RADAR BANYUWANGI - Bagian dalam tas bekal thermal atau cooler bag yang berwarna perak mengilap sering kali dianggap hanya sebagai pelapis biasa. Padahal, permukaan tersebut memiliki fungsi penting dalam memperlambat perpindahan panas sehingga suhu makanan dan minuman dapat lebih terjaga.
Penggunaan tas bekal jenis ini semakin umum, terutama di kalangan pelajar dan pekerja yang membawa makanan dari rumah. Minuman dingin, misalnya, cenderung terasa lebih lama dinginnya ketika ditempatkan di dalam wadah yang memiliki lapisan isolasi.
Pengalaman itu juga dirasakan Mayang, 17 tahun, yang memilih wadah bekal dengan lapisan aluminium karena dinilai lebih mampu mempertahankan suhu minuman.
“Aku lebih suka pakai wadah bekal yang ada aluminiumnya. Soalnya kalau kayak naruh minuman dingin gitu, itu kayak lebih awet aja gitu dinginnya,” ujar Mayang.
Bukan sekadar lapisan mengilap
Kemampuan aluminium dalam membantu mempertahankan suhu berkaitan dengan prinsip perpindahan panas atau heat transfer. Permukaan aluminium yang mengilap memiliki tingkat emisi panas yang rendah (low emissivity), sehingga lebih banyak memantulkan radiasi inframerah daripada menyerapnya.
Pada makanan panas, mekanisme tersebut membantu memantulkan radiasi panas kembali ke arah bagian dalam wadah. Sementara pada makanan atau minuman dingin, lapisan tersebut membantu mengurangi masuknya radiasi panas dari lingkungan.
Dengan kata lain, lapisan berwarna perak pada cooler bag bukan sekadar memberikan tampilan khas, tetapi menjadi salah satu bagian dari sistem isolasi yang bekerja menjaga kondisi termal di dalam tas.
Penelitian yang dicantumkan dalam Jurnal Berkala Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat juga menunjukkan bahwa penggunaan aluminium foil dapat memperlambat laju penurunan suhu secara signifikan. Data yang dikutip dalam bahan penelitian tersebut menunjukkan perubahan suhu sekitar 0,0–0,1 derajat Celsius per menit.
Ada tiga lapisan yang bekerja bersama
Kemampuan cooler bag mempertahankan suhu tidak hanya bergantung pada aluminium. Wadah bekal thermal umumnya menggunakan konstruksi berlapis atau multi-layer insulation.
Lapisan paling luar biasanya dibuat menggunakan bahan seperti kain Oxford atau PVC yang relatif tahan terhadap air dan gesekan. Fungsinya memberikan perlindungan fisik sekaligus membantu menjaga bentuk tas.
Di bagian tengah terdapat EPE Foam atau bahan termal padat lainnya. Material ini memiliki banyak gelembung udara berukuran kecil yang membantu menghambat perpindahan panas melalui konduksi.
Sementara itu, lapisan paling dalam menggunakan aluminium foil laminasi. Selain membantu memantulkan radiasi panas, lapisan ini juga dapat berfungsi sebagai penghalang terhadap rembesan cairan.
Ketiga bagian tersebut bekerja secara bersamaan. Karena menggunakan material yang relatif ringan dan fleksibel, tas thermal kemudian lebih praktis dibawa dibandingkan wadah berbahan logam tebal atau kaca.
Bisa membantu melindungi makanan, tetapi bukan pengawet
Aluminium juga dikenal sebagai material penghalang yang baik terhadap sejumlah faktor lingkungan. Dalam bentuk dan konstruksi kemasan yang tepat, aluminium dapat menghambat masuknya cahaya, kelembapan, oksigen, dan kontaminan dari luar.
Karakteristik tersebut memberikan perlindungan tambahan terhadap isi wadah. Namun, keberadaan lapisan aluminium tidak berarti makanan otomatis aman disimpan dalam waktu lama.
Jenis makanan, suhu penyimpanan, lama penyimpanan, kebersihan wadah, serta penggunaan sumber pendingin seperti ice pack tetap berpengaruh terhadap keamanan dan kualitas makanan.
Karena itu, cooler bag sebaiknya dipahami sebagai alat untuk membantu mempertahankan kondisi suhu, bukan sebagai pengganti praktik penyimpanan makanan yang aman.
Jangan langsung menyentuhkan makanan sangat asam
Ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan wadah dengan lapisan aluminium.
Makanan yang sangat asam, seperti masakan dengan saus tomat pekat, makanan yang banyak menggunakan cuka, atau olahan dengan lemon, sebaiknya tidak dibiarkan bersentuhan langsung dengan permukaan aluminium selama berjam-jam.
Keasaman yang tinggi dapat memicu reaksi pada permukaan aluminium dan meningkatkan kemungkinan migrasi material ke makanan. Risiko tersebut dapat diminimalkan dengan menggunakan wadah makanan yang sesuai sebagai lapisan pemisah.
Untuk makanan dengan kadar asam tinggi, makanan dapat ditempatkan terlebih dahulu di dalam wadah kaca atau plastik yang memang diperuntukkan bagi makanan, termasuk pilihan plastik bebas BPA, sebelum dimasukkan ke dalam cooler bag.
Agar bekal tetap aman dibawa
Penggunaan tas bekal thermal akan lebih efektif jika disertai kebiasaan penyimpanan yang tepat.
Makanan yang memang membutuhkan suhu dingin sebaiknya tetap dijaga dingin selama perjalanan. Penggunaan ice pack dapat membantu ketika makanan perlu mempertahankan suhu rendah dalam waktu tertentu.
Wadah dan bagian dalam tas juga perlu dibersihkan secara rutin, terutama setelah digunakan membawa makanan atau minuman yang tumpah. Tas sebaiknya dikeringkan sebelum kembali digunakan untuk mengurangi kondisi lembap yang dapat mengganggu kebersihan.
Lapisan perak mengilap pada tas bekal thermal memang memiliki fungsi yang lebih penting daripada sekadar mempercantik tampilan. Aluminium bekerja bersama material isolator lain untuk memperlambat perpindahan panas.
Bagi pelajar maupun pekerja yang membawa bekal, teknologi sederhana tersebut dapat membantu menjaga makanan dan minuman tetap berada pada kondisi suhu yang diinginkan selama perjalanan. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diikuti dengan pemilihan wadah yang tepat, kebersihan, serta pengelolaan waktu dan suhu penyimpanan makanan.
Editor : Lugas Rumpakaadi