RADAR BANYUWANGI - Lebih dari 5,5 juta eksemplar buku bacaan dikirim pemerintah ke ribuan sekolah di berbagai daerah Indonesia pada Juli 2026. Penyediaan bahan bacaan bermutu tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat budaya literasi anak, sekaligus mendorong kebiasaan membaca di lingkungan sekolah.
Bagi pelajar, membaca bukan hanya kegiatan untuk menyelesaikan tugas sekolah. Kebiasaan tersebut dapat membantu siswa menemukan informasi, memahami suatu pembahasan, memperluas pengetahuan, sekaligus mengenal beragam sudut pandang.
Bagi pelajar di Banyuwangi maupun daerah lain, kebiasaan membaca juga tidak harus dimulai dari buku yang tebal. Cerita, artikel, majalah, maupun bahan bacaan lain yang sesuai dengan usia dan minat anak dapat menjadi pilihan untuk membangun rutinitas.
Mengapa Kebiasaan Membaca Penting bagi Pelajar?
Siswa yang terbiasa membaca memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai informasi. Dari kegiatan sederhana tersebut, mereka dapat memperkaya kosakata, memahami istilah baru, dan memperoleh bahan untuk menyampaikan pendapat.
Kemampuan tersebut dapat membantu ketika siswa mengerjakan tugas maupun mengikuti pembelajaran. Semakin sering berinteraksi dengan bacaan yang beragam, semakin banyak pula kesempatan bagi anak untuk memahami cara suatu informasi disampaikan.
Namun, manfaat literasi tidak berhenti pada kemampuan memahami tulisan. Kemendikdasmen menempatkan literasi dalam pengertian yang lebih luas, termasuk kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali gagasan secara lisan maupun tulisan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menegaskan bahwa literasi tidak semestinya dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca.
“Literasi tidak dapat dimaknai secara sempit hanya sebagai kemampuan membaca,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan arah Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional 2026–2029 yang disiapkan Kemendikdasmen untuk memperkuat budaya literasi secara terintegrasi, terukur, dan berkelanjutan.
Buku Bermutu Menjadi Bagian Penting
Ketersediaan bahan bacaan menjadi salah satu unsur penting dalam membangun kebiasaan membaca. Anak akan lebih mudah tertarik membaca ketika bahan yang tersedia sesuai dengan usia, tingkat kemampuan, serta minat mereka.
Karena itu, pengiriman jutaan buku ke sekolah memiliki arti lebih dari sekadar menambah koleksi perpustakaan. Bahan bacaan yang mudah dijangkau dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada siswa untuk menemukan jenis bacaan yang mereka sukai.
Kemendikdasmen sebelumnya juga menekankan pentingnya ketersediaan bahan bacaan yang menarik bagi anak. Dalam pembahasan mengenai peta jalan literasi, ketersediaan buku yang sesuai dengan minat pembaca menjadi salah satu perhatian dalam upaya menumbuhkan kebiasaan membaca.
Gawai Menjadi Tantangan
Membangun kebiasaan membaca tentu tidak selalu mudah. Di tengah penggunaan gawai yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, waktu anak dapat terbagi antara kegiatan belajar, hiburan digital, dan aktivitas lainnya.
Kondisi tersebut membuat sekolah dan keluarga memiliki peran penting. Anak tidak hanya perlu diberi anjuran untuk membaca, tetapi juga perlu mendapatkan lingkungan yang membuat aktivitas tersebut mudah dilakukan.
Orang tua dapat menyediakan bahan bacaan di rumah, sementara sekolah dapat menghadirkan ruang membaca yang nyaman. Pilihan bacaan pun sebaiknya tidak terbatas pada buku pelajaran.
Sekolah Bisa Membuat Membaca Lebih Menarik
Kegiatan literasi juga dapat dilakukan melalui aktivitas bersama. Sekolah dapat membuat pojok baca di kelas, membaca bersama, diskusi buku, hingga kegiatan menulis berdasarkan bacaan yang telah diselesaikan siswa.
Pendekatan semacam ini membuat membaca tidak selalu dipandang sebagai tugas. Anak dapat memperoleh pengalaman bahwa sebuah bacaan bisa menjadi pintu untuk berdiskusi, bertanya, menulis, dan menyampaikan pendapat.
Gerakan literasi sekolah sendiri telah lama diarahkan untuk membangun ekosistem sekolah yang mendorong kegemaran membaca. Salah satu contoh kegiatan yang pernah diterapkan adalah waktu khusus membaca yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Budaya Membaca Tidak Terbentuk dalam Sehari
Pengiriman jutaan buku ke sekolah dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat budaya literasi. Namun, keberadaan buku saja tidak otomatis membuat anak gemar membaca.
Kebiasaan tersebut membutuhkan proses yang konsisten. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar perlu memberikan ruang agar anak dapat membaca secara rutin sekaligus menemukan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Tujuan membangun budaya literasi bukan sekadar membuat pelajar lebih sering membuka buku. Yang lebih penting adalah membentuk kemampuan untuk memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta menyampaikan gagasan dengan baik.
Bagi pelajar, kemampuan tersebut akan tetap berguna jauh setelah mereka menyelesaikan pendidikan. Di tengah banyaknya informasi yang ditemui setiap hari, kemampuan memahami dan menggunakan informasi secara tepat menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai persoalan di masa depan.
Editor : Lugas Rumpakaadi