Anak Adalah Peniru Ulung, Ini Cara Mendidik agar Karakternya Positif

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi : Deep talk sederhana yang diam-diam menguatkan hubungan orang tua dan anak laki-laki.(Foto:Canva)
ILUSTRASI: Cara mendidik anak yang baik dimulai dari rumah. Simak tips mengajarkan kejujuran, kebaikan, keadilan, sopan santun, dan tanggung jawab. (Foto:Canva)

RADAR BANYUWANGI – Cara mendidik anak yang baik ternyata tidak cukup hanya dengan memberi nasihat. Kepribadian, sikap, dan kebiasaan anak justru banyak dibentuk dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari di rumah. Karena itu, orang tua perlu menjadi contoh dalam mengajarkan kebaikan, kejujuran, keadilan, dan sopan santun sejak dini.

Sekolah memang memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Namun, pendidikan tidak berhenti pada nilai akademik, rapor, atau kemampuan membaca dan berhitung.

Cara anak berbicara, memperlakukan orang lain, menyelesaikan masalah, hingga merespons kesalahan juga merupakan bagian dari pendidikan karakter.

Di sinilah keluarga memiliki peran besar. Anak cenderung meniru perilaku orang-orang terdekatnya. Apa yang dilakukan ayah dan ibu dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pelajaran yang lebih mudah ditangkap daripada nasihat panjang.

4 Cara Mendidik Anak yang Baik

Cara mendidik anak tentu perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangannya. Meski demikian, terdapat sejumlah nilai dasar yang dapat dikenalkan orang tua sejak anak masih kecil.

1. Ajarkan Kebaikan Hati

Kebaikan hati tidak harus diajarkan melalui teori.

Anak dapat belajar dengan melihat bagaimana orang tua memperlakukan orang lain. Ketika ayah dan ibu berbicara dengan sopan, menghormati orang lain, membantu seseorang yang membutuhkan, atau menunjukkan kasih sayang, anak mendapatkan contoh nyata tentang arti berbuat baik.

Orang tua juga dapat membiasakan anak untuk peduli terhadap perasaan orang lain.

Dari kebiasaan sederhana tersebut, anak perlahan belajar memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang perlu dihargai.

2. Biasakan Anak Bersikap Jujur

Kejujuran merupakan salah satu nilai penting yang perlu dibangun sejak dini.

Cara paling efektif untuk mengajarkan kejujuran adalah memberikan teladan. Anak akan lebih mudah memahami pentingnya berkata benar ketika melihat orang tuanya juga berusaha jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika anak berbohong, orang tua sebaiknya tidak langsung bereaksi secara berlebihan.

Cobalah mendengarkan alasan di balik kebohongan tersebut. Anak bisa saja berbohong karena takut dimarahi, ingin mendapatkan sesuatu, atau belum memahami konsekuensi dari tindakannya.

Dengan komunikasi yang tenang, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa berkata jujur merupakan pilihan yang lebih baik.

3. Kenalkan Konsep Keadilan

Pertengkaran antara anak dengan saudara atau teman bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan keadilan.

Orang tua dapat terlebih dahulu mengakui perasaan anak. Jika anak sedang marah atau sedih, perasaan tersebut perlu didengarkan.

Setelah suasana lebih tenang, orang tua dapat meminta anak menceritakan apa yang terjadi dari sudut pandangnya.

Jika anak ternyata melakukan kesalahan, ajarkan bahwa mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan.

Dorong anak untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Dengan cara tersebut, anak belajar memahami konsekuensi dari tindakan sekaligus bertanggung jawab terhadap perilakunya.

4. Ajarkan Sopan Santun Sejak Dini

Kebiasaan sederhana seperti mengucapkan "tolong" dan "terima kasih" merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.

Anak dapat dibiasakan mengatakan "tolong" ketika meminta bantuan dan "terima kasih" setelah mendapatkan pertolongan atau sesuatu dari orang lain.

Orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan tersebut dalam interaksi sehari-hari.

Ketika anak melihat ayah dan ibunya menghargai orang lain, termasuk orang yang lebih tua maupun sebaya, mereka memiliki contoh konkret mengenai bagaimana bersikap sopan.

