Suka Makan Telur Setengah Matang? Ini Risiko Salmonella dan Alasan Telur Matang Lebih Aman

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 12:11 WIB
Telur setengah matang dengan kuning telur yang masih cair digemari karena teksturnya yang lembut. Namun, tingkat kematangan telur perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko kontaminasi Salmonella. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Telur setengah matang dengan kuning telur yang masih cair digemari karena teksturnya yang lembut. Namun, tingkat kematangan telur perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko kontaminasi Salmonella. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Kuning telur yang masih cair memang membuat mi, nasi, atau hidangan lain terasa lebih creamy. Teksturnya lembut dengan cita rasa gurih yang membuat telur setengah matang menjadi pilihan banyak orang.

Namun, di balik kenikmatan tersebut, ada aspek keamanan pangan yang perlu diperhatikan. Telur yang belum matang sempurna berpotensi membawa bakteri Salmonella, sementara putih telur yang masih mentah juga mengandung senyawa yang dapat menghambat penyerapan salah satu vitamin.

Bagi masyarakat yang terbiasa menikmati telur setengah matang, persoalannya bukan sekadar soal selera. Cara memasak dan asal telur turut menentukan seberapa aman makanan tersebut dikonsumsi.

Dianggap Lebih Creamy

Telur setengah matang sering menjadi pelengkap berbagai makanan, termasuk mi instan. Kuning telur yang masih cair memberikan tekstur lebih lembut dan rasa gurih pada makanan.

Naufal, termasuk salah satu orang yang menyukai tekstur tersebut.

“Aku lebih suka makan mie yang pakai telur setengah matang gitu kayak lebih creamy aja gitu,” ujar Naufal.

Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami gangguan kesehatan. Risiko terutama berkaitan dengan kemungkinan adanya mikroorganisme berbahaya pada telur serta kondisi orang yang mengonsumsinya.

Benarkah Telur Setengah Matang Lebih Bikin Bertenaga?

Anggapan bahwa telur setengah matang mampu memberikan stamina lebih tinggi dibandingkan telur matang perlu dilihat kembali.

Ahli Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Toto Sudargo, menjelaskan bahwa putih telur yang belum matang sempurna mengandung avidin. Senyawa ini dapat berikatan dengan biotin atau vitamin B7 sehingga mengurangi ketersediaan biotin untuk diserap tubuh.

Proses pemasakan membantu mengubah struktur avidin tersebut. Karena itu, memasak telur hingga matang dapat membuat protein dan sejumlah zat gizi di dalamnya lebih mudah dimanfaatkan tubuh.

Dengan kata lain, tekstur yang lebih cair tidak serta-merta membuat telur memiliki khasiat peningkat stamina yang lebih tinggi. Kandungan gizi telur tetap dapat diperoleh melalui telur yang dimasak matang.

Selain itu, pemanasan juga dapat mengubah struktur protein telur dan pada kondisi tertentu membantu mengurangi potensi alergenisitasnya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tingkat kematangan juga penting dilihat dari sisi pengolahan pangan, bukan hanya rasa.

Risiko yang Tidak Terlihat pada Telur

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan salmonelosis, yaitu infeksi yang dapat menimbulkan keluhan seperti diare, mual, muntah, sakit perut, dan demam.

Kontaminasi dapat terjadi pada telur, termasuk melalui lingkungan produksi maupun unggas yang terinfeksi. Karena itu, telur yang terlihat bersih dari luar tidak selalu dapat dipastikan bebas dari bakteri.

Informasi yang diberikan dalam materi rujukan menyebutkan bahwa CDC memperkirakan sekitar satu dari 20.000 telur berisiko membawa bakteri berbahaya. Angka tersebut menunjukkan bahwa risikonya memang tidak berarti setiap telur terkontaminasi, tetapi kemungkinan tersebut tetap perlu diperhitungkan dalam pengolahan makanan.

Hal penting lainnya adalah tidak menyamakan seluruh infeksi Salmonella dengan demam tifoid. Tipes atau demam tifoid secara spesifik disebabkan oleh Salmonella Typhi, sedangkan salmonelosis yang berkaitan dengan konsumsi pangan umumnya melibatkan jenis Salmonella non-tifoidal.

Mengapa Telur Matang Lebih Aman?

Pemanasan merupakan salah satu cara utama untuk mengendalikan bakteri patogen pada makanan.

Telur yang dimasak hingga matang membuat putih dan kuning telur mengalami perubahan tekstur akibat panas. Sebaliknya, pada telur setengah matang, bagian tertentu masih belum mencapai kondisi pemasakan yang sama.

Karena itu, ketika keamanan telur tidak dapat dipastikan, memasaknya hingga matang sempurna merupakan pilihan yang lebih aman.

Penting pula untuk tidak menggunakan satu angka suhu secara terpisah dari durasi pemanasan dan kondisi pengolahan. Efektivitas panas terhadap bakteri bergantung pada kombinasi suhu dan waktu serta suhu internal makanan.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?

Risiko konsumsi telur kurang matang menjadi perhatian khusus bagi kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi akibat infeksi, antara lain ibu hamil, anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Kelompok tersebut sebaiknya memilih telur yang dimasak matang atau menggunakan produk telur yang telah dipasteurisasi sesuai petunjuk penggunaannya.

Tetap Ingin Kuning Telur Cair? Perhatikan Pilihannya

Bagi orang yang menyukai tekstur telur setengah matang, telur pasteurisasi dapat menjadi alternatif. Proses pasteurisasi menggunakan perlakuan panas yang dirancang untuk mengurangi mikroorganisme berbahaya tanpa memasak telur sepenuhnya seperti pada pemasakan biasa.

Meski demikian, konsumen tetap perlu mengikuti petunjuk penyimpanan dan penggunaan pada kemasan. Status pasteurisasi juga harus benar-benar dapat dipastikan, bukan sekadar diasumsikan karena telur terlihat bersih.

Di rumah, beberapa langkah sederhana juga dapat dilakukan untuk mengurangi risiko:

Lezat Boleh, Aman Jangan Diabaikan

Telur merupakan sumber protein dan lemak yang bernilai gizi. Namun, tidak ada alasan untuk menganggap telur setengah matang otomatis lebih bergizi atau lebih mampu meningkatkan stamina dibandingkan telur yang dimasak matang.

Justru dari sisi keamanan pangan, telur matang memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap risiko bakteri dibandingkan telur yang masih mentah atau kurang matang.

Bagi masyarakat Banyuwangi yang terbiasa menikmati telur setengah matang sebagai pelengkap mi atau menu sehari-hari, keputusan akhirnya tetap berada pada konsumen. Namun, ketika kondisi telur, proses penyimpanan, dan kebersihannya tidak dapat dipastikan, memasaknya hingga matang sempurna merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko.

Kelezatan kuning telur yang masih cair memang menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi untuk urusan makanan, rasa dan keamanan sebaiknya berjalan beriringan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Salmonella telur setengah matang manfaat telur kesehatan keamanan pangan