kalau terus ditanya soal kuliah. Tapi kami percaya kamu mampu menghadapi hambatan ini. Kalau membutuhkan bantuan, kami ada untukmu," dapat menjadi bentuk dukungan tanpa mengambil alih persoalan anak.
Pendekatan tersebut memberikan dua pesan sekaligus: anak dipercaya mampu bertanggung jawab, tetapi tetap memiliki dukungan keluarga.
Bangun Motivasi Lewat Pujian yang Tepat
Ketika anak sedang kehilangan semangat, jangan hanya memperhatikan hasil akhirnya.
Perhatikan pula proses dan perubahan kecil yang berhasil dilakukan.
Anak yang biasanya bangun terlambat kemudian mulai bangun lebih pagi, misalnya, layak mendapatkan apresiasi. Begitu pula ketika ia menyelesaikan tugas kuliah, mengikuti kegiatan kampus, berhasil melewati mata kuliah, atau menunjukkan perubahan perilaku yang lebih baik.
Pujian tidak harus diberikan secara berlebihan. Yang penting, orang tua menunjukkan bahwa usaha anak terlihat dan dihargai.
Pujian yang tepat dapat membantu membangun motivasi sekaligus memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Saat Anak Ingin Berhenti Kuliah, Dengarkan Lebih Dulu
Keputusan anak untuk mogok atau berhenti kuliah tentu dapat membuat orang tua panik.
Namun, sebelum langsung memarahi atau memaksanya kembali ke kampus, cobalah memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Apakah anak mengalami kesulitan akademik? Kesulitan keuangan? Tidak cocok dengan lingkungan perkuliahan? Kelelahan karena harus bekerja? Atau sedang kehilangan arah mengenai masa depannya?
Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memaksa anak untuk kembali kuliah.
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai pilihan yang tersedia, konsekuensi setiap pilihan, serta langkah yang realistis untuk dilakukan.
Dengan demikian, anak tetap belajar mengambil keputusan sekaligus memahami tanggung jawab atas pilihannya.
Jangan Ukur Anak Hanya dari Nilai
Ambisi untuk lulus dengan cepat memang dapat menjadi motivasi positif. Namun, tekanan untuk selalu mendapatkan hasil sempurna justru dapat membuat anak merasa gagal ketika menghadapi sedikit saja hambatan.
Karena itu, orang tua perlu menghargai perkembangan anak secara menyeluruh.
Nilai kuliah memang penting, tetapi kemampuan mengatur waktu, bertanggung jawab, menyelesaikan tugas, bekerja sama, mengelola keuangan, bangkit setelah gagal, dan mengambil keputusan juga merupakan bekal penting menuju kedewasaan.
Anak yang mendapat ruang untuk belajar dari kesalahan akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemandiriannya.
Orang Tua Tetap Penting, tetapi Perannya Berubah
Mendidik anak yang beranjak dewasa bukan berarti orang tua kehilangan peran. Justru sebaliknya, perannya menjadi semakin penting, tetapi bentuknya berbeda.
Jika ketika kecil anak membutuhkan orang tua sebagai pengarah utama, ketika beranjak dewasa anak lebih membutuhkan orang tua sebagai pendamping, pendengar, dan tempat mencari dukungan.
Kuncinya adalah hadir tanpa terlalu menguasai.
Orang tua perlu menunjukkan bahwa anak dipercaya mampu menghadapi kehidupannya sendiri, sekaligus memastikan bahwa ketika keadaan terasa berat, ada keluarga yang siap mendengarkan dan membantu.
Pada akhirnya, anak yang beranjak dewasa tidak selalu membutuhkan orang tua yang memiliki semua jawaban. Mereka membutuhkan orang tua yang mau tetap berada di sisi mereka ketika jawaban itu belum ditemukan.
Dukungan, perhatian, waktu, dan komunikasi yang sehat dapat menjadi modal penting agar orang tua dan anak mampu melewati masa transisi menuju kedewasaan dengan lebih baik. (*)
Editor : Ali Sodiqin