Sudah Kenyang tapi Masih Ingin Makan Manis? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 12:01 WIB
Dessert kerap tetap menggoda meski perut sudah kenyang setelah menyantap makanan gurih atau pedas. Perubahan sensasi rasa dan respons otak menjadi salah satu penjelasan di balik fenomena tersebut. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Dessert kerap tetap menggoda meski perut sudah kenyang setelah menyantap makanan gurih atau pedas. Perubahan sensasi rasa dan respons otak menjadi salah satu penjelasan di balik fenomena tersebut. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Pernah merasa perut sudah penuh setelah menyantap makanan pedas atau gurih, tetapi masih sanggup menghabiskan es krim, kue, puding, atau makanan manis lainnya?

Bagi banyak orang, kondisi seperti ini terasa cukup aneh. Porsi makanan utama sudah membuat kenyang, tetapi ketika makanan penutup datang, selera makan seolah kembali muncul. Fenomena yang kerap disebut “dessert stomach” atau “perut khusus dessert” ternyata bukan sekadar lapar mata.

Keinginan tersebut dapat dipengaruhi oleh cara otak merespons rasa, perubahan sensasi pada lidah, sistem penghargaan tubuh, hingga kebiasaan makan yang terbentuk sejak lama.

“Aku kalau habis makan yang gurih pedas gitu selalu pengen makan yang manis gitu loh biar kayak imbang aja gitu rasanya enggak tahu kenapa gitu,” ujar Aisyah.

Pengalaman Aisyah tersebut sebenarnya cukup umum. Setelah menyantap makanan dengan rasa asin, gurih, atau pedas, rasa manis yang muncul sebagai penutup memberikan sensasi berbeda. Perubahan rasa inilah yang menjadi salah satu penjelasan mengapa seseorang masih tertarik pada dessert meski sebelumnya sudah merasa kenyang.

Mengapa Perut Masih Terasa Punya Ruang untuk Dessert?

Salah satu konsep yang dapat menjelaskan fenomena tersebut adalah Sensory-Specific Satiety (SSS), yang banyak diteliti dalam bidang perilaku makan, termasuk oleh Prof. Dr. Barbara J. Rolls dari Penn State University.

Secara sederhana, konsep ini menjelaskan bahwa rasa kenyang terhadap satu jenis makanan tidak selalu membuat seseorang kehilangan ketertarikan terhadap makanan dengan rasa berbeda.

Ketika seseorang mengonsumsi makanan gurih dalam jumlah banyak, rangsangan rasa yang sama secara terus-menerus dapat menjadi kurang menarik bagi indra pengecap. Namun, ketika muncul makanan dengan karakter rasa yang berbeda, seperti dessert manis, rangsangan baru tersebut kembali menggugah selera.

Itulah sebabnya seseorang yang mengatakan sudah tidak sanggup menambah nasi masih mungkin tergoda ketika melihat seporsi es krim atau kue.

Sensasinya bukan berarti tubuh memiliki ruang perut khusus untuk makanan penutup. Sebaliknya, perubahan rangsangan rasa dapat membuat makanan yang berbeda terasa lebih menarik.

Rasa Manis dan Sistem Penghargaan Otak

Ada alasan lain mengapa makanan manis begitu mudah menggoda.

Penelitian yang dikaitkan dengan Dr. Marc Tittgemeyer dan Dr. Sharmili Thanarajah dari Max Planck Institute menunjukkan adanya respons dopamin terhadap gula pada dua tahap. Respons pertama berkaitan dengan saat rasa manis diterima melalui lidah, sedangkan respons berikutnya muncul ketika makanan mencapai saluran pencernaan.

Dopamin berperan dalam sistem penghargaan, motivasi, dan pembelajaran. Karena itu, pengalaman menyenangkan setelah mengonsumsi makanan manis dapat ikut memperkuat keinginan untuk menikmatinya kembali.

Dengan kata lain, dessert bukan hanya soal rasa di lidah. Ada sistem biologis di balik pengalaman tersebut.

Mengapa Manusia Sejak Dulu Menyukai Rasa Manis?

Ketertarikan terhadap rasa manis juga dapat dilihat dari perspektif evolusi.

