Sering Masukkan Lauk Berbungkus Plastik ke Rice Cooker? Ini yang Perlu Diperhatikan

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:17 WIB
Memindahkan lauk dari kantong plastik ke wadah yang sesuai untuk makanan panas menjadi langkah sederhana sebelum makanan dihangatkan kembali. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Memindahkan lauk dari kantong plastik ke wadah yang sesuai untuk makanan panas menjadi langkah sederhana sebelum makanan dihangatkan kembali. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Bagi sebagian orang, memasukkan lauk yang masih terbungkus plastik ke dalam rice cooker terasa sebagai cara paling praktis untuk menghangatkan makanan. Tidak perlu memindahkan isi kantong ke wadah lain, tidak perlu mencuci panci tambahan, dan makanan bisa kembali hangat ketika hendak disantap.

Kebiasaan tersebut juga dilakukan Amel. Ia mengaku memilih cara tersebut karena lebih praktis dibandingkan harus membuka plastik dan memindahkan makanan terlebih dahulu.

“Aku lebih sering angetin di dalam rice cooker sih. Soalnya kalau harus lepas plastiknya dulu terus diangetin di panci tuh ribet gak sih, malah nambah cucian,” ujar Amel.

Namun, kepraktisan itu perlu diimbangi dengan perhatian terhadap jenis plastik yang digunakan. Tidak semua kantong plastik dibuat untuk menampung makanan panas atau digunakan dalam kondisi terkena panas secara langsung.

Sering dilakukan karena praktis

Makanan yang dibeli atau disimpan dalam kantong plastik memang lebih mudah langsung dimasukkan ke dalam rice cooker. Terlebih ketika makanan tersebut akan dikonsumsi beberapa jam kemudian dan hanya perlu dihangatkan kembali.

Masalahnya, fungsi kantong sebagai kemasan makanan tidak otomatis berarti plastik tersebut aman untuk dipanaskan. Keamanan penggunaannya bergantung pada bahan plastik, tujuan penggunaan, serta batas suhu yang dapat ditoleransi oleh kemasan.

Karena itu, kantong plastik biasa atau kantong kresek sebaiknya tidak dianggap sebagai wadah pemanas makanan.

Panas dapat memengaruhi material plastik

Berdasarkan informasi kesehatan Halodoc dan Alodokter, pemanasan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya migrasi atau perpindahan senyawa tertentu dari material kemasan ke makanan.

Risikonya tidak selalu sama pada setiap jenis plastik. Suhu, lamanya pemanasan, kondisi kemasan, serta karakteristik makanan dapat memengaruhi proses tersebut.

Makanan yang mengandung minyak atau lemak juga perlu mendapat perhatian karena karakteristik makanan dapat memengaruhi perpindahan senyawa tertentu dari material kemasan.

Sejumlah literatur yang dirujuk dalam bahan awal juga membahas keberadaan bahan seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates pada jenis material plastik tertentu. Paparan panas berulang turut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pembahasan mengenai degradasi material plastik dan terbentuknya partikel berukuran sangat kecil.

Meski demikian, hal tersebut tidak berarti setiap makanan yang pernah dipanaskan dalam plastik otomatis mengandung zat berbahaya dalam jumlah yang dapat menyebabkan penyakit. Tingkat risiko perlu dilihat berdasarkan jenis material, kondisi penggunaan, suhu, dan durasi paparan.

Tidak semua plastik dirancang untuk makanan panas

Perhatian utama justru perlu diberikan pada plastik yang tidak memiliki keterangan atau petunjuk bahwa kemasan tersebut sesuai untuk makanan panas.

BPOM juga menjadi salah satu rujukan penting dalam hal keamanan kemasan pangan. Masyarakat perlu memperhatikan kesesuaian bahan kemasan dengan jenis pangan dan penggunaannya, bukan hanya melihat apakah plastik tersebut dapat digunakan untuk membungkus makanan.

Artinya, plastik yang biasa digunakan untuk membawa atau menyimpan makanan tidak otomatis cocok digunakan sebagai wadah ketika makanan tersebut dipanaskan.

Cara lebih aman menghangatkan lauk

Mengurangi potensi paparan dari kemasan sebenarnya dapat dilakukan dengan langkah sederhana. Sebelum makanan dihangatkan, keluarkan terlebih dahulu dari kantong plastik dan pindahkan ke wadah yang memang sesuai untuk makanan panas.

Wadah berbahan kaca, keramik yang sesuai, atau stainless steel dapat menjadi pilihan. Pengguna tetap perlu memperhatikan petunjuk penggunaan karena tidak semua wadah cocok digunakan dalam setiap metode pemanasan.

Untuk makanan berkuah seperti rawon, sayur, atau lauk dengan kandungan minyak, makanan juga sebaiknya dipindahkan sepenuhnya dari kantong plastik sebelum proses penghangatan.

Kebiasaan ini mungkin menambah satu langkah kecil dan sedikit pekerjaan mencuci. Namun, langkah tersebut membuat penggunaan kemasan dan alat pemanas menjadi lebih sesuai dengan fungsinya.

Jangan hanya mengejar kepraktisan

Menghangatkan makanan dalam kantong plastik memang tampak sederhana, tetapi keamanan makanan seharusnya tetap menjadi pertimbangan. Terlebih jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali.

Daripada mempertahankan makanan di dalam plastik selama proses pemanasan, memindahkannya ke wadah yang sesuai merupakan pilihan yang lebih bijak.

Tidak semua hal yang praktis harus dilakukan dengan mengorbankan aspek keamanan. Membuka plastik dan memindahkan makanan sebelum menghangatkannya hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tetapi dapat menjadi kebiasaan baik dalam menjaga keamanan pangan keluarga.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Kesehatan Keluarga makanan panas plastik makanan keamanan pangan rice cooker