Anak Adalah Peniru Ulung

Ada satu hal yang perlu diingat orang tua: anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang dilakukan.

Jika orang tua meminta anak berbicara dengan lembut tetapi sering membentak, pesan yang diterima anak bisa menjadi berbeda.

Begitu pula ketika orang tua meminta anak jujur, tetapi anak melihat orang dewasa di sekitarnya berbohong dalam situasi tertentu.

Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam cara mendidik anak yang baik.

Orang tua tidak dituntut menjadi sempurna. Yang lebih penting adalah menunjukkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak secara konsisten.

Beri Pujian Ketika Anak Berbuat Baik

Perilaku positif anak perlu mendapatkan respons yang positif pula.

Ketika anak membantu orang lain, berkata jujur, meminta maaf, atau melakukan sesuatu dengan baik, orang tua dapat memberikan pujian sebagai bentuk apresiasi.

Pujian tidak selalu harus berupa hadiah.

Ucapan sederhana seperti mengapresiasi usaha anak atau menunjukkan kasih sayang dapat membuat anak memahami bahwa perilaku baik merupakan sesuatu yang dihargai.

Sebaliknya, ketika anak melakukan kesalahan, berikan teguran yang jelas tanpa mempermalukannya.

Anak tetap perlu mengetahui bahwa perilaku buruk memiliki konsekuensi. Namun, koreksi terhadap perilaku sebaiknya tidak berubah menjadi kekerasan.

Aturan Harus Jelas dan Konsisten

Anak membutuhkan batasan agar memahami mana perilaku yang diperbolehkan dan mana yang tidak.

Karena itu, orang tua perlu membuat aturan yang sederhana, jelas, dan sesuai usia anak.

Contohnya adalah aturan penggunaan gadget. Orang tua dapat menentukan kapan anak boleh menggunakan gadget dan berapa lama durasinya.

Yang tidak kalah penting adalah konsistensi.

Aturan yang hari ini dilarang tetapi besok dibiarkan tanpa alasan yang jelas dapat membuat anak kebingungan. Sebaliknya, aturan yang diterapkan secara konsisten membantu anak memahami batas dan konsekuensi.

Hindari Hukuman Fisik

Mendidik anak tidak harus dilakukan dengan kekerasan.

Memukul atau memberikan hukuman fisik bukan solusi untuk membentuk perilaku yang baik. Orang tua dapat memilih pendekatan yang tegas tetapi tetap menghargai anak.

Ketika anak melakukan kesalahan, jelaskan perilaku mana yang tidak tepat dan mengapa tindakan tersebut tidak boleh diulangi.

Anak juga perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.

Dengan demikian, tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak takut terhadap hukuman, melainkan membantu anak memahami alasan di balik sebuah aturan.

Jangan Takut Meminta Maaf kepada Anak

Orang tua juga bisa melakukan kesalahan.

Ketika ayah atau ibu keliru, meminta maaf kepada anak bukan tanda kehilangan wibawa. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi pelajaran penting mengenai tanggung jawab.

Anak akan melihat bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan bahwa mengakui kesalahan merupakan bagian dari proses memperbaiki diri.

Keteladanan seperti inilah yang sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar memberikan nasihat.

Parenting Adalah Proses Belajar

Cara mendidik anak yang baik bukan pekerjaan sekali jadi.

Kebutuhan anak berubah seiring bertambahnya usia. Pola komunikasi yang efektif ketika anak masih kecil belum tentu cocok ketika mereka memasuki usia remaja.

Karena itu, orang tua perlu terus belajar mengenai pengasuhan dan perkembangan anak.

Jika menghadapi persoalan perilaku atau kesulitan dalam menjalankan pola pengasuhan, orang tua juga dapat mencari informasi dari sumber tepercaya atau berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog.

Pada akhirnya, pendidikan karakter anak dimulai dari rumah. Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang pandai memberi nasihat, tetapi juga sosok yang mampu menunjukkan melalui tindakan bagaimana menjadi pribadi yang jujur, penyayang, adil, sopan, bertanggung jawab, dan mampu mengakui kesalahan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Alodokter
Parenting anak Cara mendidik anak perilaku anak pendidikan karakter pola asuh