Banyuwangi Berkembang sebagai Kota Wisata, Jalan Tak Bisa Hanya Dipikirkan untuk Kendaraan

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 06:23 WIB
Pepohonan dan penerangan yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan serta kualitas ruang jalan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas pada malam hari. (ChatGPT)
Pepohonan dan penerangan yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan serta kualitas ruang jalan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas pada malam hari. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Ketika sebuah kota berkembang sebagai tujuan wisata, kebutuhan terhadap jalan ikut berubah. Jalan tidak lagi cukup dipandang sebagai ruang untuk memindahkan kendaraan dari satu tempat ke tempat lain.

Di dalam ruang yang sama, terdapat pejalan kaki yang menuju tempat kerja atau pusat aktivitas, pesepeda yang menggunakan sepeda untuk perjalanan harian, pengguna transportasi umum yang menunggu kendaraan, serta wisatawan yang menjelajahi kota.

Karena itu, kualitas jalan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa lancar kendaraan bergerak. Kenyamanan berjalan kaki, keamanan menyeberang, keselamatan bersepeda, kemudahan menggunakan transportasi umum hingga kemampuan jalan menghadapi hujan juga menjadi bagian dari kualitas ruang kota.

Perspektif tersebut relevan bagi Banyuwangi sebagai daerah yang terus mengembangkan sektor pariwisata. Semakin banyak orang beraktivitas di ruang kota, semakin beragam pula kebutuhan terhadap jalan yang aman dan mudah digunakan.

National Association of City Transportation Officials (NACTO) dalam Urban Street Design Guide menjelaskan bahwa jalan merupakan bagian besar dari ruang publik perkotaan. Artinya, perancangannya perlu mengakomodasi berbagai aktivitas, bukan semata-mata pergerakan kendaraan.

Trotoar Menentukan Pengalaman Berjalan Kaki

Bagi seseorang yang berjalan kaki, kualitas kota pertama-tama dapat dirasakan dari trotoar.

Trotoar yang lebar, menerus dan bebas hambatan memberikan ruang yang lebih nyaman bagi pejalan kaki. Sebaliknya, permukaan yang rusak, jalur yang terputus atau keberadaan berbagai penghalang dapat membuat perjalanan menjadi tidak nyaman, bahkan menyulitkan pengguna kursi roda dan perangkat mobilitas lainnya.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting pada kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan. Wisatawan yang turun dari kendaraan atau transportasi umum membutuhkan jalur pedestrian yang mudah dipahami untuk mencapai pusat kuliner, ruang publik, pertokoan maupun tujuan wisata lainnya.

Trotoar juga bukan sekadar fasilitas pelengkap jalan. Ketika berjalan kaki menjadi nyaman, masyarakat memiliki pilihan untuk meninggalkan kendaraan pribadi, terutama untuk perjalanan dengan jarak yang masih memungkinkan ditempuh dengan berjalan kaki.

StansberryMedia melalui kanal YouTube menyampaikan pandangan mengenai bagaimana desain ruang jalan dapat memengaruhi pilihan masyarakat.

“Jika pemerintah memberikan jalur pejalan kaki yang lebih lebar, dan membuatnya lebih lambat. Dengan begitu, orang-orang akan duduk di sana dan berpikir, Wah, saya tidak akan naik mobil ke tempat kerja. Ini memakan waktu terlalu lama,” katanya.

Desain jalan dapat memengaruhi perilaku pengguna. Ruang yang nyaman bagi manusia dapat membuat berjalan kaki menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Pesepeda Membutuhkan Jalur yang Aman dan Terhubung

Pilihan mobilitas lainnya adalah sepeda. Bagi perjalanan tertentu, sepeda dapat menjadi alternatif yang lebih sederhana dibandingkan kendaraan bermotor.

Namun, mendorong penggunaan sepeda tidak cukup hanya dengan menyediakan marka atau jalur di satu ruas jalan. Fasilitas tersebut perlu terhubung dengan jaringan jalan lainnya dan memberikan rasa aman kepada pengguna.

NACTO menekankan pentingnya fasilitas sepeda yang memiliki tingkat keamanan dan konektivitas memadai. Pemisahan yang jelas dari lalu lintas kendaraan bermotor juga dapat membantu mengurangi konflik antara pesepeda dan kendaraan.

Bagi Banyuwangi, keberadaan jalur sepeda yang terhubung dapat memiliki fungsi ganda. Selain mendukung mobilitas warga, fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memungkinkan pengunjung mengenali kota dengan cara yang berbeda.

Persimpangan Menjadi Titik yang Perlu Diperhatikan

Jika trotoar menyediakan ruang untuk berjalan, persimpangan menentukan apakah seseorang dapat berpindah dari satu sisi jalan ke sisi lainnya dengan aman.

Persimpangan mempertemukan berbagai arah pergerakan kendaraan, pejalan kaki dan pesepeda. Tanpa desain yang jelas, pengguna jalan dapat kesulitan memahami siapa yang memiliki prioritas.

Karena itu, marka, penyeberangan, jarak pandang dan pengaturan kecepatan menjadi bagian penting dalam desain persimpangan.

Pada pertemuan jalan besar dan jalan yang lebih kecil, misalnya, konsep raised crossing dan curb extension dapat digunakan untuk memperjelas ruang penyeberangan. Desain tersebut juga dapat membantu mengurangi kecepatan kendaraan ketika berbelok.

Prinsip dasarnya sederhana, pengguna jalan harus dapat memahami ruang yang menjadi hak mereka dan mengetahui pergerakan pengguna lainnya.

