400 Siswa Unjuk Gigi, Bahasa Oseng Diuji agar Tak Hilang Ditelan Zaman

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 04:30 WIB
Pelajar SD dan SMP menampilkan kemampuan literasi berbahasa Oseng pada Festival Literasi Using di Creative Space Taman Blambangan pada Sabtu (5/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Pelajar SD dan SMP menampilkan kemampuan literasi berbahasa Oseng pada Festival Literasi Using di Creative Space Taman Blambangan pada Sabtu (5/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Bahasa Oseng tak boleh sekadar menjadi bahasa yang dikenang generasi tua. Pemkab Banyuwangi terus mendorong anak muda menjadi pewarisnya melalui Festival Literasi Using, yang tahun ini melibatkan 400 siswa SD dan SMP dari 25 kecamatan. Lewat lomba sandiwara, geguritan, nembang Oseng hingga mocoan lontar, bahasa lokal itu dibawa ke panggung agar tetap hidup di tengah derasnya perubahan zaman.

Festival Literasi Using digelar di Creative Space kawasan Lapangan Taman Blambangan, Sabtu (5/9). Ratusan pelajar dari berbagai penjuru Banyuwangi tampil untuk menunjukkan kemampuan literasi sekaligus kecintaan terhadap budaya daerah.

Mereka bukan sekadar berlomba. Di balik penampilan tersebut, terselip misi yang lebih besar: memastikan Bahasa Oseng tetap dikenal, digunakan, dan dibanggakan generasi muda Banyuwangi.

Para peserta merupakan perwakilan siswa SD dan SMP dari 25 kecamatan se-Banyuwangi. Mereka beradu kemampuan melalui berbagai perlombaan yang mengasah literasi berbahasa Oseng.

Mulai dari memengan atau permainan sandiwara, geguritan atau puisi Oseng, nembang Oseng, hingga mocoan lontar.

Bukan Sekadar Bisa Berbahasa

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, festival tersebut menjadi salah satu cara pemerintah daerah memfasilitasi generasi muda agar memiliki kemampuan literasi sekaligus mengenal budaya lokal.

“Ajang ini adalah cara kami memfasilitasi anak-anak Banyuwangi agar tidak hanya cakap dalam literasi pada umumnya, namun juga bisa mengangkat budaya lokal, yakni Bahasa Oseng,” ujar Ipuk.

Menurut dia, kemampuan menggunakan bahasa daerah tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang tertinggal di tengah perkembangan zaman.

Justru sebaliknya, bahasa lokal merupakan bagian dari identitas yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, keterlibatan ratusan pelajar dalam Festival Literasi Using menjadi penting. Anak-anak tidak hanya mendengar atau mempelajari Bahasa Oseng di ruang kelas, tetapi juga menggunakannya dalam pertunjukan dan kompetisi.

Panggung festival pun menjadi ruang untuk mempertemukan literasi dengan budaya.

Ketika Anak Muda Mulai Bangga

Ipuk berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap budaya lokal, termasuk Bahasa Oseng.

Baginya, keberlangsungan bahasa daerah sangat bergantung pada kemauan generasi muda untuk menggunakannya.

Jika anak-anak Banyuwangi bangga menggunakan Bahasa Oseng dan terus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, bahasa tersebut diyakini akan tetap bertahan sebagai identitas budaya daerah.

“Dengan anak-anak mudanya bangga serta konsisten menggunakan Bahasa Oseng, kami optimistis bahasa yang menjadi identitas budaya Banyuwangi itu akan terus lestari,” ungkapnya.

Banyuwangi sendiri memiliki keberagaman suku, budaya, dan adat istiadat. Keragaman tersebut menjadi kekayaan daerah yang harus dirawat bersama.

Namun, di tengah keberagaman itu, identitas lokal tetap memiliki tempat penting.

“Mudah-mudahan di tengah keberagaman budaya yang ada di Banyuwangi, Bahasa Oseng tetap menjadi bahasa yang dipertahankan sebagai kekuatan lokal kita semuanya,” tegas Ipuk.

Menjaga Bahasa, Merawat Identitas

Festival Literasi Using menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui seremoni besar. Membiasakan anak-anak membaca, berbicara, bernyanyi, bersastra, dan tampil menggunakan bahasa daerah juga menjadi cara sederhana untuk menjaga warisan budaya.

Sebab, bahasa akan tetap hidup ketika penuturnya terus menggunakannya.

Di tengah arus budaya populer dan perubahan cara berkomunikasi generasi muda, tantangan pelestarian Bahasa Oseng bukan hanya soal mengenalkan kosakata. Lebih dari itu, bagaimana membuat generasi muda merasa memiliki dan bangga terhadap bahasa daerahnya sendiri.

Dari panggung Creative Space Taman Blambangan, pesan itu kembali ditegaskan: perkembangan zaman boleh melaju, tetapi akar budaya Banyuwangi tidak boleh ikut tercerabut. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
budaya banyuwangi literasi Using Festival LIterasi pelajar banyuwangi bahasa oseng