Dr. Dana Small dari Yale University termasuk peneliti yang mengkaji hubungan antara rasa, metabolisme, dan sistem penghargaan di otak. Dalam perspektif evolusi, manusia memiliki kecenderungan menyukai rasa manis karena makanan yang mengandung gula dapat menjadi sumber energi yang cepat digunakan tubuh.

Pada masa ketika sumber makanan belum mudah diperoleh seperti sekarang, kemampuan mengenali makanan berenergi tinggi tentu memiliki nilai bagi kelangsungan hidup.

Kecenderungan tersebut kemudian terbawa hingga kehidupan modern. Bedanya, saat ini makanan manis jauh lebih mudah ditemukan dan tersedia dalam beragam bentuk.

Setelah Makan, Mengapa Makanan Manis Terasa Lebih Menenangkan?

Selain dopamin, asupan karbohidrat juga berkaitan dengan mekanisme tubuh yang melibatkan triptofan dan serotonin. Serotonin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam pengaturan suasana hati dan berbagai fungsi tubuh.

Hubungan antara makanan, rasa nyaman, dan suasana hati juga membuat makanan manis kerap diasosiasikan dengan perasaan menyenangkan.

Namun, keinginan makan dessert tidak berarti setiap kali seseorang menginginkan makanan manis tubuh sedang membutuhkan gula. Faktor kebiasaan, lingkungan, pengalaman makan, dan ketersediaan makanan juga dapat memainkan peran besar.

Jika seseorang terbiasa menutup makan dengan makanan manis, otak dapat mengenali pola tersebut sebagai bagian dari rutinitas.

Fenomena yang Mudah Ditemui di Banyuwangi

Dalam keseharian masyarakat Banyuwangi, makanan manis bukan sesuatu yang sulit ditemukan. Setelah menikmati makanan dengan bumbu kuat atau cita rasa pedas, berbagai pilihan seperti es, kue, jajanan pasar, hingga kudapan manis dapat menjadi penutup.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa makanan penutup tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan biologis, tetapi juga budaya makan.

Seseorang mungkin memilih dessert karena ingin menyeimbangkan rasa pedas atau gurih yang masih tertinggal di mulut. Orang lain mungkin sudah terbiasa menikmati sesuatu yang manis setelah makan. Dalam banyak kasus, kedua faktor tersebut dapat terjadi secara bersamaan.

Dessert dan Tradisi yang Sudah Berusia Berabad-abad

Kebiasaan menikmati hidangan penutup setelah makan besar juga memiliki sejarah panjang.

Dalam tradisi kuliner Eropa, penyajian makanan penutup berkembang sebagai bagian dari rangkaian jamuan. Pada lingkungan bangsawan Prancis sekitar abad ke-17, hidangan penutup turut digunakan untuk menyegarkan kembali langit-langit mulut setelah menyantap makanan utama dengan rasa kuat.

Fungsi tersebut membuat rasa manis tidak hanya dipandang sebagai tambahan, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman bersantap.

Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dan menyebar dalam berbagai bentuk. Dessert kemudian hadir hampir di seluruh budaya kuliner dunia dengan bahan dan karakter yang berbeda-beda.

Jadi, Benarkah Ada “Perut Khusus Dessert”?

Jawabannya tidak secara harfiah.

Perut manusia tidak mempunyai kompartemen khusus yang hanya terbuka ketika seseorang melihat kue atau es krim. Istilah “dessert stomach” lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pengalaman ketika seseorang masih tertarik menyantap makanan penutup meskipun sudah merasa kenyang.

Perubahan sensasi rasa, respons sistem penghargaan otak, mekanisme biologis, kebiasaan, serta pengalaman makan dapat bekerja secara bersamaan.

Jadi, ketika setelah menikmati makanan pedas atau gurih seseorang tiba-tiba merasa masih punya ruang untuk makanan manis, fenomena tersebut bukan semata-mata soal lapar mata. Otak dan indra pengecap memang dapat membuat makanan dengan rasa baru kembali terasa menarik.

Bagi penikmat kuliner di Banyuwangi, fenomena ini mungkin terasa sederhana: makan sudah selesai, tetapi dessert tetap punya tempat. Di balik kebiasaan tersebut ternyata terdapat mekanisme biologis dan sejarah kuliner yang cukup panjang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
makanan manis dessert setelah makan perut khusus dessert sensory-specific satiety kebiasaan makan