Hujan Juga Harus Menjadi Pertimbangan dalam Merancang Jalan

Bagi kota di wilayah dengan curah hujan tinggi, jalan yang nyaman saat cuaca cerah belum tentu menjadi jalan yang baik ketika hujan.

Drainase menjadi bagian penting dalam persoalan tersebut. Air hujan perlu dialirkan dan dikelola agar tidak menimbulkan genangan yang mengganggu lalu lintas maupun aktivitas pejalan kaki.

Pendekatan infrastruktur hijau dapat menjadi salah satu bagian dari pengelolaan air hujan. Vegetasi dan elemen tertentu pada ruang jalan dapat membantu menangkap, menyerap, menyaring dan mengurangi limpasan air.

Namun, sistem drainase juga perlu memperhatikan keselamatan. Saluran terbuka yang tidak terlindungi dapat menjadi bahaya bagi pejalan kaki dan pesepeda. Genangan di area penyeberangan juga dapat mengurangi aksesibilitas.

Dengan kata lain, drainase bukan sekadar persoalan teknis di bawah atau di samping jalan. Sistem tersebut berpengaruh langsung terhadap bagaimana masyarakat menggunakan ruang jalan.

RMS Construction Works melalui kanal YouTube juga menekankan pentingnya konstruksi permukaan dalam menghadapi air.

“Permukaan trotoar yang keras melindungi material pondasi dari air serta mencegah pelunakan permukaan dan erosi,” terangnya.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa kualitas konstruksi dan pengelolaan air perlu dipikirkan sejak tahap perencanaan.

Pohon Bukan Penghias Jalan

Elemen hijau juga dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memperindah lingkungan perkotaan.

Pohon memberikan keteduhan bagi pejalan kaki dan dapat membuat perjalanan menjadi lebih nyaman, terutama pada siang hari. Vegetasi juga dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan air hujan.

Dalam kota wisata, keberadaan pepohonan di sepanjang koridor pedestrian dapat membuat perjalanan dengan berjalan kaki terasa lebih nyaman. Jalan yang teduh juga berpotensi menjadi ruang yang lebih menarik untuk aktivitas sosial.

Karena itu, penanaman pohon sebaiknya dipertimbangkan sebagai bagian dari desain jalan, bukan elemen yang ditambahkan setelah seluruh infrastruktur selesai.

Transportasi Umum Juga Membutuhkan Ruang

Jalan yang dirancang untuk semua pengguna tidak berhenti pada pejalan kaki dan pesepeda. Transportasi umum juga perlu memperoleh ruang yang memadai.

Pada koridor dengan permintaan tinggi, ruang jalan dapat dirancang agar bus atau moda transportasi umum memperoleh fasilitas yang mendukung perjalanan lebih lancar.

NACTO menyebut fasilitas khusus transportasi umum dapat membantu meningkatkan kecepatan perjalanan dan mengurangi ketidakpastian waktu tempuh apabila diterapkan sesuai kebutuhan koridor.

Bagi kota yang terus berkembang, transportasi umum menjadi salah satu bagian penting untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Namun, agar menarik digunakan, transportasi umum juga membutuhkan akses pejalan kaki yang baik menuju halte dan fasilitas yang aman bagi penumpang.

Penerangan Harus Melihat Pejalan Kaki, Bukan Kendaraan

Ketika aktivitas kota berlangsung hingga malam, penerangan menjadi bagian penting dari kualitas jalan.

Penerangan yang baik membantu meningkatkan visibilitas. Namun, titik pencahayaan tidak seharusnya hanya mempertimbangkan posisi kendaraan yang melintas.

Trotoar, persimpangan, halte, jalur sepeda dan area yang banyak digunakan pejalan kaki juga membutuhkan pencahayaan yang memadai.

Bagi kota yang menerima aktivitas wisatawan pada malam hari, aspek tersebut menjadi semakin relevan. Ruang yang terang dan mudah dipahami akan lebih mendukung mobilitas masyarakat maupun pengunjung.

Mengukur Keberhasilan Jalan dari Sisi Manusia

Membangun jalan bukan hanya persoalan menyediakan ruang bagi kendaraan.

Jalan merupakan ruang bersama. Di dalamnya terdapat orang yang berjalan kaki, pesepeda, pengemudi, penumpang angkutan umum, pedagang dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya.

Bagi Banyuwangi, perkembangan sebagai daerah tujuan wisata juga membuat kualitas ruang publik menjadi bagian dari pengalaman kota. Wisatawan tidak hanya melihat destinasi, tetapi juga merasakan bagaimana mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Karena itu, ukuran jalan yang baik dapat diperluas. Bukan hanya berapa banyak kendaraan yang mampu melintas, tetapi juga apakah seseorang dapat berjalan dengan nyaman, menyeberang dengan aman, bersepeda tanpa merasa terancam, menunggu transportasi umum dengan layak dan tetap dapat bergerak ketika hujan turun.

Pendekatan tersebut menempatkan manusia sebagai bagian utama dari perencanaan jalan.

Banyuwangi tidak harus memilih antara jalan untuk kendaraan atau jalan untuk manusia. Keduanya dapat berjalan bersama melalui desain yang memberikan ruang dan prioritas secara jelas kepada setiap pengguna.

Sebab, jalan yang baik bukan hanya jalan yang membuat kendaraan cepat sampai tujuan. Jalan yang baik adalah jalan yang membuat semua orang dapat mencapai tujuan dengan aman, nyaman dan mudah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Trotoar Banyuwangi transportasi perkotaan jalan kota jalur sepeda banyuwangi