RADAR BANYUWANGI - Selama ini tanah identik dengan tempat tanaman tumbuh. Akar menancap ke dalam tanah, lalu tanaman mendapatkan air dan unsur hara untuk menunjang kehidupannya. Namun, pola tersebut bukan satu-satunya cara tanaman dapat dibudidayakan.
Melalui hidroponik, tanaman dapat tumbuh tanpa menggunakan tanah. Air dan larutan nutrisi menjadi bagian penting dalam sistem ini, sementara akar tanaman ditempatkan pada media tertentu yang berfungsi menopang pertumbuhannya.
Lantas, jika tidak tumbuh di tanah, dari mana tanaman hidroponik mendapatkan “makanan”?
Nutrisi langsung diberikan ke sekitar akar
Pada dasarnya, tanaman membutuhkan air dan berbagai unsur hara untuk tumbuh. Dalam budidaya konvensional, unsur-unsur tersebut tersedia di dalam tanah dan kemudian diserap melalui akar.
Hidroponik menggunakan pendekatan yang berbeda. Kebutuhan nutrisi diberikan melalui larutan hara yang berada di sekitar zona perakaran. Dengan cara tersebut, tanaman tetap memperoleh unsur yang dibutuhkan meskipun akarnya tidak berada di dalam tanah.
Kementerian Pertanian menjelaskan hidroponik sebagai teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah. Air digunakan sebagai pengganti tanah, sedangkan larutan hara menjadi sumber makanan bagi tanaman di zona perakaran.
“Inti dari teknologi hidroponik adalah pemberian larutan hara sebagai sumber makanan bagi tanaman di zona perakaran, di mana tanaman tersebut ditanam pada media tertentu dengan menggunakan air sebagai pengganti tanah,” ungkap Daniel, salah satu pembudidaya tanaman organik di Banyuwangi.
Larutan nutrisi tersebut bukan sekadar air yang dicampur secara sembarangan. Di dalamnya terdapat sejumlah unsur yang dibutuhkan tanaman.
Menurut informasi Kementerian Pertanian, nutrisi A antara lain mengandung kalsium, kalium, nitrogen, dan zat besi. Sementara nutrisi B mengandung kalium, nitrogen, fosfor, magnesium, sulfur, serta sejumlah unsur mikro.
Artinya, rahasia tanaman hidroponik bukan terletak pada kemampuan tanaman untuk “hidup hanya dengan air”, melainkan pada bagaimana kebutuhan air dan unsur hara disediakan bagi akar.
Kalau tidak ada tanah, akar tumbuh di mana?
Ketiadaan tanah bukan berarti tanaman hidroponik dibiarkan begitu saja di dalam air. Tanaman tetap membutuhkan tempat untuk menopang akar dan tubuhnya.
Karena itu, hidroponik dapat menggunakan berbagai media tanam. Kementerian Pertanian menyebut beberapa di antaranya adalah rockwool, sekam bakar, hidroton, dan pasir.
Media tersebut berfungsi sebagai tempat tanaman bertumpu. Sementara itu, kebutuhan nutrisi diperoleh dari larutan hara yang berada di sekitar perakaran.
Di sinilah letak salah satu kesalahpahaman yang sering muncul mengenai hidroponik. Hidroponik bukan sekadar menaruh tanaman ke dalam wadah berisi air. Ada sistem yang harus diperhatikan agar akar dan tanaman memperoleh kondisi yang sesuai untuk tumbuh.
Bukan cuma soal air dan nutrisi
Air dan larutan nutrisi memang menjadi bagian utama hidroponik, tetapi keduanya bukan satu-satunya faktor yang menentukan pertumbuhan tanaman.
Cahaya, oksigen, ketersediaan air, dan nutrisi juga perlu diperhatikan. Jika salah satu kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dengan baik, pertumbuhan tanaman dapat terganggu.
Karena itu, budidaya hidroponik tetap membutuhkan pengelolaan. Meskipun tidak menggunakan tanah, tanaman tetap memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.
Perbedaannya adalah cara kebutuhan tersebut disediakan.
Pada sistem berbasis tanah, akar memperoleh air dan unsur hara dari lingkungan tanah. Pada hidroponik, nutrisi diberikan melalui larutan yang berada di sekitar zona perakaran.
Menjadi alternatif untuk lahan terbatas
Hidroponik juga menawarkan keuntungan dari sisi penggunaan tempat. Menurut informasi Kementerian Pertanian, metode ini dapat diterapkan pada lahan sempit, termasuk area di sekitar rumah.
Hal tersebut membuat hidroponik menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin bercocok tanam tetapi tidak memiliki lahan luas.
Konsepnya pun memungkinkan kegiatan budidaya dilakukan pada ruang yang sebelumnya mungkin tidak dianggap sebagai lahan pertanian. Dengan pengaturan sistem yang tepat, area terbatas dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman.
Bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan ruang terbatas, hidroponik pada akhirnya bukan hanya soal teknik menanam tanpa tanah. Metode ini juga menawarkan cara berbeda dalam memanfaatkan ruang untuk kegiatan bercocok tanam.
Jadi, apa “makanan” tanaman hidroponik?
Jawabannya adalah unsur hara yang diberikan melalui larutan nutrisi.
Tanaman tetap membutuhkan air, unsur hara, cahaya, dan oksigen untuk mendukung pertumbuhannya. Yang berubah dalam hidroponik adalah cara tanaman memperoleh kebutuhan tersebut.
Tanah tidak lagi menjadi tempat utama akar memperoleh nutrisi. Sebagai gantinya, akar berada pada sistem yang menyediakan larutan hara, sementara media seperti rockwool, sekam bakar, hidroton, atau pasir membantu menopang tanaman.
Dengan demikian, tanaman sebenarnya tidak kehilangan “makanan” hanya karena tidak tumbuh di tanah. Hidroponik hanya mengubah jalur pemberian nutrisi dari tanah menuju larutan hara di sekitar zona perakaran.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba bercocok tanam di lahan terbatas, pemahaman mengenai prinsip dasar tersebut menjadi langkah awal. Sebab, inti hidroponik bukan sekadar mengganti tanah dengan air, melainkan memastikan tanaman tetap memperoleh seluruh kebutuhan penting untuk tumbuh.
Editor : Lugas Rumpakaadi